Oleh: Alwi Alatas

 

Tahun 2006 lalu berakhir nyaris bertepatan dengan salah satu momen penting dalam peribadatan kaum Muslimin, yaitu ibadah haji. Dua tahun lagi, yaitu pada akhir tahun 2008, pergantian tahun masehi (solar calendar) juga akan nyaris berhimpitan dengan pergantian tahun Islam/ hijriah (lunar calendar). Kini, seperempat abad lebih sudah berlalu sejak kaum Muslimin memasuki abad hijriah yang baru, yaitu abad kelima belas hijriah, yang jatuh kurang lebih bertepatan dengan tahun 1980 masehi (atau lebih tepatnya pada bulan November 1979).

 

Kehadiran abad kelima belas hijriah ketika itu telah dijadikan momentum kebangkitan kembali umat Islam oleh sebagian ulama dunia. Abad lima belas hijriah pun dicanangkan sebagai abad kebangkitan Islam. Selama beberapa tahun lamanya, gaung kebangkitan terdengar keras di dunia Islam. Optimisme merasuk ke sepenjuru belahan masyarakat Muslim. Namun, setelah berlalu seperempat abad, optimisme itu tak lagi terdengar dibicarakan, seolah tenggelam dan tergilas oleh himpitan fakta-fakta pedih yang bertubi-tubi menghantui kaum Muslimin pada hari ini. Mengapa semangat kebangkitan Islam yang lebih dari dua puluh tahun lalu begitu terdengar menggelora kini menjadi senyap dan mati suri?

 

Isu kebangkitan Islam yang dimunculkan pada tahun 1980-an bisa dipahami dalam dua konteks, yang pertama bersifat ideal dan yang kedua mengacu pada realitas temporal yang berkembang pada saat itu. Yang pertama, harapan ini berangkat dari refleksi dan analisa sebagian sejarawan yang melihat peralihan kepemimpinan peradaban dunia setiap kurang lebih tujuh abad sekali. Entah seberapa kuat perhitungan ini bisa digunakan sebagai pembenar dari harapan di atas, tapi angka tujuh itu sendiri tampaknya merupakan angka yang bisa diterima dan setidaknya mengacu pada fakta-fakta historis tertentu. Peradaban Islam sendiri muncul dan berkembang selama tujuh abad pertama hijriah untuk kemudian mengalami kemunduran secara gradual, juga kurang lebih selama tujuh abad. Dengan demikian, pada tahun 1400 hijriah, kaum Muslimin telah menggenapi dua siklus sejarahnya. Konsekuensinya, abad berikutnya tentu merupakan awal dari siklus baru peradaban mereka, yaitu kebangkitan kembali peradaban kaum Muslimin.

 

Yang kedua terkait dengan perkembangan dunia Islam pada masa itu. Sebagaimana yang dijelaskan Akbar S. Ahmed dalam bukunya Postmodernism and Islam, dunia Islam pada tahun 1970-an – yaitu menjelang tahun 1980 – memang penuh dengan peristiwa optimistis bagi kaum Muslimin. Pada tahun 1973 terjadi Perang Arab-Israel (Perang Ramadhan) yang secara umum dimenangkan oleh kaum Muslimin, walaupun perang akhirnya dihentikan lewat gencatan senjata. Setelah perang tersebut, Raja Saudi Arabia, Faishal, segera melakukan blokade minyak terhadap Israel dan Amerika yang sangat memukul kekuatan Zionis tersebut. Perusahaan minyak Aramco dinasionalisasi oleh Faishal pada tahun berikutnya. Jenderal Zia ul-Haq melakukan kudeta di Pakistan pada tahun 1977. Ia kemudian berusaha melakukan proses Islamisasi di negeri tersebut.

 

Pada tahun 1979 terjadi dua peristiwa penting lainnya. Yang pertama adalah invasi Uni Soviet ke Afghanistan. Hal ini dipandang oleh sebagian kaum Muslimin sebagai pintu jihad menghadapi komunisme. Peristiwa kedua adalah Revolusi Iran yang dipimpin oleh Khomeini. Revolusi ini tidak hanya memberi dampak kepada komunitas syiah, tetapi juga kepada masyarakat Sunni secara umum, setidaknya pada tataran psikologis.

 

Tahun 1970-an juga bisa dipandang sebagai bangkitnya kembali wacana keilmuwan Islam. Gagasan islamisasi pengetahuan, antara lain dipelopori oleh Ismail R. Al-Faruqi dan M. Naquib al-Attas, mulai dicetuskan pada masa-masa ini dan terus bergulir semakin kuat pada masa-masa berikutnya. Semua ini tentu saja memberikan rasa optimisme yang cukup besar bagi kaum Muslimin. Agaknya para ulama pada masa itu tidak ingin kehilangan momentum yang sangat baik tersebut. Maka ide kebangkitan kembali kaum Muslimin pun dikampanyekan dengan cukup gencar dan disambut oleh dunia Islam dengan semangat yang menggelora. Kalaupun tidak semua kalangan menerimanya, setidaknya banyak kaum Muslimin yang mengamini dan melihatnya dengan pandangan positif.

 Image

Seolah tidak cukup sampai di sana. Beberapa ulama bahkan menyatakan rasa optimismenya bahwa kebangkitan baru dunia Islam abad kelima belas hijriah ini akan dimulai dari belahan timur dunia Islam. Indonesia, disebut-sebut sebagai calon kuat untuk tampil kemuka memulai kebangkitan kembali ini. Entah apa yang menjadi alasan utama dibalik prediksi tersebut. Apakah karena Indonesia memiliki jumlah umat Islam terbesar di dunia (kendati kualitasnya masih jauh dari yang bisa diandalkan)? Atau jangan-jangan prediksi itu hanya sebuah upaya dari beberapa ulama untuk semata-mata membangkitkan semangat kaum Muslimin di negeri ini? Entahlah. Tapi yang jelas, pada dekade pertama ketika gerakan kebangkitan kembali tersebut di-launching, semangat kebangkitan itu memang terasa di banyak belahan dunia Islam.

 

Di tanah air sendiri, tahun 1980-an memperlihatkan tanda-tanda kebangkitan yang sangat kentara. Perjuangan siswi-siswi Muslimah di sekolah-sekolah negeri untuk mengenakan busana Muslimah di sekolah berjalan penuh tantangan dan benturan keras sebelum akhirnya mereka berhasil mendapatkan ijin tersebut di tahun 1991. Itu merupakan salah satu contoh gejala kebangkitan di skala mikro. Di tingkat nasional sendiri, tahun 1980-an menandai puncak ketegangan antara kaum Muslimin dengan pemerintahan Orde Baru. Memuncaknya konflik tersebut pada saat yang bersamaan juga membawa pada suatu titik balik yang bernilai positif, yaitu semakin berpihaknya Orde Baru kepada kaum Muslimin. Pada awal tahun 1990-an, tidak seperti masa-masa sebelumnya, kebijakan pemerintah Indonesia sudah banyak mengakomodasi kepentingan kaum Muslimin. Kendati situasi politik dan ekonomi di negeri ini mengalami destabilitas di penghujung dekade tersebut, berbagai perkembangan positif kaum Muslimin terus berlangsung sampai ke masa-masa sekarang ini

 

Terlepas dari semua perkembangan yang dibahas di atas, gaung abad kelima belas hijriah sebagai abad kebangkitan kaum Muslimin sekarang ini nyaris tidak terdengar lagi. Barangkali hal tersebut bisa dimaklumi, mengingat potret global kaum Muslimin pada masa sekarang ini tidak bisa dipersamakan dengan situasi yang mereka alami pada tahun 1970-an dan 1980-an.

 

Kendati pada tataran masyarakat semangat kebangkitan Islam masih bisa dibaca dan diobservasi dengan cukup jelas, dunia Islam kini tidak memiliki pemimpin politik yang bisa dibandingkan dengan Raja Faishal ataupun Zia ul-Haq, apalagi lebih dari itu. Satu-satunya pengecualian barangkali pada dunia politik Syiah yang masih memiliki tokoh-tokoh yang berani bersuara lantang, seperti Ahmadinejad misalnya. Namun, itu saja masih jauh dari memadai. Dunia Islam kini mengalami perpecahan yang sangat serius. Sumber-sumber daya serta aset-aset yang menyangkut hajat hidup orang banyak di negeri-negeri mereka dikuasai oleh asing. Perpolitikan mereka dipecah belah dan pemerintah mereka didikte untuk tunduk pada kemauan pihak yang paling kuat di dunia sekarang ini. Bahkan kini beberapa negeri Muslim mulai diinvasi atas nama demokrasi.

 

Situasi dunia sekarang ini menjadi jauh lebih kacau ketimbang pada masa Perang Dingin. Setelah runtuhnya Uni Soviet serta hilangnya keseimbangan politik internasional, umat Islam kini justru dibidik menjadi lawan peradaban Barat, kendati mereka sama sekali belum siap untuk menghadapi tantangan tersebut. Namun, apa hendak dikata, siap atau tidak siap, tantangan yang sangat luar biasa ini mau tidak mau harus dihadapi oleh kaum Muslimin.

 

Tampaknya, keinginan untuk mengangkat kembali ide kebangkitan dunia Islam merupakan sesuatu yang akan terdengar menggelikan sekarang ini. Gagasan ini kini terlihat seperti sesuatu yang utopis dan mengada-ada. Bagaimana mungkin kaum Muslimin akan mampu keluar sebagai pemenang peradaban, sementara kelemahan internal mereka sendiri masih begitu kentara. Mereka bahkan tidak mampu untuk menyepakati tujuan serta langkah-langkah mereka bersama. Malah, tak henti-hentinya mereka berkelahi satu sama lain. Lantas bagaimana dengan Indonesia? Apakah kaum Muslimin di negeri ini mampu untuk memenuhi ramalan para ulama seperampat abad yang lalu? Penulis sendiri ragu. Kendati semangat Islam masih berkobar kuat, agaknya kaum Muslimin Indonesia belum memiliki mentalitas peradaban yang kokoh untuk bisa muncul ke depan. Karakter kita sebagai sebuah komunitas yang mampu menegakkan pondasi peradaban tampaknya masih harus terus diperkuat lagi.

 

Kalaupun ada hal yang bisa dijadikan titik tolak optimisme kaum Muslimin, maka itu adalah teori challange and response yang dikembangkan oleh Arnold Toynbee. Tak bisa dipungkiri, sekarang ini kaum Muslimin merupakan komunitas yang mendapatkan challange (tantangan) peradaban paling besar dibandingkan komunitas dan bangsa-bangsa lainnya. Sedemikian besarnya tantangan tersebut sampai-sampai tiada hari tanpa adanya berita yang menimbulkan kesedihan kaum Muslimin. Konflik di Palestina yang tak kunjung selesai, ketegangan baru yang berkembang di Irak, perang regional antara Somalia yang baru mengembangkan sistem hukum syariah dengan negara tetangganya, Ethiopia, hingga musibah yang nyaris tak kunjung berhenti di Indonesia. Semua itu merupakan challange yang rasa-rasanya terlalu besar untuk ditanggung oleh kaum Muslimin. Tapi toh mereka masih bisa bertahan, dan mungkin mampu untuk lebih dari sekedar bertahan di masa-masa yang akan datang.

 

Ketika kaum Muslimin sedang berada di puncak kejayaan pada abad kelima belas masehi (kurang lebih bersamaan dengan abad kesembilan hijriah), Eropa juga menjadi pihak yang paling merasakan tekanan luar biasa. Pada pertengahan abad tersebut, ibu kota mereka, Konstantinopel, jatuh ke tangan Turki Utsmani. Wilayah Eropa Timur menerima tekanan militer yang sangat kuat dari pihak Turki Utsmani. Jalur ekonomi satu-satunya yang masih menghubungkan antara mereka dengan dunia Timur yang eksotik tertutup sudah dengan jatuhnya Konstantinopel. Tapi tantangan yang luar biasa itu justru mampu mendorong mereka untuk melakukan upaya yang kreatif dengan mencari jalur laut menuju Asia, dan mereka berhasil dalam hal tersebut. Pada masa itu, agama mereka juga terpecah antara Kristen Orthodoks dan Katholik. Kristen Orthodoks sendiri menjadi kehilangan supremasinya sejak jatuhnya Konstantinopel. Namun, sebagian kalangan Kristen ternyata bisa melakukan pembaruan yang pada gilirannya mampu mendorong lahirnya peradaban Barat modern. Dunia politik mereka juga terpecah-pecah, tapi mereka terus berusaha untuk menyatukan langkah untuk keluar dari persoalan yang ada.

 

Semua fakta dan opini di atas barangkali bisa menjadi titik tolak bagi kaum Muslimin untuk terus bekerja. Kini tantangan sudah menghadang dari berbagai penjuru, tinggal bagaimana kaum Muslimin merespon semua tantangan itu dengan tegar dan cerdas. Tak perlu menggaungkan kembali isu kebangkitan kembali umat Islam di abad kelima belas hijriah. Terus saja bekerja untuk menyongsong kebangkitan tersebut. Tantangan yang bertubi-tubi toh sebenarnya sedang menghalau kaum Muslimin ke arah kebangkitan, asalkan mereka mau menyikapi tantangan tersebut dengan optimisme dan amal nyata.

22 Januari 2007