Pemikiran dan Peradaban

Smile! You’re at the best WordPress.com site ever

Pendidikan Remaja dari Sudut Pandang Psikologi Islami

Pendidikan Remaja dari Sudut Pandang Psikologi Islami Jun 9, ’15 2:37 AM
for everyone

Alwi Alatas, S.S., M.HSc.

Keterangan:

Artikel ini memenangkan Islamic Psychology Essay Competition (juara 1 untuk kategori umum) yang diselenggarakan oleh Fakultas Psikologi Universitas Indonesia pada tahun 2006.

Pendahuluan

      Bila kita berbicara tentang pendidikan remaja menurut sudut pandang Psikologi Islam, kita harus bertanya terlebih dahulu seperti apa seharusnya Psikologi Islam memandang remaja dan manusia secara umum? Apakah Psikologi Islam seharusnya melihat manusia lebih sebagai suatu produk kebudayaan yang tunduk sepenuhnya pada perubahan-perubahan sosial? Atau ia seharusnya lebih melihat manusia dari aspek fitrah insaniah yang dengannya ia diciptakan? Apakah fase-fase perkembangan manusia, termasuk fase remaja, harus sepenuhnya tunduk pada kehendak kultural masyarakat yang selalu berubah dari waktu ke waktu? Ataukah ia seharusnya lebih memperhatikan hal-hal yang bersifat natural dalam tahap-tahap pertumbuhannya?

      Adalah benar jika dikatakan bahwa manusia merupakan makhluk budaya dan tak mungkin dipisahkan dari perkembangan budayanya. Kendati demikian, manusia juga memiliki sifat-sifat natural (fitrah) yang tak boleh diabaikan, demi terjaganya kesehatan psikologis manusia itu sendiri. Psikologi Islam berkepentingan untuk mempelajari hal-hal yang fitrah ini untuk kemudian mengawalnya dalam fase-fase pertumbuhan manusia.

      Al-Qur’an mengingatkan, “… (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”[1] Perubahan yang serius pada fitrah manusia tentu akan menimbulkan problem-problem serius juga di tingkat psikologis dan sosial. Tulisan berikut ini akan berusaha untuk membedah persoalan dan pendidikan remaja dari sudut pandang ini.

 

Remaja Modern dan Akar Permasalahannya

      Menggagas pendidikan remaja idealnya tetap mengacu pada kondisi remaja kontemporer, sehingga solusi yang ditawarkan tidak tercerabut dari realitas yang ada. Selain itu, kita juga mencari jawaban atas beberapa pertanyaan mendasar seperti berikut: Siapa sesungguhnya kelompok usia yang disebut remaja itu? Apa karakteristiknya? Dan bagaimana situasi yang mereka hadapi pada hari ini, baik secara psikologis maupun sosial?

      Tidak ada definisi serta batasan usia yang baku untuk kelompok usia yang biasa disebut remaja. Namun secara umum, remaja biasanya dianggap sebagai kelompok usia peralihan antara anak-anak dan dewasa, kurang lebih antara usia 12 dan 20 tahun.[2] Hilgard menjelaskan bahwa setidaknya ada tiga aspek penting yang menandai masa remaja: 1) Terjadinya perubahan fisik (berkembangnya hormon dan organ-organ seksual), 2) Adanya pencarian dan pemantapan identitas diri, dan 3) Adanya persiapan menghadapi tugas dan tanggung jawab sebagai manusia yang mandiri.[3]

      Fase usia remaja sering dianggap sebagai fase yang sangat tidak stabil dalam tahap perkembangan manusia. G.S. Hall menyebutnya sebagai strum und drang ‘masa topan badai,’[4] sementara James E. Gardner menyebutnya sebagai masa turbulence (masa penuh gejolak). Penilaian ini tentu berangkat dari realitas psikologis dan sosial remaja.

      Sebenarnya, sejauh manakah gejolak yang dialami oleh remaja pada hari ini? Jika persoalan-persoalan remaja di dalam dan di luar negeri dihimpun sebanyak-banyaknya, tentu data-data itu akan mengejutkan orang yang mengamatinya. Sementara, secara kualitatif dan kuantitatif, persoalan-persoalan remaja tadi tampaknya terus meningkat dari hari ke hari.

      Remaja-remaja sekarang ini semakin akrab dengan persoalan seks, kekerasan, obat-obatan, dan problem psikologis. Perilaku seks remaja modern semakin bebas dan permisif. Riset Majalah Gatra beberapa tahun lalu memperlihatkan bahwa 22 % remaja menganggap wajar cium bibir, dan 1,3 % menganggap wajar hubungan senggama. Angka ini memang relatif kecil, tetapi penelitian-penelitian lain menunjukkan angka yang lebih tinggi. Sebagai contoh, 10 % dari 600 pelajar SMU yang disurvey di Jawa Tengah mengaku sudah pernah melakukan hubungan intim.[5] Malah penelitian-penelitian sebelumnya juga memperlihatkan angka yang sudah cukup tinggi.[6]

      Beberapa remaja di Semarang pernah tertangkap basah oleh aparat dan warga karena melakukan pesta seks dan mabuk-mabukan, sementara yang lainnya di Ujung Pandang meninggal dunia di mobil setelah melakukan hal yang sama. Banyak dari mereka melakukan itu semua bukan karena adanya desakan ekonomi, melainkan untuk mencari kepuasan semata.[7] Perilaku seks remaja-remaja di pedesaan ternyata juga tidak terlalu jauh berbeda dengan perilaku rekan-rekan mereka di perkotaan.

      Contoh-contoh statistik serta kasus di atas tentu tidak sebesar dan seserius yang terjadi di Eropa dan Amerika Serikat (lihat Lampiran 1), tapi ada indikasi bahwa kebebasan seksual semakin gencar masuk ke tanah air bersama dengan tersebarnya budaya global. Media massa dan elektronik yang banyak mengandung unsur seks dan kekerasan, begitu pula komik-komik porno, begitu mudah diakses oleh kalangan remaja dewasa ini. Kini, anak-anak kelas 4 hingga 6 SD sudah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sangat dewasa tentang seks, seperti ”Apakah sex swalayan itu?” dan ”Bagaimana cara melakukan seks?”[8] Sementara, beberapa remaja puteri usia SMU merasa tak segan difoto payudara, atau malah tubuh telanjangnya, dengan handphone, semata-mata karena bangga dengan keindahan tubuhnya sendiri.[9]

      Angka kekerasan serta konsumsi rokok dan obat-obatan terlarang juga cukup tinggi di kalangan remaja Indonesia. Data tentang tawuran di Jakarta pada paruh pertama tahun 1999, sebagaimana diberitakan oleh Media Indonesia, memperlihatkan bahwa rata-rata dua anak tewas setiap bulannya karena perkelahian antar pelajar. Pada tahun yang sama, sebuah penelitian tentang narkoba menunjukkan bahwa paling tidak 60-80% murid SMP di seantero Yogya pernah mencicipi narkotika, sementara di wilayah-wilayah pemukiman setidaknya 10 anak baru gede (ABG) di tiap RT pernah merasakan narkotika.[10] Angka ini juga cukup tinggi di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Bahkan narkotika dalam bentuk permen pernah beredar di Jakarta Timur dengan target konsumen anak-anak SD.[11]

      Di beberapa negara asing, seperti di Amerika Serikat dan Hongkong, tingkat kerentanan psikologis anak-anak remaja sangat tinggi. Majalah News Week pernah mengangkat seriusnya persoalan remaja di Amerika pasca penembakan yang menimbulkan kematian lebih dari sepuluh anak di sekolah Columbine.[12] Salah satu survey yang diangkat oleh majalah itu menyebutkan bahwa satu dari empat remaja di Amerika Serikat berpikiran bunuh diri.[13] Survey American Academy of Pediatrics belum lama ini malah menunjukkan bahwa 60% pelajar menyatakan bahwa mereka pernah berpikiran untuk bunuh diri, dan 9% di antaranya pernah mencobanya paling tidak satu kali.[14] Sementara itu di Hong Kong, satu dari tiga remajanya berpikiran untuk bunuh diri.[15]

      Di Indonesia, persoalannya tentu tidak seserius itu. Namun, sejak pertengahan tahun 2003 hingga April 2005 setidaknya ada 30 kasus upaya bunuh diri yang dilakukan oleh remaja di tanah air.[16] Tidak semua anak yang berupaya bunuh diri itu mengalami kematian. Sebagian berhasil diselamatkan dan tetap bertahan hidup. Namun, hampir semuanya melakukan upaya bunuh diri untuk alasan-alasan yang remeh dan tak masuk akal, seperti ”rebutan mie instan dengan adik,” ”rebutan remote untuk nonton AFI di TV,” ”ngambek minta dibelikan buku gambar,” atau karena ”kecewa tidak dibelikan TV.” Fenomena ini tampaknya belum mengemuka pada dekade-dekade sebelumnya. Ini semua menggambarkan adanya kerentanan yang cukup serius pada kondisi psikologis remaja-remaja Indonesia, khususnya pada tahun-tahun belakangan ini.

      Remaja modern telah menjadi suatu kelompok usia terpisah yang membedakan diri dari kelompok usia anak-anak dan dewasa. Gejolak psikologis yang mereka alami terekspresikan keluar dalam berbagai bentuk dekadensi seperti yang telah dipaparkan sebelumnya. Mereka jadi sulit diatur dan sering bentrok dengan orang tua. Guru dan pihak sekolah pun kesulitan untuk mengontrol mereka. Remaja-remaja ini berkumpul dengan teman-teman seusia mereka dan menciptakan budaya teman sebaya (peer culture). Mereka merasa lebih dekat dengan teman-teman seusia mereka yang memiliki karakteristik sama dengan mereka. Mereka juga kurang mau mendengar dari orang-orang dewasa yang semakin jarang berinteraksi dengan mereka[17] dan tidak selalu memahami gejolak perasaan mereka. Kondisi mereka yang labil seringkali mendorong terjadinya tekanan teman sebaya (peer pressure) yang cenderung menjatuhkan mereka ke berbagai hal yang negatif, seperti rokok, narkotika, kekerasan, dan seks bebas.

Image

      Orang-orang dewasa di sekitar mereka, termasuk orang tua dan guru, mungkin bingung bagaimana seharusnya menyikapi anak-anak remaja. Mau disikapi sebagai orang dewasa, mereka ternyata belum terlalu matang dan masih banyak membutuhkan bimbingan. Mau disikapi sebagai anak kecil, lebih tidak mungkin lagi mengingat perkembangan fisik mereka yang mulai menunjukkan ciri-ciri orang dewasa.[18] Akibatnya, kelompok usia remaja menjadi semakin terasing dari dunia orang dewasa yang idealnya bisa membimbing mereka menuju kematangan dan kemandirian pribadi.

      Bagaimanakah fenomena-fenomena ini seharusnya dijelaskan? Apakah semua itu merupakan hal yang normal terjadi pada remaja? Apakah berbagai problematika psikologis dan sosial remaja modern juga dialami oleh rekan-rekan seusia mereka di masa lalu? Ataukah ini hanya menjadi ciri khas dari remaja-remaja modern? Kita akan mencoba mengurai persoalan-persoalan ini satu demi satu, sebelum menggagas solusi pendidikan terbaik bagi anak-anak remaja.

      Ketika memasuki usia remaja (puber), setiap anak mengalami perubahan yang sangat signifikan pada fisiknya, terutama yang terkait dengan organ-organ seksualnya. Perubahan-perubahan tersebut menimbulkan kecanggungan pada diri remaja karena ia harus menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan tadi. Penyesuaian ini tidak selalu bisa mereka lewati dengan baik, lebih-lebih bila tidak ada bimbingan dan dukungan dari orang tua.[19]

      Bersamaan dengan terjadinya perubahan fisik menuju kedewasaan, perubahan yang bersifat psikologis juga dialami oleh remaja. Pada diri mereka mulai muncul perasaan akan identitas diri. Jika pada waktu kanak-kanak mereka tidak pernah berpikir tentang jati diri mereka sendiri, maka pada masa remaja pertanyaan-pertanyaan seperti “siapa diri saya?” dan “apa tujuan hidup saya?”[20] menjadi persoalan yang sangat penting. Ini sebetulnya pertanyaan yang wajar bagi setiap orang yang memasuki usia dewasa, karena pada masa ini mereka sudah harus mulai mandiri, termasuk dalam hal identitas atau jati diri. Persoalannya menjadi serius ketika pertanyaan-pertanyaan ini tidak bisa dijawab dengan baik dan terus berlarut-larut menggelayuti pikiran mereka.

      Berkenaan dengan persoalan jati diri ini, Jane Kroger mengatakan bahwa “Remaja agaknya merupakan suatu saat … ketika seseorang dihadapkan dengan persoalan definisi diri.”[21] Sementara Kathleen White dan Joseph Speisman dalam buku mereka, Remaja, menjelaskan bahwa remaja cenderung, “bergelut dengan isu mengenai siapa dirinya dan ke mana tujuannya.” Begitu seriusnya mereka dengan persoalan ini sehingga “barangkali hanyalah pada masa remaja saja individu dapat menjadi ahli filsafat moral yang tersendiri.”[22]

      Sayangnya, hanya segelintir remaja yang mungkin benar-benar lulus sebagai ”ahli filsafat moral,” sementara sebagian besar lainnya justru semakin bingung dan tak peduli dengan apa pun yang ada di sekitarnya. Banyak yang gagal dalam menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang penting dan mendasar tadi.[23] Kegagalan dalam definisi diri membuat remaja mengalami ’kebingungan peran’ (role confusion)[24] saat mencari model peran yang akan diikuti.

      Model peran orang tua yang sebelumnya mereka idealkan semasa kecil kini mulai ingin mereka jauhi, terutama jika orang tua bermasalah.[25] Remaja mulai melirik model-model peran dan identitas yang ada di luar keluarganya. Namun, mereka seringkali mengalami kebingungan karena ada begitu banyak pilihan peran dan nilai-nilai yang saling bertentangan satu sama lain, sementara mereka tidak memperoleh bimbingan yang mantap bagaimana seharusnya menentukan pilihan yang terbaik bagi diri mereka sendiri. Semua itu membawa remaja kepada kondisi yang sangat labil, rentan, dan mudah terpengaruh oleh lingkungannya. Pada gilirannya, tidak sedikit remaja yang akhirnya terjerumus dalam berbagai persoalan serius sebagaimana yang telah disinggung pada bagian awal dari tulisan ini.

      Situasi ini menjadi semakin buruk, karena kaum kapitalis, khususnya para pengusaha bisnis hiburan, berusaha mengambil keuntungan dari kondisi remaja yang labil. Pencarian jati diri remaja dilihat oleh mereka sebagai ”permintaan” (demand) dan peluang bisnis. Mereka pun kemudian memberikan ”penawaran” (supply) berupa artis dan selebritis yang menampilkan identitas semu (pseudo-identity). Remaja tak sekedar mengapresiasi para selebritis karena film atau lagu mereka yang menarik, tapi juga karena para selebritis itu menampilkan model-model identitas yang bisa mereka tiru dan ikuti.[26] Hanya saja, peniruan yang mereka lakukan ini tidak menyelesaikan problem dan gejolak pada diri mereka, malah semakin melipatgandakannya.

      Semua ini berputar dalam suatu siklus. Kaum kapitalis menciptakan industri hiburan yang menghadirkan artis dan selebritis. Para selebritis menampilkan identitas semu yang diapresiasi oleh anak-anak remaja sebagai upaya pemenuhan atas pencarian jati diri mereka. Kaum remaja, atau orang tua mereka, mengeluarkan uang untuk mengkonsumsi hiburan dan mengapresiasi artis-artis, dan uang itu masuk ke kantong kapitalis. Siklus itu terus berputar. Dan sebagai dampaknya, kaum kapitalis mengalami akumulasi modal, sementara remaja mengalami akumulasi krisis (Lihat bagan 1).

Image

      Sejauh ini, data-data memperlihatkan bahwa masa usia remaja identik dengan krisis, sifat labil, serta terjadinya gejolak psikologis dan sosial yang bersifat destruktif. Dengan kata lain, kelabilan dan gejolak (turbulence) lekat dengan fase usia remaja yang merupakan peralihan antara anak-anak dan dewasa. Pendidikan remaja seharusnya mampu memberikan solusi terbaik dalam meredam keadaan labil dan penuh gejolak tadi, serta memberikan pemecahan bagi mereka untuk keluar dari lingkaran krisis yang mereka alami. Oleh karenanya, dalam rangka merumuskan solusi tadi, Psikologi Islam perlu mengevaluasi kembali posisi remaja sebagai suatu kelompok usia berikut ciri-cirinya, dikaitkan dengan sifat-sifat manusiawi dan alamiah yang seharusnya ada pada diri manusia di setiap fase usianya.

      Kajian yang kritis atas fase usia remaja memperlihatkan bahwa kelompok usia ini berikut ciri-cirinya, sebagaimana yang dipahami oleh masyarakat modern, tidaklah bersifat natural. Artinya, pola pertumbuhan manusia yang alamiah sebenarnya tidak membuka peluang bagi terbentuknya kelompok usia remaja seperti yang kita pahami sekarang. Adanya fase usia remaja pada jaman modern ini sebetulnya bersumber dari penundaan kedewasaan yang dipaksakan oleh masyarakat.

      Bekenaan dengan ini Tanner mengajukan pertanyaan, ”Apakah ketegangan dan kecemasan pada masa akil baligh itu ditimbulkan oleh alam atau dipaksakan oleh masyarakat?” Ia kemudian menjawab sendiri pertanyaan tadi, ”Jawabannya tampaknya adalah bahwa ketegangan dan kecemasan tadi dipaksakan oleh masyarakat dalam negara yang sudah maju, sebab jadwal waktu masyarakat tampaknya tidaklah sinkron dengan jadwal waktu pertumbuhan alamiah manusia.”[27] Jadi, tampak jelas di sini bahwa gejolak masa remaja terjadi karena masyarakat pada negara yang sudah maju telah mengubah jadwal waktu pertumbuhan manusia sesuai dengan kepentingannya, sehingga bertentangan dengan jadwal alamiah yang dimiliki remaja tadi. Dengan kata lain, sifat labil serta gejolak masa remaja merupakan suatu produk kultural, dan tidak bersumber pada sifat-sifat natural manusia.

            Secara alamiah setiap anak seharusnya sudah menjadi dewasa pada saat baligh, atau tak lama setelah baligh, tapi masyarakat modern mempunyai jadwal yang berbeda mengenai kapan seharusnya seorang anak menjadi dewasa. Masyarakat kemudian memaksakan pemunduran jadwal kedewasaan anak sedemikian rupa – karena mereka harus melewati masa pendidikan formal yang panjang serta dikarenakan beberapa faktor lainnya – sementara pada saat yang sama jadwal alamiahnya pun tetap berjalan sebagaimana biasa. Jadi, bukannya menyesuaikan diri dengan jadwal alamiah, masyarakat modern memilih untuk memaksakan jadwal baru yang mereka anggap baik. Hal inilah yang kemudian menjadi pemicu gejolak pada remaja modern sebagaimana akan dijelaskan lebih jauh nantinya.

      Tanner melanjutkan penjelasannya, ”Pada masyarakat primitif, tahun-tahun masa kanak-kanak memberikan segala waktu belajar yang diperlukan orang agar dapat menyesuaikan diri dengan kebudayaannya. Akibatnya, kedewasaan seksual dan kedewasaan sosial dicapai hampir bersamaan. Selang waktu antaranya paling lama hanyalah dua atau tiga tahun saja.”[28] Sejarah membuktikan bahwa pada masa-masa yang lalu, remaja seperti yang kita pahami sekarang sama sekali tidak ada.[29]

      Sarlito Wirawan Sarwono, dalam bukunya Psikologi Remaja, juga menyatakan hal senada. Konsep remaja tidak dikenal pada masa-masa yang lalu. Beliau mengatakan,

 

“Walaupun konsep tentang anak sudah dikenal sejak abad ke-13, tetapi konsep tentang remaja sendiri baru dikenal secara meluas dan mendalam pada awal abad ke-20 ini saja dan berkembang sesuai dengan kondisi kebudayaan misalnya karena adanya pendidikan formal yang berkepanjangan, karena adanya kehidupan kota besar, terbentuknya ‘keluarga-keluarga’ batih sebagai pengganti keluarga-keluarga besar ….”[30]

 

      Jadi, perkembangan kebudayaan telah menunda kedewasaan anak dan menciptakan realitas kelompok usia yang baru, yaitu remaja, yang merupakan peralihan antara kelompok usia anak-anak dan dewasa. Pengamatan atas realitas baru ini kemudian melahirkan konsep tentang remaja sebagaimana yang dipahami masyarakat sekarang ini. Hanya saja, realitas baru yang dibentuk oleh kebudayaan modern ini rupanya juga ikut menyebabkan munculnya berbagai persoalan serta krisis berkepanjangan pada anak usia belasan tahun. Seperti yang dikatakan Ahmad Faqih, kemajuan sains modern telah memberikan kontribusi terhadap munculnya diskrepansi dan dehumanisasi.[31]

      Pada masa lalu serta pada masyarakat primitif yang belum bersentuhan dengan kebudayaan modern, anak-anak memperoleh status kedewasaan mereka tidak lama setelah terjadinya puber. Anak-anak ini, dengan cara yang berbeda-beda, telah dipersiapkan secara psikologis dan sosial untuk memahami dan menerima kedewasaan mereka pada awal atau pertengahan usia belasan tahun mereka. Bahkan, masyarakat-masyarakat primitif pada umumnya memiliki upacara tersendiri untuk ’melantik’ anak-anak mereka sebagai orang dewasa. Dengan demikian, anak-anak itu mengetahui dan mengalami momen kedewasaan sosial mereka secara tegas, setegas momen kedewasaan biologis yang mereka rasakan di masa puber. Yang terpenting dari itu semua, remaja-remaja pada masyarakat primitif tidak mengalami gejolak serta krisis seperti yang dialami remaja-remaja modern.

      Ada beberapa bukti dari masyarakat primitif yang bisa dihadirkan di sini. Penelitian antropologis oleh Margaret Mead di kepulauan Samoa dan Papua memperlihatkan bahwa “anak laki-laki menjadi pria dewasa dan anak wanita menjadi wanita dewasa tanpa mengalami kecemasan dan kesukaran emosional yang di Amerika dianggap tak terhindarkan.”[32] Orang-orang Indian di benua Amerika serta suku-suku primitif di Afrika Selatan juga mempunyai upacara khusus untuk melantik anak-anak mereka menjadi orang dewasa.[33] Bahkan orang-orang Yahudi modern masih memelihara upacara Bar Mitzvah di sinagog-sinagog untuk mengangkat secara resmi anak-anak lelaki mereka yang berusia 13 tahun (12 tahun untuk anak-anak perempuan) menjadi orang dewasa.[34]

Image

      Tidak terjadinya gejolak emosi yang menonjol pada masyarakat primitif di atas adalah disebabkan oleh adanya pemberian status sosial yang jelas di usia dini – di masa-masa awal pubertas mereka – di samping adanya persiapan psikologis anak pada masa-masa sebelumnya. Sarlito Wirawan Sarwono juga menegaskan dalam bukunya bahwa remaja yang mendapat status sosial yang jelas di usia dini biasanya tidak mengalami gejolak yang menonjol. ”Pengalaman menunjukkan bahwa remaja yang telah mendapat status sosialnya yang jelas dalam usia dini, tidak menampakkan gejolak emosi yang terlalu menonjol seperti rekan-rekannya yang lain yang harus menjalani masa transisi dalam tempo yang cukup panjang,” tulisnya.[35]

      Berdasarkan semua pemaparan dan fakta-fakta di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kelabilan serta gejolak masa remaja yang berlebihan adalah realitas masyarakat modern yang merupakan dampak dari perubahan budaya. Gejolak dan krisis ini terjadi karena masyarakat serta kebudayaan pada hari ini telah memundurkan jadwal kedewasaan anak di luar dari jadwal alamiah yang dimilikinya. Pada saat puber (sekitar umur 12 tahun), anak mengalami kedewasaan biologis yang ditandai oleh mimpi basah (wet dreaming) dan berkembangnya organ-organ seksual. Dengan adanya kedewasaan biologis ini, remaja memiliki kemampuan biologis yang sama dengan orang-orang dewasa lainnya; ia dapat menikah dan mempunyai anak.

      Bersamaan dengan masuknya seseorang ke fase kedewasaan biologis, lewat pubertas, hasrat serta kebutuhan untuk menjadi dewasa secara psikologis dan sosial juga muncul. Dipisahkan dan ditundanya kedua jenis kedewasaan yang terakhir ini, yaitu kedewasaan psikologis dan sosial, dari kedewasaan biologis telah menyebabkan kebingungan, kegamangan, serta pada gilirannya gejolak dan krisis pada diri remaja (lihat Bagan 2).[36] Gejolak tersebut terjadi karena pemisahan serta penundaan tadi bertentangan dengan proses alamiah yang ada pada diri seseorang. Oleh karena itu, tugas utama Psikologi Islam adalah mencari jalan agar pertumbuhan remaja bisa kembali berlangsung secara sehat berdasarkan proses alamiahnya, tanpa harus meninggalkan fase kebudayaan modern dan kembali ke kebudayaan primitif. Dengan kata lain, Psikologi Islam perlu menarik dan merevitalisasi nilai-nilai lama yang lebih alamiah, positif, dan Islami untuk memberi solusi yang terbaik bagi pertumbuhan remaja di dunia modern.

 

Aspek-Aspek Pendidikan Remaja

      Berbagai persoalan remaja yang muncul terjadi karena ketegangan antara apa-apa yang natural (fitrah) pada diri manusia dengan paksaan budaya. Ia juga terjadi karena sistem pendidikan yang ada terlalu menekankan pada kepentingan negara dan pertumbuhan ekonomi, bukan demi kepentingan kesehatan pertumbuhan manusia itu sendiri.

      Perlu disadari bahwa tugas Psikologi Islam adalah agar manusia selalu lurus dengan fithrahnya.[37] Terkait dengan pendidikan, Syed Muhammad Naquib al-Attas menekankan bahwa tujuan pendidikan dari tingkat yang paling rendah hingga tingkat yang paling tinggi seharusnya tidak ditujukan untuk menghasilkan warga negara yang sempurna (complete citizen), tetapi untuk memunculkan manusia paripurna.[38] Para ahli pendidikan Muslim juga mempunyai pendapat yang senada. Dr. Ali Asraf menyatakan bahwa pendidikan seharusnya diarahkan untuk mengembangkan individu sepenuhnya.[39] Sementara Imam al-Ghazali berpendapat bahwa tujuan pendidikan adalah terwujudnya kesempurnaan manusia yang bisa mendekatkannya kepada Allah dan bisa membawa pada kebahagiaan di dunia dan di akhirat.[40]

      Upaya pembentukan manusia yang utuh dan paripurna (al-insan al-kamil) tidak mungkin dapat terwujud selama masih adanya kesenjangan yang serius dalam aspek-aspek kedewasaan remaja. Kesenjangan ini bertentangan dengan pola pertumbuhan natural manusia dan karenanya menimbulkan ketidaksehatan jiwa pada diri remaja. Ketidaksehatan jiwa ini pada gilirannya menyebabkan terjadinya ketidaksehatan sosial pada komunitas remaja dan lingkungannya. Prof. El-Quussy menyatakan bahwa ”pendidikan yang tidak menuju ke arah menciptakan kesehatan jiwa dianggap sebagai suatu perbuatan yang sia-sia, yang tidak ada gunanya.”[41]

      Oleh karenanya, salah satu tugas penting Psikologi Islam sekarang ini dalam pendidikan remaja adalah menghapuskan kesenjangan pada aspek kedewasaan remaja. Jadwal kedewasaan biologis tidak mungkin dimundurkan waktunya, karena terjadi secara alamiah. Oleh sebab itu, jadwal kedewasaan psikologis dan sosial-lah yang perlu kembali dimajukan waktunya agar berdekatan dengan jadwal kedewasaan biologis, sebagaimana yang selama ini dialami oleh remaja-remaja pada masyarakat primitif dan pada masyarakat di masa lalu. Dimajukannya jadwal waktu kedewasaan psikologis dan sosial lebih bersifat natural dan lebih menjamin kesehatan jiwa dalam fase pertumbuhan remaja.[42]

      Kedewasaan sosial anak remaja biasanya dicapai dengan adanya penerimaan sosial dari orang tua dan lingkungannya terhadap remaja sebagai orang yang sudah dewasa dan sejajar dengan orang-orang dewasa lainnya. Selain itu, kedewasaan sosial juga terwujud dengan adanya interaksi antara anak dengan orang-orang dewasa di sekitarnya secara sederajat dan dewasa. Dengan kata lain, anak remaja seharusnya disikapi sebagai orang dewasa dan dilibatkan dalam komunitas serta aktivitas positif[43] orang-orang dewasa. Sekiranya orang tua menyikapi dan melibatkan anak-anaknya secara dewasa, bahkan sebelum anak-anak itu menginjak masa baligh/ puber, maka anak-anak itu akan memiliki karakter dewasa yang sehat ketika ia memasuki masa remaja. Dalam situasi seperti itu, kecil kemungkinan anak akan mengalami gejolak yang serius dan berkepanjangan pada fase usia remaja. Hal demikian terjadi karena ia telah mendapatkan status sosial (status kedewasaan) yang jelas sejak dini.

      Adapun kedewasaan psikologis idealnya dibentuk sejak masa pra-pubertas lewat pendidikan yang bisa menumbuhkan karakter dan perilaku dewasa pada anak. Oleh karena itu, perlu diteliti aspek-aspek apa saja yang membedakan antara anak-anak dan orang dewasa. Kami sendiri berpandangan aspek-aspek dasar yang membedakan kedua kelompok usia meliputi empat hal, yaitu identitas diri, tujuan hidup (serta visi), pertimbangan dalam memilih, serta tanggung jawab.[44] Pendidikan remaja perlu memperhatikan tumbuh sehatnya keempat aspek ini dan memulainya sejak anak belum lagi menginjak usia remaja. Berikut ini akan dibahas keempat aspek tersebut satu demi satu.[45]

 

1. Identitas diri.

      Anak-anak pra-pubertas biasanya belum berpikir tentang identitas atau jati dirinya, karena mereka belum memiliki kemandirian, termasuk dalam persoalan identitas. Anak-anak mengidentifikasi dirinya dengan orang tuanya. Mungkin bisa dianggap bahwa identitas anak-anak pra-pubertas sama dengan identitas orang tuanya. Namun, ketika anak memasuki fase kedewasaan biologis (baligh/ puber), ia mulai merasakan adanya tuntutan untuk mandiri, termasuk dalam persoalan identitas. Apa yang sebelumnya belum terlintas di dalam pikiran, kini mulai menjadi hal yang serius. Pertanyaan seperti ”siapa saya sebenarnya?” dan ”apa tujuan hidup saya?” mulai menuntut jawaban-jawaban yang mandiri.

Image

      Pada titik ini, idealnya remaja sudah siap untuk menjadi mandiri dan dewasa. Seorang yang memiliki karakter dewasa tidak merasa bingung dengan identitas dirinya. Ia mengetahui dengan baik siapa dirinya dan apa yang menjadi tujuan hidupnya. Identitas pada diri orang dewasa tadi menjadi kokoh seiring dengan terbentuknya nilai-nilai (values) serta prinsip-prinsip yang mendukung.

      Dalam kaitannya dengan identitas, seseorang biasanya akan mengaitkan dirinya dengan salah satu dari hal berikut: agama atau ideologi, suku atau bangsa, serta profesi. Seorang santri misalnya, ia akan cenderung menyatakan ”Saya adalah seorang Muslim” saat ditanya tentang siapa dirinya. Adapun oang yang hidup dalam komunitas kesukuan yang kental akan lebih mengaitkan identitas dirinya dengan sukunya. Seseorang bisa saja memiliki lebih dari satu identitas pada saat yang bersamaan – misalnya sebagai Muslim, sebagai orang Jawa, dan sebagai pengusaha sekaligus – tetapi biasanya ada satu identitas yang lebih bersifat dominan dan menjadi identitas utama.

      Suatu identitas perlu dikokohkan oleh nilai-nilai (values) serta prinsip yang mendukungnya, sebab kalau tidak demikian, maka identitas tersebut hanya akan bersifat artifisial dan tidak konsisten. Sebagai contoh, misalnya seorang menyatakan bahwa identitas utamanya adalah Muslim, tetapi ia tidak memahami nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam serta banyak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan agamanya. Oleh karena itu, membangun identitas diri pada anak harus dilakukan dengan membangun nilai-nilai serta prinsip-prinsip yang menopang tegaknya identitas tersebut.

      Anak-anak perlu dibangun identitasnya sejak kecil, baik di rumah maupun di sekolah, sehingga ketika mereka memasuki usia baligh, mereka sudah memiliki identitas diri yang kokoh dan tak lagi mudah terombang-ambing dalam hidup. Psikologi Islam tentu merekomendasikan agama Islam sebagai identitas utama bagi setiap orang. Dan karena itu, nilai-nilai serta prinsip-prinsip utama Islam perlu dirumuskan dan ditanamkan secara bertahap pada anak. Jika proses penenaman dan pewarisan nilai ini berjalan dengan baik, maka anak tidak akan lagi mengalami krisis identitas saat memasuki usia belasan tahun.

 

2. Tujuan dan Visi dalam Hidup

      Adanya tujuan dan visi dalam hidup juga sangat membantu terbentuknya identitas diri dan kedewasaan pada diri seseorang. Anak-anak pra-pubertas biasanya belum berpikir tentang tujuan dan visi hidup. Mereka masih bergantung pada tujuan dan rencana-rencana orang tuanya. Orang yang memiliki karakter dewasa mengetahui dengan baik apa-apa yang menjadi tujuan dan cita-citanya, walaupun tidak semua orang yang berusia dewasa dapat dipastikan memiliki ciri-ciri ini. Tujuan dan visi juga terkait erat dengan identitas diri. Jika seseorang menjadikan agama sebagai identitas, maka cita-cita hidupnya juga tentu akan merujuk pada nilai-nilai agama. Jika ia menjadikan profesi dan pekerjaan sebagai identitas, maka cita-cita hidupnya juga tentu merujuk pada profesi dan pekerjaannya.

      Dalam konteks pendidikan kedewasaan remaja, idealnya seseorang telah diorientasikan untuk berpikir tentang tujuan dan cita-citanya sejak ia masih anak-anak dan belum memasuki masa puber. Bila tujuan hidup serta visi yang tinggi ditanamkan kepada anak secara terus menerus, maka pada saat anak sudah mulai harus mandiri, yaitu pada masa baligh, ia akan memiliki arah hidup yang jelas. Ia tak lagi merasa bingung dengan apa yang sesungguhnya menjadi keinginannya, sebagaimana yang seringkali dialami oleh remaja-remaja modern.

      Pihak orang tua maupun guru di sekolah tidak boleh meremehkan cita-cita seorang anak yang sangat tinggi dan tampak mustahil. Mereka justru harus memandangnya secara positif dan mendorongnya, sambil mengarahkan anak pada langkah-langkah yang harus dipenuhi untuk mencapai cita-cita tadi – tentunya sesuai dengan kapasitas berpikir dan bertindak mereka. Dengan demikian, sejak awal anak-anak dan remaja akan disibukkan dengan tujuan dan cita-cita mereka, sehingga tak lagi memiliki banyak kesempatan untuk membuang-buang waktu mereka tanpa adanya tujuan yang jelas.

 

3.  Pertimbangan dalam Memilih

      Al-Qur’an mengajarkan bahwa ada dua dasar pertimbangan dalam memilih, yaitu berdasarkan suka-tak suka atau berdasarkan baik-buruk. Al-Qur’an, serta akal sehat kita, mengajarkan bahwa pertimbangan baik-buruk lebih baik daripada pertimbangan berdasarkan suka-tak suka. ”Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia buruk bagimu. Dan Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah [2]: 216).

      Anak-anak cenderung memilih sesuatu berdasarkan pertimbangan suka-tak suka. Bila ia menyukai sesuatu, maka ia akan menginginkan dan berusaha untuk mendapatkannya. Bila ia tak menyukainya, maka ia akan berusaha menolaknya walaupun sesuatu itu mungkin baik untuknya. Orang yang memiliki karakter dewasa memilih dengan dasar pertimbangan yang berbeda. Mereka menimbang sesuatu berdasarkan baik buruknya. Walaupun ia cenderung pada sesuatu, ia akan mengindarinya sekiranya itu buruk bagi dirinya. Tentu saja ini merupakan sebuah gambaran yang ideal. Pada realitanya, banyak juga dijumpai orang-orang yang berusia dewasa tetapi melakukan hal-hal yang buruk hanya karena mereka menyukai hal-hal tersebut.

      Pendidikan yang baik seharusnya mampu mengarahkan anak setahap demi setahap untuk mengubah dasar pertimbangannya dari suka-tak suka menjadi baik-buruk. Dalam hal ini, komunikasi dengan anak memainkan peranan yang sangat vital. Kepada anak-anak perlu dijelaskan alasan baik-buruknya mengapa sesuatu tidak boleh dilakukan atau mengapa sesuatu harus dilakukan. Dengan demikian mereka memahami alasan baik-buruk di balik boleh atau tidaknya suatu pilihan.

      Kepada mereka juga perlu dijelaskan konsekuensi dari pilihan-pilihan yang ada. Biarkan anak melihat pilihan yang mereka miliki, yang baik serta yang buruk, berikut resiko yang ada di baliknya. Ajak anak untuk menetapkan sendiri pilihannya, bukannya memaksakan pilihan-pilihan yang kita buat, dengan demikian ia akan menjadi lebih bertanggung jawab dengan pilihan-pilihan yang diambilnya itu. Semua proses ini akan membantu kematangan berpikir anak dan menjadikannya lebih bertanggung jawab. Setiap kali ia hendak menentukan pilihan, ia sudah terlatih dengan kebiasaan berpikir yang berorientasi pada pertimbangan baik-buruk. Dengan demikian, ketika ia menginjak usia belasan tahun, ia sudah bisa mengambil keputusan-keputusan yang positif secara mandiri. Ia tidak akan mudah terombang-ambing dengan ajakan-ajakan orang lain yang tidak menguntungkan bagi kepentingan jangka panjangnya dan juga tidak akan menentukan pilihan-pilihan secara asal dan tak bertanggung jawab.

 

4. Tanggung Jawab

      Setiap orang melewati beberapa fase tanggung jawab dalam perjalanan hidupnya. Ketika masih anak-anak dan belum memiliki kemampuan untuk mengemban tanggung jawab, maka orang tuanyalah yang memikul tanggung jawab untuknya, sampai ia mampu memikulnya sendiri. Fase ini bisa disebut sebagai fase pra-tanggung jawab. Ketika anak beranjak dewasa, kemampuannya dalam memikul tanggung jawab juga meningkat. Pada saat itu, sebagian dari tanggung jawab, yaitu tanggung jawab yang sudah mulai bisa dipikulnya, bisa didelegasikan oleh orang tua kepada anak. Fase ini bisa disebut fase tanggung jawab parsial.

      Ketika seseorang sudah hidup mandiri sepenuhnya, dalam arti ia sudah menikah dan bermatapencaharian, maka ia memasuki fase tanggung jawab penuh. Tanggung jawab sudah didelegasikan kepadanya secara penuh. Akhirnya, seseorang bisa memperluas tanggung jawabnya sesuai dengan kapasitas dirinya. Ia bisa menjadi pemimpin di lingkungan keluarga besarnya, di lingkungan masyarakatnya, bahkan di tingkat nasional atau internasional. Fase ini bisa disebut sebagai fase perluasan tanggung jawab (lihat Bagan 3).

      Setiap orang tentu tidak melompat dari fase tanggung jawab yang satu ke fase berikutnya secara mendadak. Karenanya, sebelum memasuki fase yang lebih tinggi, ia perlu dipersiapkan dengan latihan-latihan tanggung jawab tertentu. Anak perlu ditumbuhkan kepekaan tanggung jawabnya (sense of responsibility), bukan dibebani secara terus menerus dengan bentuk-bentuk tanggung jawab (forms of responsibility). Sekiranya pada diri anak terbangun rasa memiliki tanggung jawab serta rasa bangga dalam mengemban tanggung jawab, maka ia akan lebih mudah menerima berbagai bentuk tanggung jawab yang dilimpahkan kepadanya.

Image

      Berdasarkan keterangan-keterangan di atas, anak perlu diberi latihan-latihan tanggung jawab yang sesuai dengan kapasitasnya, serta diarahkan untuk merasa senang dengan pemenuhan tanggung jawab itu. Anak-anak yang tumbuh tanpa pembiasaan tanggung jawab semacam ini akan cenderung merasa berat dan memberontak pada saat ia harus menerima apa yang menjadi tanggung jawabnya. Ia memiliki kapasitas untuk mengemban tanggung jawab tertentu, tetapi malah bersikap tidak dewasa dengan membenci dan menolak tanggung jawab itu atas dirinya. Semua itu terjadi karena ia tidak pernah dididik dan dipersiapkan untuk mengemban tanggung jawab yang lebih besar. Maka dari itu, pendidikan remaja dalam konteks Psikologi Islam perlu membangun kedewasaan anak dengan cara menumbuhkan rasa tanggung jawab (sense of responsibility) serta memberikan latihan-latihan tanggung jawab sejak dini.

      Agar anak tidak terbebani dengan proses percepatan kedewasaan psikologis dan sosial, bentuk-bentuk tanggung jawab yang telah diberikan secara berlebihan pada kebanyakan anak modern juga perlu dikurangi. Anak-anak perlu diberi kesempatan yang cukup untuk bermain secara sehat hingga ia berusia tujuh tahun. Dengan demikian, proses pertumbuhan mereka akan berlangsung dengan baik dan sehat, sehingga terjadinya gejolak yang berlebihan di masa remaja akan dapat dihindari.

 

Kesimpulan

      Sebagaimana telah dijelaskan, berbagai problem serta gejolak masa remaja yang terjadi pada hari ini muncul karena adanya kesenjangan yang serius antara kedewasaan biologis dan kedewasaan psikologis serta sosial pada diri anak. Kesenjangan ini tidak terjadi pada masyarakat primitif serta pada masyarakat masa lalu. Ia terjadi pada remaja-remaja modern karena masyarakat telah memundurkan jadwal kedewasaan psikologis dan sosial dari jadwal kedewasaan biologis anak. Semua ini bertentangan dengan proses alamiah dari pertumbuhan tiap manusia.

      Tugas pendidikan dan Psikologi Islam adalah memastikan bahwa pertumbuhan manusia berjalan sesuai dengan fitrahnya serta memastikan terbentuknya manusia yang utuh dan paripurna (al-insan al-kamil). Hal ini tidak mungkin terjadi kecuali jika kesenjangan yang telah disebutkan tadi bisa dihapuskan. Oleh karena itu, proses kedewasaan psikologis dan sosial anak perlu dibentuk sejak dini, sehingga ketika anak memasuki tahap kedewasaan biologis, ia sudah siap untuk memiliki dua aspek kedewasaan lainnya.

      Kedewasaan sosial bisa diraih anak dengan adanya penerimaan sosial dari lingkungannya terhadap anak sebagai orang dewasa yang setara dengan orang dewasa lainnya. Jika anak disikapi dan diperlakukan secara dewasa, maka ia akan lebih cepat menjadi dewasa. Adapun kedewasaan psikologis bisa diraih anak lewat proses pendidikan dan pelatihan yang memperhatikan empat aspek, yaitu identitas diri, tujuan hidup, pertimbangan dalam memilih, serta tanggung jawab.

      Pembentukan kedewasaan psikologis dan sosial perlu menjadi perhatian serius dalam proses pendidikan anak menuju fase usia belasan tahun. Baik orang tua maupun guru di sekolah perlu memperhatikan ketimpangan yang selama ini terjadi pada remaja dan merealisasikan solusinya dengan memperhatikan hal-hal yang telah diterangkan di atas. Dengan demikian, pada saat memasuki masa baligh, anak sudah siap untuk memasuki fase dewasa awal dalam tahap pertumbuhannya, dan bukannya menjadi remaja yang penuh gejolak (turbulence) seperti yang kita saksikan pada hari ini.

      Akhirnya, semua hal di atas bisa diimplementasikan dengan baik tanpa perlu membuat kebudayaan surut kembali ke belakang ke masa-masa primitif. Dengan begitu kesehatan pertumbuhan manusia serta kemajuan masyarakat bisa berjalan beriringan, tanpa perlu salah satunya mengorbankan pihak yang lain.

 

Daftar Pustaka

Buku

Alatas, Alwi. 2004. Remaja Gaul Nggak Mesti Ngawur. Jakarta: Hikmah.

Alatas, Alwi. 2005. (Untuk) 13+, Remaja Juga Bisa Bahagia, Sukses, Mandiri. Jakarta: Pena.

Ashraf, Dr. Ali. 1993. Horison Baru Pendidikan Islam. Pustaka Firdaus.

Daud, Wan Mohd Noor Wan. 2003. Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam. Bandung: Mizan.

Hilgard, Ernest R., Rita L. Atkinson, & Richard C. Atkinson. 1979. Introduction to

      Psychology. New York: Harcourt Brace Jovanovich, Inc.

Kroger, Jane. 1989. Identity in Adolescence: The Balance between Self and Other.
London & New York, Routledge.

Mandela, Nelson. 1995. Perjalanan Panjang Menuju Kebebasan: Otobiografi Nelson

      Mandela. Jakarta: Binarupa Aksara.

Al-Qur’an al-Karim.

El-Quussy, Prof. Dr. Abdul ‘Aziz. 1975. Pokok-Pokok Kesehatan Jiwa/ Mental, jilid. II.

Jakarta: Bulan Bintang.

Sarwono, Dr. Sarlito Wirawan. 1981. Pergeseran Norma Perilaku Seksual Kaum Remaja:

         Sebuah Penelitian Terhadap Remaja Jakarta. Jakarta: CV Rajawali.

Sarwono, Sarlito Wirawan. 2001. Psikologi Remaja. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada.

Sulaiman, Prof. Fathiyah Hasan. Konsep Pendidikan Al-Ghazali. P3M.

Tanner, James M. dan Gordon Rettray Taylor. 1975. Pustaka Ilmu LIFE:

Pertumbuhan,.Jakarta: Tira Pustaka.

Thalib, Drs. M. 1995. Memahami 20 Sifat Fitrah Anak. Bandung: Irsyad Baitus Salam.

White, Kathleen M. dan Joseph C. Speisman. 1989. Remaja. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, Kementerian Pendidikan Malaysia.

Artikel

Ahmad Faqih HN, “Menggagas Psikologi Islami: Mendayung di Antara Paradigma

Kemodernan dan Turats Islam,” dalam

http://www.geocities.com/jurnal_iiitindonesia/psikologi_islami.htm.

Koran dan Majalah

Gatra. 3 Januari 1998.

Gatra. 11 April 1998.

Gatra. 24 Februari 2000.

Kompas. 1 April 2005.

Media Indonesia. 8 September 1999.

News Week. 3 Mei 1999.

Newsweek. 10 Mei 1999.

Time. 15 April 2002.

Sumber Lain

Microsoft Encarta Encyclopedia Deluxe 2002 (CD).


Lampiran 1

Perilaku Seksual Remaja Pada Beberapa Negara (dalam %)

(Nuss & Luckey, 1969)

Tingkah Laku AS Kanada Inggris Jerman Norwegia
L P L P L P L P L P
Pelukan dan pegangan tangan 98,6 97,5 98,9 96,5 93,5 91,9 93,8 94,8 93,7 89,3
Berciuman 96,0 96,5 97,7 91,8 91,9 93,0 91,1 90,6 96,2 89,3
Meraba Payudara 89,9 78,3 93,2 78,8 87,0 82,6 80,4 76,0 83,5 64,3
Meraba alat kelamin 81,1 61,2 85,2 64,7 84,6 70,9 70,5 63,5 83,5 53,6
Hubungan seks 68,2 43,2 56,8 35,3 74,8 62,8 54,5 59,4 66,7 53,6

Sumber: Sarwono (2001: 160)


[1] Al-Qur’an surat ar-Rum [30] : 30. Ahmad Faqih mengutip Quraish Shihab yang mengartikan fitrah sebagai unsur, sistem dan tata kerja yang diciptakan Allah pada makhluk sejak awal kejadiannya sehingga menjadi bawaannya. Lihat Ahmad Faqih HN, “Menggagas Psikologi Islami: Mendayung di Antara Paradigma Kemodernan dan Turats Islam,” http://www.geocities.com/jurnal_iiitindonesia/psikologi_islami.htm.

[2] Batasan usia ini sangat relatif. Pubertas atau baligh mungkin bisa dianggap sebagai batas awal usia remaja. Adapun batas akhirnya bisa ditinjau dari beberapa segi. Secara psikologis, seorang remaja dikatakan sudah dewasa bila ia memiliki tingkat kematangan yang sama dengan orang dewasa. Sementara secara hukum, batas usia kedewasaan seseorang berbeda-beda menurut hukum yang berlaku di sebuah negara, biasanya antara 17 dan 21 tahun.

[3] Lihat Ernest R. Hilgard, Rita L. Atkinson, & Richard C. Atkinson, 1979, Introduction to Psychology, New York: Harcourt Brace Jovanovich, Inc., hlm. 88.

[4] Sarlito Wirawan Sarwono, 2001, Psikologi Remaja, Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, hlm. 23.

[5] Gatra, 3 Januari 1998, hlm. 25.

[6] Penelitian di Jakarta pada tahun 1981 yang berkerja sama dengan Gerakan Remaja untuk Kependudukan (GRK) dan radio Prambors malah memperlihatkan bahwa 15,3 % dari responden pernah bersenggama, entah dengan pacar, tante girang, atau pelacur. Lihat Dr. Sarlito Wirawan Sarwono, 1981, Pergeseran Norma Perilaku Seksual Kaum Remaja: Sebuah Penelitian Terhadap Remaja Jakarta, Jakarta: CV Rajawali, hlm. 29.

[7] Gatra, 3 Januari 1998, hlm. 22-24.

[8] Data-data dihimpun oleh Yayasan Kita dan Buah Hati.

[9] “Narsis atau PD, nih?” dalam Kompas, 1 April 2005, hlm. 49.

[10] Gatra, 24 Februari 2000, hlm. 31.

[11] Media Indonesia, 8 September 1999.

[12] Untuk kasus penembakan di SMU Columbine yang menghentak publik Amerika Serikat lihat News Week edisi 3 Mei 1999. Untuk kasus-kasus lainnya yang sejenis bisa dilihat pada Gatra, 11 April 1998.

[13] Newsweek, 10 Mei 1999, hlm 44.

[15] Time, 15 April 2002.

[16] Data dihimpun oleh Yayasan Kita dan Buah Hati dari pemberitaan media-media massa. Tidak tertutup ada kasus-kasus lain yang belum masuk ke dalam data ini.

[17] Penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa di antara hal-hal yang menjadi penyebab remaja bermasalah, rasa kesepian (loneliness) menempati posisi teratas. Barbara Schneider yang meneliti 7.000 remaja selama 5 tahun menemukan bahwa rata-rata mereka menghabiskan waktu 3,5 jam sendirian setiap harinya. Remaja bisa saja mengklaim bahwa mereka membutuhkan privasi, tapi mereka juga sangat membutuhkan perhatian yang ternyata tidak mereka dapatkan. Sebenarnya, remaja-remaja ini sangat berharap ada lebih banyak orang-orang dewasa dalam kehidupan mereka. Newsweek, 10 Mei 1999, hlm. 42-43.

[18] Alwi Alatas, 2004, Remaja Gaul Nggak Mesti Ngawur, Jakarta: Hikmah, hlm. 27.

[19] Sarlito Wirawan Sarwono, 2001, Psikologi Remaja, op.cit. hlm. 52.

[20] Doris Odlum, seorang dokter Inggris, mengumpulkan banyak pertanyaan yang diajukan oleh kalangan remaja terkait dengan jati diri mereka. Untuk ini lihat James M. Tanner dan Gordon Rettray Taylor, 1975, Pustaka Ilmu LIFE: Pertumbuhan, Jakarta: Tira Pustaka, hlm. 108-109.

[21] Jane Kroger, 1989, Identity in Adolescence: The Balance Between Self and Other, London & New York, Routledge, hlm. 1.

[22] Kathleen M. White and Joseph C. Speisman, 1989, Remaja, Kuala Lumpur, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kementerian Pendidikan Malaysia, hlm. 85.

[23] Alwi Alatas, 2005, (Untuk) 13+, Remaja Juga Bisa Bahagia, Sukses, Mandiri, Jakarta: Pena, hlm. 8.

[24] Tentang pembahasan role confusion, lihat Ernest R. Hilgard, Rita L. Atkinson, & Richard C. Atkinson, 1979, Introduction to Psychology, op.cit. hlm. 92

[25] Terkadang orang tua sudah memberikan model peran yang baik untuk dicontoh oleh anak, tetapi kalah oleh model-model peran lain yang ditawarkan lewat media massa.

[26] Michael Carneal (14 tahun), misalnya, telah menembak temen-temen sekolahnya di Kentucky High School, Amerika, pada bulan Desember 1997. Peristiwa ini menyebabkan tiga pelajar meninggal dunia dan lima lainnya terluka parah. Saat diinterogasi perihal motifnya, ia mengaku terpengaruh adegan dalam film Basketball Diaries. Ia bahkan mengatakan bahwa skenario Diaries merupakan cerminan pribadinya. Ketiga orang tua korban kemudian juga menuntut pihak produser film yang dibintangi oleh Leonardo Di Caprio itu, Gatra, 11 April 1998, hlm. 57.

[27] James M. Tanner dan Gordon Rettray Taylor, 1975, Pustaka Ilmu LIFE: Pertumbuhan, op.cit. hlm. 110-111.

[28] James M. Tanner dan Gordon Rettray Taylor, 1975, Pustaka Ilmu LIFE: Pertumbuhan, ibid.

[29] Ernest R. Hilgard, Rita L. Atkinson, & Richard C. Atkinson, 1979, Introduction to Psychology, op.cit. hlm. 88.

[30] Sarlito Wirawan Sarwono, 2001, Psikologi Remaja, op.cit. hlm. 20.

[31] Ahmad Faqih HN, “Menggagas Psikologi Islami: Mendayung di Antara Paradigma Kemodernan dan Turats Islam,” http://www.geocities.com/jurnal_iiitindonesia/psikologi_islami.htm.

[32] James M. Tanner dan Gordon Rettray Taylor, 1975, Pustaka Ilmu LIFE: Pertumbuhan, op.cit. hlm. 111.

[33] Untuk contoh upacara pada salah satu suku primitif di Afrika Selatan, lihat Nelson Mandela, 1995, Perjalanan Panjang Menuju Kebebasan: Otobiografi Nelson Mandela, Jakarta: Binarupa Aksara, hlm. 25-29. Upacara tersebut berjalan selama beberapa hari dan dilakukan atas sekelompok anak berusia sekitar 16 tahun. Bagian terpenting dari upacara tersebut adalah ketika anak-anak tadi disunat tanpa anastesi. Mereka harus berani menghadapi rasa sakit dalam prosesi sunat sebagai manifestasi dari kesiapan mereka memasuki dunia orang dewasa. Tidak adanya anastesi ini disengaja untuk menyiapkan mental mereka, karena, seperti dikatakan oleh Mandela sendiri, ”Seorang anak boleh menangis, pria dewasa menyembunyikan kepedihannya.” Persis setelah kulit khatan dipotong dengan assegai, semacam pisau tradisional yang digunakan oleh dukun sunat, anak yang disunat harus berteriak lantang, ”Ndiyindoda (Saya pria dewasa)!” Dan setelah semua prosesi tadi, anak-anak tersebut telah memiliki status yang sama dengan orang-orang dewasa pada masyarakatnya.

[34] Microsoft Encarta Encyclopedia Deluxe 2002 (CD). Walaupun anak-anak tadi telah menerima status dewasa mereka dalam usia yang dini, agaknya mereka tidak mengalami sebuah lompatan fase usia yang mengejutkan. Boleh jadi ini dikarenakan telah adanya persiapan psikologis sejak masa-masa sebelumnya. Selain itu, fase baru yang mereka masuki mungkin bisa disebut sebagai fase ‘dewasa awal’ yang masih membutuhkan proses pendewasaan diri lebih jauh. Bagaimanapun, fase ‘dewasa awal’ tidaklah sama dengan fase ‘remaja’ yang merupakan peralihan dari anak-anak ke dewasa. Anak-anak yang masuk ke fase ’dewasa awal’ ini tidak mengalami gejolak dan krisis – sebagaimana bisa dilihat pada contoh-contoh kasus masyarakat primitif di atas – seperti yang dialami oleh remaja-remaja modern.

[35] Sarlito Wirawan Sarwono, 2001, Psikologi Remaja, op.cit. hlm. 84.

[36] Angka-angka usia yang dimunculkan pada bagan tersebut hanya diajukan sebagai contoh, karena memang tidak ada batas usia remaja yang pasti.

[37] Ahmad Faqih HN, “Menggagas Psikologi Islami: Mendayung di Antara Paradigma Kemodernan dan Turats Islam,” http://www.geocities.com/jurnal_iiitindonesia/psikologi_islami.htm.

[38] Wan Mohd Noor Wan Daud, 2003, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam, Bandung: Mizan, hlm. 172.

[39] Dr. Ali Ashraf, 1993, Horison Baru Pendidikan Islam, Pustaka Firdaus, hlm. 1.

[40] Prof. Fathiyah Hasan Sulaiman, Konsep Pendidikan Al-Ghazali, P3M, hlm. 19-20.

[41] Prof. Dr. Abdul ‘Aziz El-Quussy, 1975, Pokok-Pokok Kesehatan Jiwa/ Mental, jilid. II, Jakarta: Bulan Bintang, hlm. 309.

[42] Drs. M. Thalib menganggap diperlakukannya anak-anak secara dewasa oleh orang tuanya termasuk dalam sifat fitrah anak. Anak yang ia maksud di sini adalah anak yang telah baligh dan mencapai awal dewasa. Ia mengambil dalil dari al-Qur’an surat Ash-Shaaffaat ayat 102 yang berisi dialog antara Nabi Ibrahim as. dengan anaknya yang baru beranjak dewasa, yaitu Ismail as., tentang turunnya perintah Allah untuk mengorbankan sang anak. Lihat Drs. M. Thalib, 1995, Memahami 20 Sifat Fitrah Anak, Bandung: Irsyad Baitus Salam, hlm. 63-66. Kami sendiri memandang masa baligh/ puber/ sebagai pintu gerbang alamiah bagi anak untuk memasuki fase usia dewasa.

[43] Penekanan kata ‘positif’ di sini sangat penting, mengingat tidak selamanya aktifitas orang dewasa bernilai positif. Dan positif atau tidaknya sesuatu seharusnya dilihat dari kacamata Islam, bukan pandangan masyarakat yang selalu berubah-ubah.

[44] Pada awal tulisan telah dikutip penjelasan Hilgard tentang tiga aspek yang menandai fase usia remaja. Aspek yang pertama, yaitu perubahan fisik, terkait dengan kedewasaan biologis yang terjadi secara alamiah. Sementara dua aspek lainnya adalah identitas diri dan tanggung jawab. Keempat aspek yang baru saja kami sebutkan di atas pada dasarnya sejalan dengan dua aspek terakhir yang disinggung Hilgard, karena aspek tujuan hidup sebenarnya ikut menopang terbentuknya identitas yang kuat, dan pertimbangan dalam memilih merupakan bagian dari aspek tanggung jawab. Penjabaran ke dalam empat aspek ini lebih bertujuan untuk mempertajam konsep pendidikan kedewasaan pada remaja.

[45] Dalam menjelaskan keempat aspek ini, kami lebih mengandalkan pengamatan kami sendiri secara rasional dan kualitatif, disebabkan masih relatif minimnya pembahasan-pembahasan serta penelitian yang mendukung dalam konteks ini, atau setidaknya kami sendiri belum menemukan kajian-kajian yang terkait dengan persoalan ini.

2006

Pendidikan Remaja dari Sudut Pandang Psikologi Islami

Mongol: Penakluk yang Tertaklukkan

Alwi Alatas

Pada tulisan tentang mozarabic Christian telah digambarkan betapa bangsa yang kalah cenderung mengikuti bangsa yang menaklukkannya dalam hal cara berpakaian, berbahasa, dan dalam berbagai aspek kebudayaan lainnya. Namun, ada kalanya bangsa penakluk yang justru pada akhirnya terpengaruh oleh bangsa yang ditaklukkannya. Fenomena semacam ini sebetulnya bisa dilihat pada kasus raja-raja Norman yang menguasai Sisilia. Mereka merebut dan menguasai pulau di Italia Selatan itu dari tangan kaum Muslimin, tapi kemudian mereka sendiri terpengaruh oleh kebudayaan kaum Muslimin di wilayah tersebut yang memang lebih maju dari kebudayaan Barat pada masa itu. Hanya saja, hal ini tidak berlangsung terus menerus, dan kaum Norman sendiri tidak pernah memeluk Islam sebagai agama mereka. Pada akhirnya, populasi Muslim di wilayah tersebut semakin menyusut dan ketika kendali gereja Katholik makin kuat, maka pengaruh Islam di wilayah tersebut bisa dikatakan lenyap sama sekali.

Tulisan kali ini akan membahas kisah penaklukkan besar-besaran oleh sebuah bangsa yang belakangan justru takluk dan tunduk pada kepercayaan dan kebudayaan bangsa yang ditaklukkannya. Ya, para penakluk tersebut adalah bangsa Mongol, dan yang ditaklukkannya adalah kaum Muslimin, di samping bangsa-bangsa lainnya. Ini terjadi pada abad ke-13. Fenomena ini memperlihatkan kepada kita bahwa kedigdayaan militer sebuah bangsa tidak otomatis menjadikan bangsa tersebut mampu memberikan pengaruh jangka panjang terhadap bangsa-bangsa lainnya yang berhasil ditaklukkannya. Kekuatan militer hanya memberikan kemampuan kontrol secara fisik saja. Pengaruh terbesar tidak datang dari kekuatan fisik semacam ini, melainkan dari sistem keyakinan dan penguasaan ilmu pengetahuan yang lebih unggul. Kedua hal yang terakhir ini tidak dimiliki secara baik oleh bangsa Mongol.

Dunia di abad ke-13 tidak pernah membayangkan akan lahir seorang seperti Temujin dan akan ada penaklukkan besar-besaran oleh bangsa Mongol. Hal semacam itu sudah lama berlalu sejak era Attila the Hun dan Alexander the Great. Temujin berhasil menyatukan suku-suku Monggolia dibawah kepemimpinnya dan mendapat gelar Genghis Khan pada tahun 1206. Penyatuan suku-suku Mongol ternyata tidak menjadi tujuan akhir Temujin, melainkan hanya permulaannya saja. Seperti dikatakan dalam sebuah ungkapan, “ketika kamu makan, nafsu makanmu bertambah.” Ini juga yang berlaku pada bangsa Mongol dibawah kepemimpinan Genghis Khan dan anak cucunya. Ketika sebuah wilayah berhasil ditaklukkan, nafsu untuk menaklukkan wilayah lainnya tidak berhenti, malah semakin kuat.

Mongol_soldiers_by_Rashid_al-Din_1305

Bersatunya bangsa yang masih terbilang barbarik itu menjadi suatu ledakan yang apinya menjalar cepat dan meruntuhkan peradaban-peradaban yang jauh lebih maju di sekitarnya. Satu persatu kerajaan-kerajaan di Cina dan Rusia, kesultanan-kesultanan Islam di Afghanistan, Asia Tengah, Persia, bahkan pusat kekhalifahan di Baghdad, hingga wilayah-wilayah  Eropa Timur, rontok dan tak mampu membendung laju kuda-kuda Mongol yang agak pendek dan gesit itu. Bagi dunia Islam, penaklukkan oleh Mongol ini mungkin dilihat sebagai suatu pendahuluan sekaligus miniatur keluarnya Ya’juj Ma’juj pada akhir zaman. Kengerian yang ditimbulkannya seolah belum hilang di tempat-tempat yang pernah diserbu oleh pasukan Genghis Khan. Saat berkunjung ke Herat, Afghanistan, Mike Edwards mendengar komentar masyarakat tentang peristiwa yang berlaku tujuh setengah abad yang lalu itu, seolah baru saja terjadi sehari sebelumnya. “Hanya sembilan saja! Seluruh yang masih bertahan hidup di sini – sembilan orang!” seru seorang warga tua saat menggambarkan serangan Mongol ke kota itu (National Geographic, Desember 1996). Dan Herat bukan satu-satunya kota yang menerima nasib buruk dari pasukan Mongol.

Wilayah Cina Utara diinvasi oleh Mongol pada tahun 1211. Cucu Genghis Khan, Kubilai Khan, menyempurnakan penaklukkan Cina pada tahun 1279, sekitar setengah abad setelah kakeknya meninggal. Dinasti Mongol di Cina dikenal sebagai Dinasti Yuan.

Pada tahun 1219, pasukan Mongol menyerang kesultanan Khawarizmi dan merebut kota-kota penting seperti Bukhara dan Samarkand. Dari sana, pasukannya menyerbu ke Utara dan mengalahkan pasukan Rusia. Kemudian berbalik arah lagi dan menaklukkan wilayah-wilayah Afghanistan dan Iran. Setelah kematian Genghis Khan, proses penaklukkan sama sekali tidak berhenti, malah semakin kuat. Pada tahun 1258, Hulagu Khan bahkan menyerang ibukota kekhalifahan Bani Abbasiyyah di Baghdad dan menyebabkan simbol utama kepemimpinan dunia Islam itu runtuh. Dari sana, pasukan Mongol terus menginvasi Syria dan Palestina, serta berusaha masuk ke Mesir, tapi tertahan oleh tentara-tentara Mamluk Mesir melalui pertempuran Ayn Jalut. Penaklukkan Mongol atas dunia Islam terhenti di situ. Sementara di Utara, tentara-tentaranya terus menginvasi Eropa Timur hingga ke Laut Adriatik, dan nyaris meneruskannya hingga ke Eropa Barat.

mongolempire_map

Terlepas dari kemampuan militernya yang hebat, Mongol tidak menonjol secara kebudayaan. Walaupun para pemimpin Mongol mengundang para ahli ke pusat pemerintahannya untuk membangun negeri itu, tetapi bangsa Mongol sendiri tidak tampil sebagai ilmuwan, sastrawan, atau arsitek. Mereka tetap memainkan peran yang sama sebagaimana sebelumnya, yaitu sebagai tentara dan penunggang kuda yang tangguh. Kekosongan di lapangan peradaban otomatis diisi oleh bangsa-bangsa lainnya, dan kaum Muslimin memiliki peranan yang besar dalam hal ini.

Sejak awal perkembangannya, Genghis Khan sendiri sudah mengambil aspek kebudayaan Muslim untuk diterapkan bagi kemajuan bangsanya. Ia mengadopasi aksara Uyghur ke dalam bahasa Mongol dan memercayakan pendidikan anak-anak lelakinya pada kalangan Uyghur juga. Kendati bersikap sangat kejam terhadap lawan-lawan yang ditaklukkannya, sikap para pemimpin Mongol di luar pertempuran terhadap para ulama dan agamawan serta tempat-tempat ibadah relatif toleran. Hampir sebagian besar aspek peradaban di wilayah-wilayah Muslim yang ditaklukkan tetap diisi dan dikembangkan oleh para ahli Muslim. Bahkan satu-persatu pemimpin Mongol sendiri akhirnya masuk Islam.

Berke Khan (kami akan menulis secara khusus tentang beliau dan wilayah Golden Horde yang dipimpinnya pada kesempatan lain), salah satu pemimpin Mongol di wilayah Golden Horde yang mencakup Rusia dan sebagian Asia Tengah, termasuk yang awal masuk Islam. Ia ikut berperan menghalangi Hulagu Khan yang masih terhitung familinya sendiri dari upayanya menguasai seluruh Syria serta dari keinginannya merebut Mesir. Berke marah dan memerangi Hulagu karena yang terakhir ini telah meruntuhkan kekhalifahan Islam di Baghdad. Dinasti Il-Khan yang didirikan Hulagu sendiri pada akhirnya berubah menjadi dinasti Muslim. Sejarah Mongol ditulis terutama oleh para sejarawan Persia Muslim seperti Ala al-Din Juwaini dan Rashid al-Din Hamadani yang bekerja pada pemerintahan Mongol.

Keadaan di Cina tidak kalah menarik. Di bawah Dinasti Yuan, banyak posisi penting pemerintahan dan ilmu pengetahuan diisi oleh orang-orang Islam. Ketika dinasti ini runtuh pada pertengahan abad ke-14, posisinya digantikan oleh Dinasti Ming yang dalam beberapa sumber dikatakan sebagai sebuah dinasti Muslim. Sejak masa Dinasti Yuan, kaum Muslimin di Cina sudah dikenal sebagai orang-orang yang terpelajar. Pada masa Dinasti Ming, peran mereka jadi lebih menonjol lagi. Cheng Ho, yang dikenal sebagai salah satu admiral terbesar sepanjang sejarah dan disebut-sebut telah tiba di benua Amerika tiga perempat abad lebih dulu dari Colombus, merupakan pelaut Muslim yang mengabdi pada masa awal keberadaan Dinasti Ming. Kaum Muslimin memang telah ditaklukkan oleh bangsa Mongol yang bersatu padu dan kuat secara militer. Namun pada akhirnya justru mereka yang menaklukkan bangsa Mongol melalui sistem keyakinan dan pengetahuan mereka yang lebih menonjol.

goldenxx

Pada hari ini, kaum Muslimin juga telah takluk oleh peradaban Barat yang lebih ungul dalam hal militer dan pengetahuan. Namun, di sela-sela kekalahan tersebut, kita masih dibuat heran dengan begitu banyaknya masyarakat Eropa dan Amerika yang masuk Islam. Umat Islam berada di posisi yang lemah dan tak berdaya. Tidak sedikit dari mereka yang terpengaruh kebudayaan Barat. Tetapi itu ternyata tidak menghalangi masyarakat Barat sekarang ini berbondong-bondong masuk Islam. Begitu juga tidak sedikit gereja-gereja di Eropa dan Amerika Serikat yang dijual dan kemudian berubah menjadi masjid. Akankah fenomena yang pernah terjadi pada bangsa Mongol akan terjadi juga pada bangsa Barat, walaupun yang terakhir ini memiliki keunggulan lebih banyak dibandingkan bangsa Mongol? Akankah pada akhirnya Barat akan menundukkan diri dan menerima Islam, agama dari peradaban yang telah mereka taklukkan? Wallahu a’lam bis showab.

Jakarta,

6 Safar 1431/ 22 Januari 2010

http://www.hidayatullah.com/kajian-a-ibrah/sejarah/10521-mongol-penakluk-yang-tertaklukkan.html

Mozarabic Christians

Senin, 4 Januari 2010 – 18:10 WIB

Alwi Alatas

BEBEAPA bulan yang lalu, saat seorang famili berkunjung ke Kuala Lumpur, kami mendengar ceritanya tentang perkembangan terbaru di Jakarta. ”Sekarang di Jakarta sedang tren anak-anak perempuan pakai celana pendek,” terangnya sambil geleng kepala. ”Kok bisa ya mereka tanpa malu berada di tempat umum dengan celana yang pendek seperti itu. Malah ada yang kalau sedang duduk atau menunduk, maka kelihatan bagian belakangnya.”

Saya tidak tahu seperti apa keadaan sebenarnya, karena saya hanya mendengarnya dari orang lain. Tetapi hal ini mengingatkan saya pada kejadian beberapa tahun yang lalu. Ketika Demi Moore tampil di film Ghost dengan potongan rambut pendek, tiba-tiba saja hal itu menimbulkan ’demam rambut pendek’ di kalangan perempuan-perempuan Indonesia. Sebagian besar dari perempuan-perempuan itu tentu saja Muslimah, dan mereka mengikuti model rambut yang sama sekali tidak diajarkan oleh agama mereka sendiri.

Kejadian-kejadian semacam ini selalu berulang, dan tidak hanya berlaku di kalangan kaum perempuan. Banyak pria Muslim yang juga suka sekali mengikuti tren dan gaya hidup terbaru yang datang dari Barat, tanpa menimbang apakah itu sesuai dengan ajaran agamanya atau tidak. Semua yang datang dari Barat, dari bangsa yang sedang mendominasi peradaban modern, dianggap layak untuk ditiru. Sampai sekiranya mereka diajak untuk masuk ke lubang biawak, tentu mereka akan mengikutinya.

Mau tidak mau kita mesti mengakui bahwa tidak sedikit dari kaum Muslimin pada hari ini telah berperilaku kebarat-baratan. Mereka telah terbaratkan dan kita bisa menyebutnya sebagai ’westernized Muslims.’

Bagi kaum Muslimin yang baik pemahamannya dan lebih kuat komitmennya terhadap nilai-nilai Islam, fenomena ini tentu terlihat aneh, menyedihkan, sekaligus juga menggemaskan. Kaum Muslimin yang kebarat-baratan lebih suka berbahasa Inggris daripada berbahasa Arab, akrab dengan kalender Masehi dan lupa akan kalender hijriah. Melecehkan saudara yang memelihara jenggot atau saudarinya yang berjilbab, sementara pada saat yang sama senang mengikuti penampilan, gaya berpakaian, dan gaya hidup masyarakat Barat yang tidak sejalan dengan agamanya sendiri. Mengapa semua itu sampai terjadi? Apakah ini merupakan hal yang wajar?

Jika ditanya apakah fenomena semacam ini wajar atau tidak, maka jawabannya bisa dua. Kalau yang dimaksud dengan wajar di sini adalah bahwa hal itu normal dan pantas untuk dilakukan, maka jawabannya adalah ’tidak wajar.’ Tindakan ikut-ikutan semacam itu sama sekali ’tidak pantas’ dilakukan oleh orang-orang yang berakal dan memiliki prinsip dalam hidup. Sebagian besar perilaku ikut-ikutan tren itu dilakukan tanpa pertimbangan rasional dan intelektual, dan itu hanya merendahkan kedudukan manusia sebagai makhluk yang berpikir. Tapi jika yang dimaksud dengan wajar di sini adalah ’fenomena sejarah dan peradaban yang biasa terjadi,’ maka jawabannya adalah ’ya, ini merupakan hal yang memang biasa terjadi.’

Budaya Inferior dan Pengaruh Islam

Fenomena ikut-ikut terhadap kebudayaan yang dominan tidak hanya terjadi pada kaum Muslimin, dan juga tidak hanya terjadi pada zaman modern ini saja. Sekarang ini, kaum Muslimin bukan satu-satunya pihak yang menyaksikan sebagian anggotanya terbaratkan. Banyak komunitas lain juga mengalami hal yang sama. Masyarakat Jepang yang menganut Shinto, juga banyak yang terbaratkan. Begitu juga sebagian masyarakat China yang menganut Budha dan Konghucu, segolongan masyarakat India yang Hindu, dan kelompok masyarakat dunia lainnya. Sejak dua abad terakhir, atau lebih, peradaban Barat telah tampil mendominasi dunia. Sebagai konsekuensinya, kebudayaan mereka menghegemoni peradaban dunia dan membuat sebagian masyarakat di luarnya mengalami inferiority complex dan cenderung mengikuti kebudayaan mereka, entah itu baik atau buruk, entah mereka memahaminya atau tidak.

Bangsa yang kalah selalu ingin mengikuti bangsa yang menang, demikian dinyatakan oleh Ibn Khaldun. Itu menjelaskan apa yang berlaku sekarang ini, dan apa yang berlaku juga di masa-masa yang lalu. Peradaban Barat sedang menang dan mendominasi, lantas bangsa-bangsa yang kalah cenderung mengikuti perilaku dan cara hidup mereka. Berdasarkan penjelasan ini kita dapat berasumsi bahwa jika yang unggul adalah peradaban lain, maka corak kebudayaan yang mendominasi adalah kebudayaan mereka. Sekiranya peradaban Melayu-Indonesia menjadi peradaban yang mendominasi dunia, maka kita akan mendapati sebagian orang Barat (dan juga bangsa-bangsa lainnya) menggunakan nama Rusdi, Agus, Siti, dan lain-lain. Sarung dan kopiah akan menjadi tren pakaian global; rendang dan nasi uduk/nasi lemak akan dijual di franchise-franchise internasional dan bergengsi; gamelan dan angklung mungkin akan lebih populer dari biola dan piano; Hikayat Abdullah menjadi rujukan sastra dunia; dan tokoh-tokoh seperti Walisongo masuk dalam kisah-kisah klasik yang mendunia. Ini hanya sebuah permisalan saja.

Membuat permisalan saja kadang tidak memadai. Kita memerlukan contoh nyata, dan itu bisa kita dapatkan di dalam sejarah. Barat tidak selamanya berada di atas dan Muslim tidak selalu berada di bawah. Ada kurun waktu kaum Muslimin pernah berjaya dan masyarakat Barat menjadi pihak yang kalah dan dipimpin. Pada masa itu, fenomena yang dijelaskan oleh Ibn Khaldun juga terjadi.

Ketika Islam masuk ke Spanyol dan membangun peradaban yang indah selama beberapa ratus tahun, kebudayaan Arab-Muslim mendominasi kawasan tersebut. Peradaban Islam dikenal sebagai peradaban yang toleran. Komunitas Kristen Andalusia dipersilahkan tetap tinggal di wilayah Muslim dan diperbolehkan mempraktikkan agama mereka. Mereka hidup di quarter mereka sendiri atau tinggal sebelah menyebelah dengan kaum Muslimin.

Pada perkembangannya, mereka terpengaruh oleh kebudayaan Arab-Muslim dan mengambilnya ke dalam keseharian mereka. Cara hidup mereka yang mirip dengan kaum Muslimin membuat mereka kemudian dikenal sebagai orang-orang Kristen yang terarabkan, Mozarabic Christians atau kaum Kristen Mozarab.

Istilah Mozarab ini merupakan istilah yang menarik. Pendapat yang umum diterima menyatakan bahwa istilah ini bersumber dari kata Arab musta’rib yang artinya kurang lebih ’terarabkan’ (arabised). Namun Encyclopaedia of Islam menyebutkan bahwa teks-teks Hispano-Arab sendiri kurang mengenal istilah ini. Tidak tertutup kemungkinan istilah ini justru dimunculkan oleh kalangan internal Kristen sebagai kritik dan celaan terhadap rekan-rekan mereka di selatan Spanyol yang rela hidup di bawah dominasi Muslim.

Komunitas Kristen Mozarab tidak berkonversi ke agama Islam, tetapi mereka mengambil dan mempraktikkan banyak aspek dari kebudayaan Arab-Muslim. Pada saat itu posisi masyarakat Kristen Barat, khususnya yang berada di Spanyol, sangat inferior di hadapan peradaban Islam yang mendunia dan tumbuh dengan sangat cepat. Maka banyak dari mereka yang kemudian mengadopsi kebudayaan kaum Muslimin dalam hal bahasa, cara berpakaian, model rambut, pola pernikahan, kebiasaan berkhitan, pembatasan makanan, sastra, hingga musik. Kaum Kristen Mozarab pada masa itu dapat dijumpai di kota-kota penting di Andalusia, seperti Cordova, Seville, Merida, Toledo, dan kota-kota lainnya.

Jika pada masa sekarang ini kalangan Muslim yang terbaratkan menerima pengaruh berupa cara pakaian yang lebih terbuka dan vulgar, serta pola pergaulan lawan jenis yang bebas, masyarakat Kristen Andalusia yang terarabkan pada masa itu menerima pengaruh berupa cara berpakaian yang lebih sopan, pola hidup yang lebih higienis, serta kecenderungan untuk tidak makan daging babi. Perubahan pola hidup ini sangat signifikan dan begitu kontras jika dibandingkan dengan rekan-rekan mereka yang lain. Pengamatan terhadap penduduk Kristen di Jiliqiyya oleh Ibrahim al-Turthusi memberi gambaran semacam ini:

”Penduduknya… tidak menjaga kebersihan mereka dan hanya membasuh diri dengan air dingin satu atau dua kali saja dalam setahun. Mereka tidak pernah mencuci pakaian mereka sejak mereka mengenakannya hingga pakaian tersebut hancur di badan mereka, dan mereka mempercayai bahwa kotoran yang menempel di tubuh dan bercampur dengan keringat merupakan hal yang bagus bagi tubuh mereka dan membuat mereka tetap sehat. Pakaian-pakaian mereka sangat ketat dan banyak bagiannya yang terbuka, sehingga memperlihatkan sebagian besar anggota tubuh mereka.” Kendati demikian, mereka ini ”memiliki keberanian yang besar dan tidak pernah lari dari medan pertempuran…”

Kecenderungan penduduk Kristen terhadap budaya Arab-Muslim telah menimbulkan kekesalan saudara-saudara mereka yang lebih fanatik. Di Cordova pada pertengahan abad kesembilan, ketidaksukaan ini diekspresikan dengan cara melakukan ’teror’ di depan umum. Mereka melakukan penghinaan terhadap Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam dan terhadap Islam secara terbuka. Mereka mengetahui bahwa penghinaan semacam itu di dunia Islam memiliki konsekuensi hukuman mati. Memang itulah yang ingin mereka lakukan: menjadi martir. Insiden-insiden semacam ini sempat berlangsung selama beberapa waktu hingga pemimpin ideologis mereka, Eulogius, ditangkap dan dihukum mati.

Eulogius dan kelompoknya telah membuat propaganda dengan menyatakan bahwa orang-orang Kristen telah ditindas di bawah pemerintahan Islam. Mereka mengeluhkan pengaruh kebudayaan Islam terhadap generasi muda Kristen yang mulai cenderung mengabaikan budaya mereka sendiri dan bersemangat mempelajari bahasa Arab dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat Islam. Mereka cukup berhasil dalam memancing ketegangan antara pemerintah Muslim dan umat Kristiani di Cordova. Tetapi kecenderungan masyarakat Kristen dalam mengadopsi kebudayaan Muslim tetap berlangsung selama beberapa abad berikutnya.

Sebagian dari orang-orang Kristen di selatan ada yang bermigrasi ke utara Spanyol dan ditampung oleh kerajaan Kristen yang ada di sana. Mereka membawa kebudayaan Muslim bersama mereka ke tempat yang baru. Kerajaan Asturias yang menerima mereka pun menerimanya karena alasan-alasan praktis. Mereka memiliki keterampilan dan tingkat peradaban lebih baik yang bisa dimanfaatkan oleh kerajaan tersebut. Kaum Kristen Mozarab ini membangun gereja-gereja baru di Utara dan mengembangkan sastra dan kebudayaan di sana. Mereka mempertahankan penggunaan bahasa Arab pada komunitas mereka. Manuskrip-manuskrip mereka banyak diwarnai corak-corak yang khas.

Gereja-gereja mereka, yang dikenal sebagai gereja Mozarab, memiliki lengkung-lengkung arkade tapal kuda dan mirip dengan yang biasa di jumpai di gedung-gedung dan masjid Cordova. Bahkan liturgi dan senandung gerejawi mereka pun berbeda dengan yang ada di gereja-gereja Katolik dan dikenal dengan istilah Mozarab juga, walaupun yang terakhir ini mungkin bersumber dari tradisi Kristen Visigoth yang eksis sebelum masuknya Islam ke wilayah Spanyol.

Dengan jatuhnya Toledo ke tangan pasukan Kristen pada tahun 1085 dan proses reconquista yang sedikit demi sedikit mendesak kaum Muslimin ke selatan, pengaruh dan eksistensi kaum Kristen Mozarab semakin berkurang. Pihak Katolik yang semakin kuat pengaruhnya di Spanyol menilai praktik-praktik keagamaan kaum Mozarab sebagai penyimpangan dan berusaha menghapusnya. Kalau mereka memerlukan waktu yang cukup panjang untuk menghapus pengaruh kebudayaan Islam di dunia Kristen, hal itu merupakan hal yang wajar. Selama berabad-abad peradaban Islam masih memimpin dunia dan daya pikatnya sulit untuk diabaikan oleh mereka-mereka yang ingin mencicipi kemajuannya.

Sebagaimana pernah kami singgung dalam tulisan yang lain, sikap kearab-araban ini tidak hanya berlaku di Andalusia, tetapi juga di beberapa wilayah Barat lainnya, terutama Sisilia. Sejak akhir abad kesebelas Sisilia yang sempat dikuasai Islam jatuh ke tangan bangsa Norman. Namun penguasa-penguasa Kristen generasi kedua dan berikutnya segera jatuh cinta pada kebudayaan Islam. Mereka menguasai bahasa Arab dengan baik, menggunakan gelar-gelar Arab, mencantumkan gelar Arab itu di dalam koin yang mereka cetak, mengundang dan mendanai para ilmuwan dan sastrawan Muslim, dan bersikap sangat toleran terhadap warga Muslim mereka -sikap yang sama sekali tidak akan dijumpai pada wilayah-wilayah Eropa yang dikendalikan oleh Katolik pada masa itu. Paus yang merasa kesal dengan sikap kekristenan yang ambigu dari raja-raja ini, menjuluki mereka sebagai ’sultan-sultan yang dibaptis’ (the baptized sultans) atau Krypto-Muslims.

Kecenderungan mereka terhadap kebudayaan Islam begitu menonjol sampai-sampai salah satu raja mereka, Frederick II (1208-1250), memprotes saat berkunjung ke Yerusalem dan tidak mendengar suara azan. Ia meminta Gubernur kota tersebut agar memerintahkan para muazzin mengeraskan azannya seperti biasa karena ia suka mendengarnya. Saat meninggal dunia, ia minta dikuburkan dengan menggunakan kain kafan, sebagaimana tradisi umat Islam. Sikap cenderung pada kebudayaan Islam di Sisilia ini tidak hanya berlaku di kalangan para raja, tetapi juga rakyat biasa.

Seorang pengembara Muslim bernama Ibn Jubayr mencatat beberapa kebiasaan Muslim yang diadopsi oleh komunitas Kristen saat ia berkunjung ke pulau itu pada tahun 1185. Ibn Jubayr menyebutkan bahwa kaum perempuan di pulau itu banyak yang mengikuti cara berpakaian kaum Muslimin, termasuk menggunakan kerudung. Masyarakat Kristen di pulau tersebut juga tidak makan daging babi. Namun, karena tekanan Vatikan, pengaruh dan eksistensi umat Islam di pulau tersebut terus dikikis hingga akhirnya terhapus sama sekali pada tahun 1300.

Hal semacam ini selalu berlaku di sepanjang sejarah. Bangsa yang inferior cenderung mengikuti bangsa yang superior secara politik dan budaya. Hal itu juga yang sedang terjadi pada banyak kaum Muslimin hari ini. Pertanyaannya adalah, sampai kapan kaum Muslimin akan membiarkan peradabannya terus berada di posisi yang inferior? Dan akhirnya, terlepas dari kekalahan budaya yang mereka derita, semoga kaum Muslimin yang hidup di zaman modern ini mampu bersikap independen terhadap penetrasi budaya Barat, seperti sikap yang diambil Malik Bennabi saat ia memilih untuk tidak bersikap inferior ataupun superior terhadap kebudayaan Barat.

Ia lebih memilihnya untuk menempatkan peradaban Barat sesuai dengan konteks sejarahnya. Dengan begitu kaum Muslimin akan memahami bahwa masyarakat Barat pun pernah kalah secara budaya dan kedigdayaan mereka hari ini juga tidak akan bertahan selamanya. Dari sana kaum Muslimin bisa membebaskan diri mereka dari sikap ikut-ikutan yang bodoh dan tidak perlu, dan kemudian merencanakan langkah-langkah strategis untuk membangun kembali peradaban mereka yang tengah terpuruk. [Kuala Lumpur, 17 Muharram 1431/3 Januari 2010

http://www.hidayatullah.com/kajian/sejarah/read/2010/01/04/263/mozarabic-christians.html

Jakarta: Kota Seribu Majelis Taklim

Alwi Alatas

Jakarta adalah kota dengan banyak wajah. Ia menampakkan wajah yang carut marut di satu sisi, tapi juga memiliki wajah yang cerah di sisi yang lain. Padatnya penduduk, kemacetan lalu lintas di berbagai ruas jalan, anak-anak jalanan di sana-sini, serta bertebarannya tempat-tempat maksiat merupakan sebagian dari kekusutan yang ditampilkan kota ini. Tapi Jakarta juga memiliki wajah lain yang positif, wajah yang Islami. Masjid dan mushala berdiri di banyak tempat, kadang seperti tanpa perencanaan, sehingga dalam jarak kurang dari lima puluh meter mungkin boleh dijumpai dua buah mushala. Azan di setiap waktu shalat sangat mudah terdengar, khususnya di pemukiman yang dominan dihuni komunitas Betawi, penduduk lokal Jakarta, karena jarak masjid dan mushala yang sangat dekat dengan rumah-rumah penduduk. Pengajian dan majelis-majelis taklim tumbuh dengan subur. Dan dalam beberapa kesempatan, apresiasi penduduknya terhadap politik Islam cukup tinggi. Semua itu tentunya bukan fenomena yang muncul tiba-tiba, karena Jakarta merupakan sebuah kota yang memiliki sejarah panjang.

sunda kelapa

Sebelum era Islam, Jakarta merupakan kota pelabuhan utama milik Kerajaan Hindu Pajajaran. Namanya ketika itu Sunda Kalapa, yang tampaknya memiliki pengertian tanah Sunda yang memiliki banyak pohon kelapa di wilayahnya (Soekirno, 1995: 17). Kota-kota pelabuhan di pesisir utara Jawa merupakan pusat-pusat perdagangan yang sangat sibuk dan menjadi tempat berkumpulnya para pedagang dari berbagai negeri. Antara abad ke-12 dan 16, terlebih setelah bermunculannya kerajaan-kerajaan Islam lokal di Sumatera dan Semenanjung Malaya, aktivitas para pedagang Muslim menjadi semakin menonjol di pantai-pantai utara Jawa. Secara bertahap, beberapa penguasa pesisir mulai masuk Islam dan membangun hubungan lebih kuat dengan para pedagang dan pendatang Muslim (Taylor, 2005: 159). Ketika Kerajaan-kerajaan Islam seperti Demak, Banten, dan Cirebon, bermunculan di pantai-pantai utara Jawa, maka Kerajaan Hindu Pajajaran yang berpusat di pedalaman Jawa Barat semakin terdesak ke pedalaman. Hubungan yang belakangan dibangun oleh Pajajaran dengan Portugis membuat Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa ini menjadi lebih waspada dan antisipatif terhadap kemungkinan masuknya pengaruh Portugis ke Jawa.

Pada tahun 1527, Fatahillah atau Fadhilah Khan, atas dukungan Demak, Cirebon, dan Banten, mengalahkan pasukan Portugis yang hendak masuk ke pelabuhan Sunda Kelapa, sekaligus mengambil alih kota itu dari tangan Pajajaran. Nama kota itu kemudian diubah menjadi Jayakarta yang bermakna kemenangan yang nyata dan mendapat inspirasi dari ayat pertama Surat al-Fath dalam al-Qur’an. Sejak itu, Jayakarta menjadi sebuah pusat pemerintahan Islam yang baru. Ia menjadi negeri bawahan Banten. Tata kota dikembangkan sejalan dengan pusat-pusat pemerintahan Islam di Jawa lainnya (Tjandrasasmita, 2009: 152).

peta-batavia-tempo-dulu

Bagaimanapun, versi sejarah resmi kelahiran Jakarta ini mendapat penolakan dari sejarawan dan budayawan Betawi, Ridwan Saidi. Menurut Saidi, pada saat kota itu direbut oleh Fatahillah, di sana sudah ada 3000 orang Betawi, atau proto-Betawi, Muslim. Syahbandar Sunda Kelapa ketika itu berasal dari kalangan mereka, walaupun kota ini berada di bawah Kerajaan Pajajaran. Saat Fatahillah masuk ke kota ini, penduduk lokal ini justru terusir keluar dari Jakarta. Nama Jayakarta dan 22 Juni 1527 sebagai tanggal kemenangan Fatahillah dan hari lahir Jakarta juga mendapat kritik dari Ridwan Saidi. Nama Jayakarta menurutnya sudah dikenal oleh penduduk Sunda Kelapa sebelum kedatangan Fatahillah dan penetapan 22 Juni sebagai hari jadi Jakarta lebih merupakan sebuah keputusan politik ketimbang sejarah (eramuslim.com). Kritik ini tentunya menjadi tantangan bagi pera peneliti untuk mengkaji kembali sejarah Jakarta dan peranan Fatahillah di dalamnya.

Terlepas dari kontroversi di atas, pemerintahan Jayakarta hanya berlangsung kurang dari satu abad. Pada tanggal 30 Mei 1619, perusahaan dagang Belanda, VOC, di bawah kepemimpinan Jan Pieterszoon Coen merebut kota ini dari tangan Pangeran Wijayakrama. Pangeran Wijayakrama dan keluarganya kemudian mengundurkan diri ke daerah yang sekarang ini dikenal sebagai Jatinegara Kaum. Setelah penaklukkan tersebut, VOC mengganti nama kota ini menjadi Batavia dan menjadikannya sebagai pusat pemerintahannya di Hindia Belanda (Tjandrasasmita, 2009: 142-3).

Menurut Karel Steenbrink, pola kebijakan VOC pada tingkat tertentu membuat Batavia terlihat seperti sebuah kantong Kristen yang kaku di tengah negeri Muslim. Pemisahan Islam-Kristen dan pembatasan terhadap tempat ibadah selain Kristen di dalam tembok kota Batavia, yang saat itu berada di Jakarta Utara, merupakan kebijakan yang diambil oleh VOC. Bagaimanapun, pemerintah kolonial tidak terlalu berhasil dalam hal ini. Secara gradual mereka terpaksa mengakui dan ikut mengatur hal-hal yang terkait dengan Islam. Pada tahun 1748 seorang ulama ditunjuk  sebagai pengawas utama sebuah masjid di luar gerbang Utrecht, Batavia. Enam tahun kemudian sebuah kopendium Hukum Islam yang berkaitan dengan warisan, pernikahan, dan perceraian disusun setelah berkonsultasi dengan Delegasi Urusan Pribumi serta para ulama dan pegawai dari kampung-kampung di sekitar kota itu. Hukum ini berlaku bagi kaum Muslimin, sementara hukum sipil pemerintah kolonial berlaku bagi orang-orang Eropa (Steenbrink, 2006: 71-2). Keterlibatan pemerintah kolonial dalam urusan-urusan keislaman akan semakin meningkat pada masa-masa berikutnya.

Kadang gubernur jenderal Belanda sendiri merasa terkesan dengan keilmuan yang dimiliki ulama setempat atau yang kebetulan sedang berada di Batavia. Pada tahun 1773, misalnya, tiga orang ulama Nusantara, seorang di antaranya berasal dari Jakarta, kembali dari masa belajar mereka di Timur Tengah. Mereka adalah Muhammad Arshad, Abd al-Rahman al-Batawi al-Masri, dan Abd al-Wahab al-Bugisi. Abd al-Rahman al-Batawi meminta rekannya, Muhammad Arshad, untuk tinggal di Batavia selama dua bulan, sebelum yang terakhir ini meneruskan perjalanannya ke Banjarmasin. Pada masa ini, Muhammad Arshad melakukan koreksi arah kiblat terhadap beberapa masjid di Batavia, antara lain Masjid Jembatan Lima dan Masjid Pekojan. Hal ini menimbulkan kontroversi di kalangan tokoh-tokoh Muslim setempat dan mendorong Gubernur Jenderal Belanda memanggil Muhammad Arshad untuk memberikan penjelasan. Dalam pertemuan itu, Gubernur Jenderal merasa terkesan dengan kemampuan kalkulasi Muhammad Arshad dan memberinya beberapa hadiah. Abd al-Rahman al-Batawi sendiri beberapa tahun kemudian melakukan hal yang sama, kali ini di Palembang. Pembetulan kiblat ini pun memicu terjadinya perdebatan di kalangan tokoh-tokoh Muslim setempat (Khan, 2006: 192).

Salah satu bentuk kebijakan kolonial lainnya adalah segregasi etnis. Berbagai etnis, baik yang berasal dari Nusantara ataupun yang berasal dari negeri-negeri lainnya, seperti India, Arab, Cina, dan Persia, biasanya ditempatkan di Batavia pada lokasi-lokasi yang terpisah. Walaupun kampung-kampung di Batavia diatur berdasarkan asal-usul etnis, tetapi pernikahan di antara etnis-etnis yang berbeda ini kerap terjadi. Konflik antar etnis agak jarang terjadi dibandingkan konflik di dalam internal etnis sendiri, yang biasanya muncul karena perbedaan agama. Ikatan etnis dan traditional semakin berkurang dan nilai-nilai dari agama yang sama, yaitu Islam, menjadi pembentuk identitas yang baru dari masyarakat Batavia pada umumnya (Nas and Grijns, 2000: 16).

20121108113547Batavia_Landungsplatz_(1)

Orang yang berkunjung ke Batavia akan mendapati penduduknya mengidentifikasi diri mereka sebagai Muslim. Islam menjadi identitas utama mereka mendahului identitas etnis. Sebenarnya, hal ini berlaku umum di Batavia dan kota-kota lainnya di Jawa pada abad ke-18 hingga awal abad ke-20. Seperti ditulis Michael Laffan, ketika seorang pribumi diminta untuk menyebutkan identitas atau kebangsaannya, maka seorang Melayu atau Jawa akan menyatakan kebangsaan utamanya sebagai Islam. Semua orang yang mengenakan peci akan dianggap sebagai orang Islam dan sebutan orang Jawa, orang Sunda, ataupun lainnya, hanya menjadi suatu subkategori jika dikaitkan dengan identitas sebagai Muslim (Laffan, 2003: 99).

Kuatnya ikatan dan identitas Islam dapat dilihat contohnya pada kedatangan etnis Ambon dan Bali dari tempat asal mereka ke Batavia pada abad ke-17. Pada tahun 1656, angkatan pertama orang-orang Ambon didatangkan ke Batavia oleh pemerintah kolonial. Mereka sebenarnya berasal dari pulau-pulau dan sub-etnis yang berbeda di Maluku, tetapi di Batavia mereka dihimpun dalam satu kumpulan yang sama. Pada tahun 1671 terjadi konflik di antara sesama mereka. Pemicunya bukan asal-usul tempat atau kesukuan, melainkan perbedaan agama. Hal ini membuat pemerintah kolonial terpaksa menempatkan orang-orang Ambon Kristen secara terpisah dari rekan-rekannya yang Muslim.

Pada tahun 1686 sekumpulan orang Bali didatangkan ke Batavia. Ketika itu sudah ada orang-orang Bali yang dilahirkan dan tinggal di Batavia. Yang terakhir ini meminta kepada pemerintah kolonial agar para pendatang baru ditempatkan pada kampung yang terpisah dengan kepala kampung yang berbeda juga. Walaupun perbedaan waktu kedatangan mereka hanya terpaut beberapa puluh tahun saja, tetapi di antara orang-orang Bali yang sudah lama berada di Batavia dengan yang baru datang terdapat perbedaan yang cukup besar. Tampaknya orang-orang Bali yang telah menetap di Batavia telah beralih menjadi Muslim selama mereka tinggal di Jakarta. Semua ini membuat Remco Raben menyimpulkan, “It is remarkable that while conflicts mounted within certain ethnic groups, only rarely did clashes occur between groups. The absence of friction or competition along ethnic lines casts further doubt on the existence of clear ethnic boundaries between these groups. Here we are witness to the strong assimilatory power of Islam” (Raben , 2000: 99-100).

Selama masa pemerintahan kolonial, Islam di Batavia terus berkembang. Orang-orang dari berbagai suku bangsa di Nusantara, seperti Sunda, Jawa, Bugis, Banjar, Banda, Bali, Ambon, dan lainnya, serta dari berbagai negeri, seperti Arab, Turki, Persia, Mesir, India, Cina, Patani-Thailand, Kamboja, dan Birma, berdatangan dan menetap di Batavia. Mereka menetap di perkampungan yang terpisah, tetapi interaksi dagang dan juga keagamaan berjalan dan berkesinambungan di antara mereka. Bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Melayu (Tjandrasasmita, 2009: 143-4).

Keberadaan masjid-masjid tua di Jakarta menjadi saksi bisu berkembangnya gairah keagamaan di kota ini sejak masa yang lama. Masjid-masjid tua yang masih ada hingga sekarang ini telah berdiri sejak abad ke-18, bahkan abad ke-17. Alwi Shihab mencatat bahwa masjid Salafiah di Jatinegara Kaum merupakan pengembangan dari sebuah mushala yang dibangun oleh Pangeran Ahmad Jaketra pada tahun 1620, hanya satu tahun setelah ia dan keluarganya kalah dari VOC dan terusir keluar dari Batavia (Shihab, 2004: 91).

Masjid-masjid tua lainnya di Jakarta antara lain: Masjid Langgar Tinggi (1740), Masjid Bandengan (1749), Masjid Angke (1761), Masjid Tambora (1761) yang didirikan oleh Haji Mustoyib Ki Daeng, Masjid Kebon Jeruk (1785/6) yang didirikan oleh seorang Tionghoa Muslim, Tamien Dosol Seeng, Masjid al-Ansor (1848), masjid al-Mansur (abad ke-18), serta masjid Marunda (abad ke-17/ 18). Selain itu ada juga Masjid Luar Batang (1739) yang dibangun oleh Sayid Husein bin Abu Bakar al-Aydrus. Makam Sayid Husein yang terletak berdampingan dengan Masjid Luar Batang hingga kini masih menjadi tempat ziarah yang ramai dikunjungi orang, baik dari Jakarta maupun dari kota-kota lainnya (Tjandrasasmita, 2009: 156).

220px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Moskee_in_Pekodjan_Batavia_TMnr_10016511

Masjid Pekojan

Pada masa-masa ini Batavia merupakan salah satu sentra jaringan ulama di Asia Tenggara dan pada awal abad ke-20 ia merupakan salah satu pusat pergerakan Islam yang penting. Batavia, bersama Singapura, menjadi tempat transit jamaah haji serta para pelajar dan ulama Nusantara yang hendak berangkat atau pulang dari Timur Tengah. Komunikasi antara para ulama Batavia dengan para ulama Hijaz terkait dengan persoalan-persoalan keagamaan yang berkembang di Nusantara serta permintaan akan fatwa juga kerap terjadi (Laffan, 2003: 26). Jaringan intelektual ulama di Batavia pada penghujung abad ke-19 hingga abad ke-20 mengambil peranan yang penting. Tokoh yang cukup menonjol pada masa ini antara lain Sayyid Usman bin Abd Allah bin Yahya (1822-1913) yang dikenal sebagai mufti Batavia.

Terlepas dari hubungan dekatnya dengan Snouck Hurgronje dan pemerintah kolonial serta sikapnya yang berseberangan dengan gerakan modern Islam yang muncul kemudian, sumbangan keilmuannya serta peranannya dalam penerbitan risalah-risalah keislaman cukup besar. Beliau memiliki banyak murid yang meneruskan tradisi keilmuan di Batavia, di antaranya adalah Habib Ali bin Abd al-Rahman al-Habsyi (1869/70-1968) yang kemudian mendirikan majelis taklim di Kwitang, Jakarta Pusat. Majelis taklim yang diadakan setiap hari Ahad pagi itu berkembang pesat dan dihadiri banyak orang. Di antara murid Habib Ali al-Habsyi adalah KH Abdullah Syafei, pendiri majelis taklim Asyafiiyah, KH Tohir Rohili, pendiri majelis taklim Tahiriyah, serta KH Abdulrazak Makmun dan KH Zayadi (artikel.pelajar-islam.or.id). Para ulama ini kemudian melanjutkan tradisi keilmuan di Batavia sehingga majelis-majelis taklim banyak bermunculan di penjuru Jakarta.

Di samping berkembangnya majelis taklim yang bercorak tradisional, Batavia juga menjadi salah satu pusat pergerakan Islam yang penting di awal abad ke-20. Jamiat Khayr, organisasi serta sekolah modern Islam pertama di Indonesia ditubuhkan di Batavia. Organisasi Jamiat Khayr berdiri pada tahun 1901 (Mobini-Kesheh, 1999: 36) sementara sekolahnya berdiri pada tahun 1905 (Noer, 1994: 68). Walaupun organisasi yang didirikan oleh kalangan keturunan Hadrami ini kemudian mengalami perpecahan dan kemunduran, tetapi gerakan-gerakan modern Islam lainnya terus bermunculan dan memainkan peranan penting dalam proses kemerdekaan Indonesia.

Setelah kemerdekaan, nama Batavia diganti menjadi Jakarta. Warna Islam masih terlihat jelas di berbagai belahan Jakarta hingga sekarang ini. Masjid-masjid dengan pengajian dan majelis-majelis taklimnya serta suara azan yang bersahutan di setiap waktu shalat masih menjadi ciri khas kota Jakarta. Ekspresi Islam juga terlihat pada sekitar seratus nama jalan di Jakarta sekarang ini yang menggunakan nama-nama haji tertentu (Nas and Grijns, 2000: 17). Walaupun kota ini sudah berusia ratusan tahun dan semakin padat oleh penduduk, Islam tampaknya tak jua memudar dan tak menjadi senja di ufuk kota Jakarta.

Kuala Lumpur

23 Syawal 1433/ 10 September 2012

Daftar Pustaka

Khan, I.K. Islam in Modern Asia. New Delhi: MD Publications. 2006.

Laffan, Michael Francis. Islamic Nationhood and Colonial Indonesia: The umma below the winds.

London: RoutledgeCurzon. 2003.

Mobini-Kesheh, Natalie. The Hadhrami awakening, community and identity in the Netherlands East

Indies, 1900-1942. New York: Cornell Southeast Asia Program Publications. 1999.

Nas, Peter J.M.  and Kees Grijns. “Jakarta-Batavia: A sample of current socio-historical research” dalam

Kees Grijns and Peter J.M. Nas. Jakarta: Socio-cultural essays. Leiden: KITLV Press. 2000.

Noer, Deliar. Gerakan Modern Islam di Indonesia, 1900-1942. Jakarta: LP3ES. 1994.

Raben, Remco. “Round about Batavia: Ethnicity and authority in the Ommenlanden, 1650-1800” dalam

Kees Grijns and Peter J.M. Nas. Jakarta: Socio-cultural essays. Leiden: KITLV Press. 2000.

Shihab, Alwi. Betawi: Queen of the East. Jakarta: Republika. 2004.

Soekirno, Ade. Pangeran Jayakarta: Perintis Jakarta Lewat Sejarah Sunda Kelapa. Jakarta: Grasindo.

1995.

Steenbrink, Karel. Dutch Colonialism and Indonesian Islam: Contacts and Conflicts 1596-1950

(diterjemahkan oleh Jan Steenbrink and Henry Jansen). Amsterdam: Rodopi. 2006.

Taylor, Jean Gelman. “The Chinese and the early centuries of conversion to Islam in Indonesia,” dalam

Tim Lindsey and Helen Pausacker  (eds). Chinese Indonesians: Remembering, distorting,

forgetting. Singapore: Institute of Southeast Asian Studies. 2005.

Tjandrasasmita, Uka. Arkeologi Islam Nusantara. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. 2009.

http://artikel.pelajar-islam.or.id/dunia.pii/arsip/habib-ali-alhabsyi-ulama-pejuang-dan-pendidik-dari-betawi.html.

http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/mengkritisi-peran-fatahillah-di-jakarta.htm http://megapolitan.kompas.com/read/2011/06/23/02362462/Mereka.Mengusir.Kita.Kok.Dirayakan.

Keemiran Islam di Pulau Kreta

Alwi Alatas

Para pelajar sekolah menengah yang mempelajari sejarah dan mitologi Yunani Kuno tentu pernah mendengar sekilas tentang Pulau Kreta, tempat kelahiran legenda raja Minos, Minotaur, dan berbagai kisah aneh Yunani lainnya. Pulau yang bentuknya mirip Pulau Jawa itu terletak di perairan Mediterania (Bahr al-Rum) di selatan Yunani. Kreta merupakan salah satu pulau besar di Mediterania. Posisinya yang strategis menjadikannya sebagai tempat transit para pedagang di perairan tersebut. Karena posisinya yang dekat ke Eropa, selama berabad-abad pulau tersebut berada di bawah pengaruh Yunani, dan kemudian Romawi.

3352 - Ancient Crete

Ketika Islam muncul dan menyebar ke Afrika Utara, kehadiran Islam begitu terasa di perairan Mediterania. Belum genap satu abad tahun hijriah, Islam sudah masuk ke Semenanjung Iberia (Spanyol). Pulau-pulau di perairan Mediterania satu demi satu mulai jatuh ke tangan Islam, menyisakan permusuhan pihak Byzantium (Romawi Timur) dan Eropa Latin – penguasa awal wilayah-wilayah tersebut – yang sejak lama memang bersikap memerangi kaum Muslimin.

Upaya-upaya penaklukkan Pulau Kreta telah berlangsung sejak awal masa Bani Umayyah. Dalam beberapa upaya penaklukkan, sebagian Pulau Kreta sempat jatuh ke tangan kaum Muslimin, walaupun tidak berlangsung lama, karena pulau itu berhasil dikuasai kembali oleh Byzantium.[1] Penguasaan Pulau Kreta oleh kaum Muslimin baru terjadi secara permanen pada tahun 827, ketika sekumpulan besar kaum Muslimin Andalusia yang terusir dari kampung halamannya memutuskan untuk masuk dan menguasai Pulau Kreta.[2] Mereka kemudian mendirikan keemiran Islam di pulau tersebut dan mempertahankannya selama satu abad lebih terhadap upaya penguasaan kembali oleh pihak Byzantium.

Ada latar belakang menarik yang mendorong orang-orang Andalusia ini bermigrasi dan pada akhirnya menjadi penguasa Pulau Kreta. Pada tulisan kami yang lain pernah disebutkan bahwa ada banyak alasan yang mendorong manusia melakukan migrasi, di antaranya adalah karena alasan politik. Persoalan politik pulalah yang menyebabkan orang-orang Andalusia ini pergi keluar dari kampung halamannya menuju Aleksandria, dan kemudian ke Pulau Kreta.

Kisahnya bermula di Andalusia, tepatnya di ibukota Cordova. Ketika itu Andalusia dipimpin oleh al-Hakim I (ibn Hisham), dan terjadi ketidakpuasan di kalangan tokoh-tokoh dan masyarakat Cordova yang melibatkan juga beberapa ulama dan teolog penting madzhab Maliki, seperti Yahya ibn Yahya al-Leythi dan Talut. Penguasa Bani Umayyah yang satu ini dianggap memiliki kecenderungan yang terlalu besar terhadap kesenangan duniawi. Ketidakpuasan ini mendorong terjadinya pemberontakan terhadap al-Hakim. Al-Hakim berhasil menumpas gerakan tersebut, menghancurkan perkampungan mereka sampai rata, termasuk masjid-masjid yang ada di dalamnya, serta mengusir para pemberontak keluar dari Andalusia. Sebagian dari mereka bermigrasi ke Fez, Maroko, dan menetap di sebuah lokasi yang kemudian dikenal sebagai Medinatu-l-Andalusiin. Sebagian lainnya bermigrasi lebih jauh dan mencari peruntungan mereka di kota Aleksandria, Mesir.[3]

Orang-orang Andalusia yang bermigrasi ke Aleksandria jumlahnya cukup banyak. Para sejarawan menyebutkan jumlah yang bervariasi antara 3000 hingga 15.000 orang. Mereka dipimpin oleh Abu Hafs Umar al-Andalusi al-Balluti, yang berasal dari Fahs al-Ballut, sebuah wilayah di Cordova.[4] Kota Aleksandria ketika itu sedang mengalami ketidakstabilan politik. Bersama dengan penduduk setempat para migran Andalusia ini kemudian mendirikan sebuah republik kecil di kota itu. Mereka menjalankan pemerintahan di sana selama kurang lebih 12 tahun.

Pada tahun 827, Dinasti Abbasiyah menunjuk seorang gubernur baru, Abdullah ibn Tahir, untuk menertibkan kembali wilayah Mesir. Ibn Tahir mengepung Aleksandria dan berhasil mengalahkan para migran Andalusia ini. Ibn Tahir memberikan jaminan bagi mereka untuk keluar dari Aleksandria dengan aman dengan syarat mereka tidak membawa serta penduduk Mesir, tidak membawa budak, dan tidak mendaratkan kapal mereka di wilayah kekhalifahan Islam (Dinasti Abbasiyah).[5] Syarat ini disetujui dan mereka pun berangkat dengan kapal-kapal mereka menuju Pulau Kreta.

Saracen_fleet_against_Crete

Pada masa itu orang-orang Arab Muslim menyebut Pulau Kreta dengan nama Ikritish. Pulau itu terkenal sebagai penghasil susu, keju, dan madu yang baik. Dua yang terakhir ini merupakan produk-produk yang diekspor ke Mesir. Pulau Kreta juga merupakan penghasil delima, damar wangi, antimon, dan kacang walnut dan hazelnut. Perdagangan ekspor-impor merupakan aktifitas yang cukup menonjol di sana.

Ketika Abu Hafs dan anak buahnya tiba di Pulau Kreta diceritakan bahwa ia memerintahkan kapal-kapal yang membawa mereka untuk dibakar. Ketika muncul protes, Abu Hafs menegaskan bahwa mereka tidak semestinya mengeluh karena mereka telah sampai di ’tanah yang berlimpah susu dan madu.’ Pulau Kreta akan menjadi negeri mereka yang sesungguhnya. Mereka bisa menikahi penduduk setempat dan membangun sebuah generasi baru.[6] Terlepas dari perbedaan pendapat apakah kisah ini merupakan fakta sejarah atau hanya cerita yang bercampur dengan legenda, kaum migran dari Andalusia ini kemudian memang menetap di pulau itu dan membangun generasi baru di sana.

Mereka menjadikan wilayah pendaratan mereka sebagai basis pertahanan dan membangun parit perlindungan (khandaq, dalam bahasa Arab) di sekelilingnya. Tempat ini kemudian menjadi ibukota keemiran Islam dan diberi nama al-Khandaq. Orang-orang Yunani menyebut kota tersebut Chandax dan nama itu kemudian berubah menjadi Candia, yang merupakan bentuk terkorupsi dari kata khandaq. Lokasinya kurang lebih sama dengan kota Herakleion sekarang ini. Abu Hafs dan para pengikutnya tidak menghadapi banyak rintangan dalam menguasai pulau tersebut. Byzantium sedang menghadapi persoalan internal sehingga tidak bisa mengirimkan pasukan untuk mempertahankan pulau itu. Selain itu, tidak ada resistensi dari masyarakat Kristen setempat yang rupanya memendam rasa tidak puas terhadap penguasa Byzantium. Sejak saat itu, berbagai serangan sering dilakukan oleh pasukan Muslim Pulau Kreta terhadap daerah kekuasaan Byzantium yang berdekatan. Armada yang dikirim kekaisaran Byzantium untuk merebut pulau itu tidak membuahkan hasil. Pulau Kreta tumbuh menjadi duri bagi kekaisaran Romawi Timur itu. Penaklukkan Sisilia yang dipimpin oleh Asad ibn al-Furat juga rupanya terjadi atas dukungan kaum Muslimin di Kreta yang menyediakan tempat bersinggah di pulau itu bagi Ibn al-Furat dan pasukannya sebelum mereka masuk ke Sisilia.[7]

Walaupun Pulau Kreta sejak saat itu terus menerus berada dalam konflik dan peperangan dengan Byzantium, tetapi masyarakat di pulau itu sendiri hidup berdampingan secara damai dan toleran. Pulau Kreta di bawah pemerintahan Islam memiliki kebudayaan urban yang cukup tinggi.[8] Pada masa-masa ini, Kreta membangun hubungan ekonomi dan budaya dengan Andalusia, walaupun secara politik mereka lebih berkiblat pada Dinasti Abbasiyyah. Ibukotanya merupakan pusat intelektual yang cukup penting.[9] Sayangnya tidak banyak sumber-sumber yang mencatat dengan baik sejarah keemiran Pulau Kreta serta prestasi-prestasi yang ada di sana. Sejarahnya hanya muncul sebagai suatu catatan pinggir tentang kisah pemberontakan di wilayah Islam yang berhasil diatasi dan para pelakunya disingkirkan ke wilayah lain, atau sebagai pengacau wilayah Byzantium yang telah mengganggu wilayah-wilayah kekaisaran tersebut selama satu abad lebih.

Romans_(Niketas_Oryphas)_punish_Cretan_Saracens

Kepemimpinan Pulau Kreta setelah Abu Hafs Umar al-Balluti diteruskan oleh keturunannya, yang seluruhnya kurang lebih mencapai sepuluh orang emir.[10] Setelah 134 tahun berada di bawah kendali Muslim, pada tahun 961 Byzantium di bawah kepemimpinan Nicephorus Pochas menginvasi pulau itu. Upaya sultan terakhir Pulau Kreta, Abd al-Aziz, meminta bantuan pada pemimpin Muslim di Syria dan Dinasti Fatimiyah di Afrika Utara, serta upaya dua pihak yang terakhir ini untuk membantu, tidak membuahkan hasil. Pulau itu akhirnya jatuh ke tangan Byzantium. Bersama dengan penaklukkan Byzantium tersebut, kota-kota dihancurkan, kaum Muslimin dibunuh atau dijadikan tawanan, masjid-masjid dimusnahkan, dan kitab-kitab al-Qur’an dibakar. Kaum Muslimin yang masih tersisa di pulau itu dipaksa masuk Kristen. Secara bertahap kaum Muslimin lenyap dari pulau itu. Jatuhnya Pulau Kreta dan kekerasan terhadap Muslim di sana menimbulkan ledakan kemarahan di Mesir yang menyebabkan jatuh korban di kalangan komunitas Kristen negeri itu.[11] Tapi kemarahan yang bersifat reaktif itu tentu saja tidak berkelanjutan dan tidak mendorong dilakukannya penghapusan orang-orang Kristen di Mesir seperti yang dilakukan pihak Byzantium terhadap kaum Muslimin di Pulau Kreta.

Sejak saat itu, Pulau Kreta kembali berada di bawah kendali Byzantium, dan pada masa Perang Salib jatuh ke tangan Venesia untuk beberapa saat lamanya. Bagaimanapun, sejarah Islam di pulau itu rupanya belum betul-betul berakhir. Pada pertengahan abad ke-17 pulau itu dikuasai oleh Turki Utsmani. Pulau Kreta tetap berada di pangkuan Turki Utsmani selama kurang lebih dua abad. Ketika kekhalifahan yang terakhir itu semakin lemah pada abad ke-19, banyak wilayah di bawahnya yang memberontak dan hendak memisahkan diri, termasuk di antaranya Yunani dan Kreta. Pulau Kreta benar-benar memisahkan diri dan bergabung dengan Yunani bersamaan dengan terjadinya Perang Dunia Pertama.

Kaum Muslimin telah dua kali masuk ke Pulau Kreta, dan dua kali pula mereka keluar dari pulau itu. Adakah mereka akan kembali ke pulau itu untuk yang ketiga kalinya suatu hari nanti? Wallahu a’lam.

Kuala Lumpur,

18 Rabi al-Akhir 1431, 2 April 2010

[1] Untuk upaya-upaya awal penaklukkan pulau ini lihat Dr. Ismat Ghanīm, Al-Imbirātūriya al-Bīzanţiya wa Krīt al-Islāmiya, Dār al-Majma’ al-’Alami, 1977, hlm. 33-34. Menurut buku ini, serangan ke Pulau Kreta oleh Kekhalifahan Islam terjadi untuk pertama kalinya pada masa pemerintahan Muawiyya ibn Abi Sufyan pada tahun 674 (54 H).

[2] Hamilton A.R. Gibb, Studies on the Civilization of Islam, Princeton: Princeton University Press, 1982, hlm. 48.

[3] Ahmed ibn Mohammed al-Makkari, The History of the Mohammedan Dynasties in Spain, vol. II (extracted from Nahfu-t-Tib min Ghusni-l-Andalusi-r-Rattib wa Tarikh Lisanu-d-Din Ibni-l-Khattib), Delhi: Idarah-I Adabiyat-I Delli, 1984, hlm. 102-103.

[4] M. Canard, ‘Ikritish,’ dalam The Encyclopaedia of Islam, new edition, vol. III, Leiden: E.J. Brill, 1979, hlm. 1082-1083; E. Levi-Provencal, ‘Abu Hafs ‘Umar b. Shu’ayb al-Balluti,’ dalam The Encyclopaedia of Islam, new edition, vol. I, hlm. 121. Lihat juga Dr. Ismat Ghanīm, Al-Imbirātūriya, hlm. 38-39.

[5] M. Canard, ‘Ikritish,’ hlm. 1083; Dr. Ismat Ghanīm, Al-Imbirātūriya, hlm. 40.

[6] Muhammad Abdullah Enan, Decisive Moments in the History of Islam, Delhi: Idarah-I Adabiyat-I Delli, 1983, hlm. 76-77.

[7] M. Canard, ‘Ikritish,’ hlm. 1083; Muhammad Abdullah Enan, Decisive Moments, hlm. 77.

[8] Alexander P. Kazhdan (ed.), The Oxford Dictionary of Byzantium, vol. 1 (Aaro-Eski), New York: Oxford University Press, 1991, hlm. 546.

[9] E. Levi-Provencal, ‘Abu Hafs,’ hlm. 121.

[10] Lhat daftarnya pada M. Canard, ‘Ikritish,’ hlm. 1085.

[11] Ibid., hlm. 1084-1085.

Fenomena Hijrah

Alwi Alatas

Kita telah memasuki tahun baru Hijriah 1431. Setiap memasuki bulan Muharram kaum Muslimin selalu mengenang perjalanan hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam beserta para sahabatnya dari Makkah ke Madinah. Komunitas Muslim di Makkah ketika itu berada dalam keadaan tertindas dan terdzalimi, sehingga mereka tidak memiliki pilihan lain selain bermigrasi ke tempat yang baru, yaitu Madinah.

Rasulullah sendiri berangkat dari Makkah bersama Abu Bakar al-Shiddiq di malam hari pada akhir bulan Safar tahun pertama Hijriah. Keduanya bersembunyi di gua Tsaur di Selatan Makkah selama tiga hari hingga tanggal 1 Rabiul Awwal. Setelah itu keduanya berangkat menuju Madinah hingga tiba di Quba (di Selatan Madinah) pada hari Senin, 8 Rabiul Awwal. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam membangun sebuah masjid di Quba’ dan menetap di wilayah tersebut selama empat hari. Barulah setelah itu beliau masuk ke Madinah dengan disambut oleh masyarakat kota tersebut. Ada banyak pelajaran yang terdapat di dalam kisah hijrah. Tulisan ini akan membahas beberapa hal penting terkait dengan fenomena hijrah.

Hijrah secara bahasa berarti perpindahan atau migrasi dari satu tempat ke tempat yang lain. Fenomena migrasi sebetulnya merupakan fenomena yang sangat tua dalam sejarah umat manusia. Sejak awal peradabannya selalu kita dapati sekelompok manusia yang melakukan perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain. Motif perpindahan manusia ini sangat beragam. Banyak orang yang memutuskan untuk bermigrasi karena dorongan ekonomi. Pada zaman dulu mereka berpindah dari satu wilayah yang kurang subur ke wilayah yang lebih subur. Pada masa-masa berikutnya, hingga sekarang ini, manusia berpindah dari satu negeri yang lemah pengelolaan ekonominya ke negara yang lebih menjanjikan secara ekonomi. Orang-orang Cina yang berpindah dan menetap di banyak negeri di dunia mewakili motif ini.

Sekelompok manusia lainnya bermigrasi, atau terpaksa pindah, karena alasan-alasan politik. Kekaisaran Romawi kuno terkadang memindahkan suku-suku barbar tertentu ke tempat yang jauh dari pusat kekuasaan agar mereka tidak menjadi gangguan bagi pemerintah. Persoalan politik juga yang mendorong orang-orang Yahudi berdiaspora ke berbagai belahan dunia setelah al-Quds (Yerusalem) ditaklukkan oleh bangsa Romawi pada tahun 70-an Masehi. Pada masa sekarang ini kita mendapati sekelompok orang yang bermigrasi dalam rangka mencari suaka politik, seperti kaum komunis Indonesia yang menetap di Belanda pasca gagalnya revolusi yang mereka lakukan pada tahun 1965.

libya migrants international migrants day immigration refugees conflict climate change human rights

Persoalan sosial, terutama konflik horizontal yang terjadi di antara suku-suku bangsa juga bisa menjadi motif migrasi. Inilah sebagian alasan mengapa, misalnya, suku-suku Bani Kahlan di Yaman melakukan migrasi ke Utara. Konflik mereka dengan Bani Himyar menjadi salah satu penyebabnya. Salah satu anggota Bani Kahlan, yaitu Tsa’labah bin Amr, berpindah ke Hijaz dan belakangan menetap di Yastrib (yang pada zaman Nabi berganti nama menjadi Madinah). Keturunan dari cucu-cucu Tsa’labah inilah, yaitu Bani Aus dan Khazraj, yang nantinya menyambut Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam dan para Muhajirin untuk tinggal di kota mereka.

Terkadang migrasi juga didorong oleh terjadinya bencana alam. Pada tahun 920-an Masehi kerajaan Mataram Kuno di bawah Mpu Sindok memindahkan pusat pemerintahannya dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, kemungkinan besar dipicu oleh erupsi Gunung Merapi. Perpindahan pusat pemerintahan ini tentu saja diikuti oleh perpindahan masyarakat ke pusat pemerintahan yang baru. Pecahnya bendungan Ma’rib di Yaman pada tahun 450-451 Masehi merupakan contoh lain. Bencana tersebut menyebabkan kemunduran Yaman dan mendorong suku-suku yang ada di sana bercerai-berai dan berpindah tempat.

Terlalu banyak contoh untuk disebutkan disini. Yang jelas, banyak manusia telah melakukan migrasi pada berbagai kurun sejarah yang mereka lalui. Manusia telah ‘bergerak’ sejak permulaan eksistensinya sebagaimana bergeraknya tanah yang mereka pijak (lempeng benua).

Di samping motif-motif yang telah diterangkan di atas, ada segolongan manusia yang bermigrasi dengan motif berbeda. Mereka tidak berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain melainkan dengan dilandasi iman kepada Allah. Mereka menjadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai alasan utama dibalik perpindahan yang mereka lakukan. Inilah yang terjadi pada para Nabi dan orang-orang shalih sepanjang sejarah. Sebagian Nabi melakukan migrasi bersama para pengikutnya setelah penentangan kaum di tempat tinggal mereka memuncak dan Allah memutuskan untuk menghukum mereka. Kita juga mengetahui bagaimana Nabi Ibrahim ’alaihis salam memindahkan istri dan anaknya ke lembah Makkah yang kemudian mengawali sejarah kota tersebut. Kita juga membaca kisah Nabi Yusuf ’alaihis salam yang mengajak ayah dan saudara-saudaranya untuk bermigrasi ke Mesir. Lalu beberapa abad kemudian, ketika tekanan dari rezim Fir’aun yang baru telah menyebabkan Bani Israil jatuh dalam penindasan, Nabi Musa ’alaihis salam muncul dan memperjuangkan pemindahan umatnya dari Mesir ke Palestina.

hijrah (1)

Migrasi telah dilakukan baik oleh para Nabi dan orang-orang shalih maupun oleh kelompok masyarakat lainnya. Yang membedakan adalah motif utama mereka. Nabi shallallahu ’alaihi wasallam pernah bersabda tentang orang yang berhijrah dari Makkah ke Madinah karena perempuan yang disukainya. ”Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya …. Barangsiapa yang hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu karena Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrah karena kesenangan dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya (HR Bukhari dan Muslim). Dua orang yang sama-sama bermigrasi belum tentu memiliki niat dan tujuan yang sama. Hasil yang akan diperoleh keduanya juga tentu akan berbeda.

Terlepas dari motif yang telah dijelaskan di atas, fenomena migrasi memiliki penjelasan lain yang juga menarik. Orang-orang yang bermigrasi, bagaimanapun juga, biasanya terpaksa meninggalkan keadaan yang cukup nyaman kepada keadaan yang kurang atau bahkan tidak nyaman. Orang yang berpindah ke tempat baru biasanya akan berhadapan dengan banyak tantangan yang lebih besar yang pada tingkat tertentu akan memberikan suasana tidak nyaman, setidaknya pada masa awal perpindahannya. Namun jika mereka berhasil merespon tantangan tersebut dengan baik, maka mereka akan muncul sebagai manusia dan masyarakat yang lebih baik dari sebelumnya.

Ketika berpindah ke tempat yang baru, mereka biasanya akan menghadapi iklim dan suasana geografis yang berbeda, berhadapan dengan komunitas dengan budaya dan tradisi yang berbeda. Hal ini tentu saja akan menimbulkan rasa tidak nyaman. Tetapi pada saat yang sama tempat yang baru juga menyajikan berbagai tantangan dan peluang yang mungkin tidak mereka dapati di tempat sebelumnya. Rasa tidak nyaman dan berbagai tantangan yang ada di tempat yang baru pada gilirannya akan mendorong seseorang untuk keluar dari sifat ’santai’ (idle) kepada karakter yang lebih gesit dan cekatan dalam memberikan respon. Kadang perpindahan ke tempat yang baru, ketika tidak diikuti dengan integrasi dengan masyarakat setempat, juga menciptakan rasa keterasingan (alienasi) yang jika direspon secara tepat akan mendorong seseorang untuk bersikap kompetitif dan sanggup bersaing dengan kelompok masyarakat di sekitarnya. Sebaliknya, jika terjadi proses integrasi yang baik, seperti pada kasus kaum Muhajirin dan Anshar, maka akan memunculkan semangat untuk saling tolong menolong dan saling menguatkan di antara para pendatang dan penduduk yang menerima mereka.

Hal-hal inilah yang menjadikan kaum migran biasanya lebih agresif, lebih gesit, dan lebih cekatan dalam menangkap peluang yang ada di tempat yang baru. Tantangan dan rasa kurang nyaman menyebabkan mereka harus selalu sigap dan mampu untuk mengubah berbagai kesulitan menjadi keuntungan di masa depan. Tetapi jika kaum migran ini tidak memiliki visi yang kuat dan segera tenggelam pada kenyamanan yang mungkin ditemukan di tempat yang baru, maka mereka tidak akan mampu merespon berbagai tantangan yang ada dan akan mengabaikan berbagai peluang yang lewat di depan mata mereka.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam dan para sahabat yang berhijrah ke Madinah juga sempat merasakan ketidaknyamanan di tempat yang baru (Madinah). Abu Bakar al-Shiddiq dan Bilal bin Rabah radhiyallahu ’anhuma sakit demam pada hari-hari awal mereka di Madinah karena keadaan di kota tersebut yang lebih panas dan karena kerinduan mereka pada Makkah. Tapi berkat doa Nabi, maka semua ketidaknyamanan itu berhasil mereka lalui dengan baik. Kaum Muslimin yang berasal dari Makkah memang merasakan ujian yang berat menjelang mereka keluar dari kota Makkah. Tapi ketika mereka berhijrah ke Madinah, maka ujian dan tantangan yang mereka terima bukannya makin ringan. Mereka menghadapi suasana geografis yang berbeda dengan tempat tinggalnya dulu, mereka pindah ke Madinah dalam keadaan tidak memiliki harta, masyarakat Madinah pada awalnya juga bersifat majemuk dan rentan terhadap konflik. Selain itu, mereka juga menghadapi ancaman serangan dari luar. Namun, dibawah arahan Nabi shallallahu ’alaihi wasallam mereka berhasil menyikapi semua tantangan tersebut dengan tepat. Sehingga mereka pada akhirnya keluar sebagai pemenang.

hijrah

Sebagaimana dijelaskan oleh Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, sekarang ini sudah tidak ada lagi hijrah. Artinya, jika dulu kaum beriman diperintahkan bermigrasi dari Makkah ke Madinah dan mereka mendapat pahala untuk hijrahnya tersebut, maka setelah penaklukkan kota Makkah perpindahan semacam itu sudah tidak diperintahkan lagi. Hal ini agar orang tidak mengira bahwa migrasi merupakan hal yang wajib dalam agama, sehingga setiap manusia dari satu generasi ke generasi lain akan selalu melakukan hijrah kendati tuntutan untuk itu sama sekali tidak ada. Walaupun demikian, hal ini sama sekali tidak menafikan bahwa pada waktu-waktu tertentu ada sekelompok kaum Muslimin yang melakukan migrasi. Yang paling penting untuk mereka perhatikan dalam hal ini adalah niat yang baik dalam proses migrasi mereka serta kesiapan dan kegigihan mereka untuk berjuang di tempat yang baru. Dengan begitu, mereka akan mampu tampil ke muka sebagai problem solver bagi persoalan-persoalan yang ada.

Di samping hijrah secara fisik (migrasi), tentu saja masih ada hijrah dalam bentuk yang lain, yaitu hijrah secara maknawi. Hal ini telah banyak dijelaskan oleh para ulama dan pemikir Muslim kontemporer. Seorang Muslim juga perlu melakukan hijrah yang bersifat maknawi dalam kehidupannya ini, yaitu berpindah dari kekufuran pada keimanan, dari kejahilan kepada ilmu, dari akhlak yang buruk kepada akhlakul karimah.

Perpindahan yang bersifat maknawi ini juga akan melibatkan rasa tidak nyaman pada prosesnya. Seseorang mungkin merasa nyaman dengan perilaku maksiyat, akhlak yang buruk, serta kebiasaan jahil yang dimilikinya. Nyaman, karena semua itu sejalan dengan hawa nafsunya dan tidak memerlukan pengorbanan diri, walaupun konsekuensinya adalah hilangnya kenyamanan dalam bentuk yang lain. Orang yang tenggelam dalam hawa nafsunya pada akhirnya akan merasakan kekosongan jiwa dan hukuman yang berat di akhirat. Itu adalah bentuk ketidaknyamanan yang jauh lebih serius.

Sebaliknya, sebagian orang memaksa dirinya untuk berpindah kepada ilmu dengan belajar; kepada keimanan dengan terus mendekatkan diri pada Allah; pada akhlak karimah dengan selalu membiasakan diri dengan perilaku yang baik. Proses ini tentu melibatkan perasaan tidak nyaman, setidaknya pada awal prosesnya, karena semua itu menuntut pengorbanan. Perubahan dari keadaan yang tidak baik pada keadaan yang baik juga akan memberikan berbagai tantangan yang tidak mudah. Namun, pada akhirnya semua itu akan tergantikan dengan kenyamanan yang jauh lebih besar dan langgeng, yaitu kemuliaan diri dan ketenangan jiwa serta keridhaan Allah dan surga-Nya.

Semoga dengan tahun baru 1431 Hijriah ini kita bisa menguatkan komitmen kita, pada tingkat individu maupun masyarakat, untuk berhijrah menuju ke kedudukan yang lebih baik di sisi Allah.

Kuala Lumpur,

3 Muharram 1431/ 20 Desember 2009

Para Penunggang Unta di Benua Kangguru

Alwi Alatas

Pada salah satu halamannya, sekitar dua minggu yang lalu, harian The Star menampilkan sebuah foto dengan keterangan singkat. Pada foto itu tampak seorang lelaki kulit putih dengan pakaian Asia Selatan sedang menggiring dua ekor unta di tengah kota Melbourne. Orang itu, Mark Austin, sedang menuju ke Museum Imigrasi dalam rangka memperingati ’Australia’s Muslim Camelers’ yang menjadi pionir pembukaan jalur transportasi di benua Kangguru itu antara tahun 1860 dan 1930-an.[1]

Tidak banyak yang mengetahui bahwa para penunggang unta dari Afghan dan sekitarnya pernah memberi kontribusi yang penting bagi perkembangan ekonomi Australia, serta bagi eksistensi Islam di benua kangguru itu. Mereka memang bukan kaum Muslimin pertama yang datang ke benua tersebut. Sebelumnya sudah ada pelaut-pelaut Bugis yang tiba di benua itu – mereka datang untuk mencari tripang – jauh sebelum orang-orang kulit putih tiba di sana. Selain itu juga ada segelintir tawanan Muslim dari negeri-negeri jajahan Inggris yang dibuang ke negeri itu. Namun, kehadiran para penunggang unta dari Afghan pada pertengahan abad ke-19 bisa dianggap sebagai kaum imigran Muslim pertama yang bersifat permanen di Australia.

Pada masa lalu, keadaan benua Australia yang berpadang pasir tidak memungkinkan dibukanya jalur-jalur darat di antara kota-kota yang jauh. Koloni Inggris yang belum satu abad menjadi negara independen itu mengalami kesulitan dalam mengembangkan jalur-jalur transportasi. Ekspedisi demi ekspedisi dilakukan ke pedalaman Australia, tetapi selalu gagal. Kondisi gurun di benua itu tak bisa ditaklukkan oleh kuda. Hanya ada satu jenis hewan tunggangan yang mampu mengatasi keadaan geografis semacam itu, dan hewan itu adalah unta. Masalahnya, tidak ada unta di Australia. Maka pada tahun 1840 kaum kulit putih di Australia Selatan mendatangkan beberapa ekor unta untuk pertama kalinya ke benua tersebut. Unta-unta ini didatangkan dari Afghanistan dan India untuk keperluan ekspedisi.

Afghan camelers in Australia

Penunggang unta Afghan

      Ketika menyadari pentingnya hewan ini bagi mereka, pada tahun 1860-an lebih banyak lagi unta didatangkan ke Australia, kali ini berikut para penunggangnya. Pengadaan unta segera menjadi bisnis yang penting di Australia. Para penunggang unta yang didatangkan dari wilayah Afghanistan dan sekitarnya biasanya dikontrak untuk bekerja selama 3 tahun.[2] Banyak dari mereka yang kembali ke tanah leluhurnya setelah beberapa tahun bekerja di Australia, sementara sebagian lainnya menetap dan menikah dengan wanita-wanita Aborijin atau wanita-wanita Eropa. Sejak kedatangan orang-orang Afghan, nilai-nilai Islam mulai tertanam benihnya di benua ini.

Philip Jones, ko-kurator pameran tentang para penunggang unta Afghan, yang diadakan di National Library of Australia beberapa tahun yang lalu, mengakui bahwa kenangan tentang orang-orang Afghan ini tinggal sebagai catatan kaki belaka bagi ‘sejarah Australia yang sesungguhnya,’ yang dipandang sebagai eksplorasi kaum kulit putih. Padahal, masih menurut Jones, ’peranan mereka di pedalaman Australia sangat besar, jauh melampaui jumlah fisik mereka. Mereka membuka tanah pedalaman, mengangkut wol, menghubungkan pemukiman-pemukiman yang jauh dengan pasar-pasar Eropa dan membuka jalur-jalur pedalaman …’ di benua tersebut.[3]

Antara tahun 1860-an dan 1920-an diperkirakan ada 20.000 unta dan 2000 penunggang unta didatangkan dari Afghanistan, Baluchistan, dan wilayah yang kini bernama Pakistan. Kebanyakan mereka ini berasal dari suku Pashtun. Namun secara keseluruhan mereka disebut sebagai orang-orang Afghan oleh penduduk Australia.[4] Orang-orang Afghan ini hidup secara terpisah dari komunitas kulit putih. Mereka tetap memelihara kebiasaan-kebiasaan mereka ke Australia dan berpegang pada agama Islam hingga ajal menjemput mereka.[5] Mereka membangun masjid-masjid di Coolgardie, Cloncurry, Marree, dan Broken Hill.[6]  Masjid yang mereka bangun pada tahun 1882 di Marree, Australia Selatan, merupakan masjid pertama di benua itu. Masjid besar di Adelaide yang dibangun pada tahun 1890 juga merupakan sumbangan komunitas Afghan ini.[7]

Replica of first Mosque at Maree - South Australia

Replika masjid pertama di Maree, Australia Selatan (sultanasdream.com.au)

      Jejak-jejak para penunggang unta dari Afghan dapat dijumpai dibeberapa tempat di Australia. Jejak-jejak ini tidak hanya didapati pada masjid saja, tapi juga pada tempat-tempat lainnya, yang kelihatannya diberikan sebagai kenangan terhadap sumbangan dan peranan mereka di masa lalu. Sebagai contoh, jalan raya dari Darwin ke Adelaide dinamai The Ghan, yang merupakan penyederhanaan dari kata Afghan.[8] Nama beberapa pionir Afghan juga ada yang digunakan sebagai nama tempat, seperti ‘Bejah Hill’ dan ‘Saleh’s Fish Pond.’[9] Keahlian orang-orang Afghan ini serta bantuan mereka dalam beberapa ekspedisi – bahkan beberapa tokoh ekspedisi kulit putih ada yang selamat dari kematian berkat bantuan orang-orang Afghan ini – menimbulkan rasa hormat terhadap mereka. Segelintir orang Afghan mampu mencapai tingkat keberhasilan tertentu, seperti Mohamet Allum yang beralih dari penunggang unta menjadi ahli herbal bagi masyarakat kelas atas. Kendati demikian, sikap kaum kulit putih Australia yang cenderung rasialis tetap saja memarjinalkan orang-orang Afghan ini. Karenanya mereka seterusnya hidup terpisah dari masyarakat kulit putih.

Para penunggang unta ini telah berpartisipasi dalam aktivitas perekonomian Autralia selama lebih dari setengah abad. Namun ketika kendaraan bermotor mulai berperan menggantikan peranan hewan tunggangan pada tahun 1920-an, para penunggang unta ini mulai kehilangan pekerjaan. Ketika seorang pemuda Bosnia, Shefik Talanavic, dan kawan-kawannya bermigrasi ke Australia pada musim panas 1952, mereka mengunjungi masjid Adelaide. Ketika memasuki halaman masjid tersebut, mereka merasa terkejut karena menyaksikan pemandangan yang tidak biasa. Di halaman masjid tersebut mereka mendapati 6-7 orang tua bersorban yang sedang duduk-duduk dan berbaring. Kebanyakan dari mereka berumur 90-an tahun. Yang paling muda 87 tahun dan yang paling tua 117 tahun. Mereka ini adalah para penunggang unta terakhir di Australia; para penunggang unta yang telah kehilangan pekerjaannya. Masjid yang mereka bangun di Adelaide itu menjadi tempat pengungsian bagi mereka. Shefik dan teman-temannya kemudian membangun kembali masjid tersebut. Mereka menyaksikan orang-orang Afghan itu meninggal dan dikuburkan satu semi satu. Para penunggang unta itu sama sekali tidak mengakumulasi kekayaan selama hidupnya. Mereka juga tidak meninggalkan warisan selain masjid yang mereka bangun.[10]

Afghan_grave_bourke

Batu nisan penunggang unta Afghan di Australia (wikipedia)

      Kendati orang-orang Afghan ini telah memberikan sumbangan yang cukup penting bagi perekonomian Australia, peranan mereka cenderung terabaikan dalam sejarah Australia. Perhatian yang serius terhadap sejarah para penunggang unta ini, seperti yang kami singgung di awal artikel ini, baru dilakukan dalam beberapa tahun terakhir, khususnya sejak tahun 2004. Ironisnya, upaya ini dilakukan justru setelah terjadinya invasi yang dilakukan oleh negara-negara Barat, yang disertai juga oleh Australia, ke Afghanistan pada awal dekade ini. Walaupun kaum kulit putih modern berkilah tentang teroris yang mesti ditumpas di Afghanistan serta keinginan untuk ’membebaskan’ masyarakat Afghan, tak seorang pun yang memiliki akal sehat meragukan adanya kepentingan ekonomi dibalik invasi tersebut.

Adakah sejarah para penunggang unta kembali diangkat untuk mencari simpati dan sebagai pembenaran atas keterlibatan Australia di Afghanistan pada hari ini? Dulu mereka mendatangkan unta dan para penunggangnya dari Afghanistan untuk mengembangkan jalur perekonomian mereka. Kini setelah unta telah lama tidak dibutuhkan, apakah mereka ingin ikut mengeksploitasi sumber daya di negeri para mullah tersebut? Sejarah akan menjadi saksi atas semua ini.

Kuala Lumpur,

2 Rabiul Akhir 1431/ 18 Maret 2010

[1] The Star, Tuesday 2 March 2010, hlm. W29.

[2] http://recollections.nma.gov.au/issues/vol_2_no2/exhibition_reviews/australias_muslim_cameleers/

[3] http://www.smh.com.au/news/national/almostforgotten-pioneers/2007/12/10/1197135376074.html

[4] Abdullah Saeed, Islam in Australia, Crows Nest: Allen & Unwin, hlm. 5.

[5] Ada juga sedikit orang Hindu yang didatangkan dari India bersama dengan orang-orang Afghan ini.

[6] http://recollections.nma.gov.au/issues/vol_2_no2/notes_and_comments/australias_muslim_cameleer_heritage/

[7] Lihat Wikipedia, dibawah judul ‘Islam in Australia.’

[8] Ibid.

[9] Abdullah Saeed, Islam in Australia, hlm. 6.

[10] http://recollections.nma.gov.au/issues/vol_2_no2/notes_and_comments/australias_muslim_cameleer_heritage/

SK Departemen P&K No. 052 Thn 1982

Bismillahirrahmanirrahim,

Sebagaimana pernah saya tulis sebelum ini, sepanjang tahun 1980-an di Indonesia pernah ada larangan menggunakan jilbab di sekolah-sekolah negeri di Indonesia. Yang dijadikan landasan untuk melarang penggunaan jilbab adalah Surat Keputusan (SK) Departemen P&K (sekarang Departemen Pendidikan Nasional/ Depdiknas) No. 052 tahun 1982.

SK itu mengatur bentuk seragam sekolah nasional yang diijinkan dan di dalamnya sama sekali tidak ada bentuk seragam sekolah dengan jilbab atau yang menutup aurat seperti yang diperintahkan dalam Islam. Otomatis siswi yang ingin mengenakan jilbab di sekolah tidak mendapat tempat dalam aturan yang dikeluarkan pemerintah itu. SK inilah yang dijadikan dasar untuk melarang pelajar-pelajar Muslimah mengenakan seragam yang menutup aurat di sekolah.

Gara-gara SK tersebut, banyak siswi yang terkena masalah dan mendapat hukuman dari sekolah disebabkan keinginan mereka mengenakan jilbab. Bahkan tidak sedikit yang dikeluarkan dari sekolah. Coba bayangkan, Indonesia merupakan sebuah negeri dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia. Tapi pada tahun-tahun itu jilbab dilarang dan banyak siswi yang dikeluarkan dari sekolah hanya karena ingin menutup auratnya. Kejadian ini mengingatkan kita pada hal yang hampir sama yang juga berlaku di Turki.

Pada tahun 1980-an, kesadaran untuk menutup aurat memang baru mulai muncul di sekolah-sekolah negeri di Indonesia. Sementara pada saat yang sama, sebagian besar staf pendidik di sekolah negeri masih bersifat sekuler, abangan, atau belum faham tentang kewajiban berjilbab. Akibatnya, banyak siswi yang ingin konsisten berjilbab terpaksa keluar dari sekolah negeri dan pindah ke sekolah swasta Islam.

Alhamdulillah hal ini tidak terus menerus terjadi. Setelah umat Islam memperjuangkan hal ini selama kurang lebih satu dekade, akhirnya pemerintah mengijinkan penggunaan jilbab di sekolah negeri. Pada tahun 1991, kementerian pendidikan yang ketika itu dipimpin oleh Fuad Hassan mengeluarkan SK No. 100 yang membolehkan bentuk seragam yang menutup aurat, lengkap dengan jilbabnya, di sekolah-sekolah negeri.

Pelajar dari berbagai sekolah yang tergabung dalam Pelajar Islam Indonesia (PII) Aceh membentangkan spanduk saat berorasi di Bundaran Simpang Lima, Banda Aceh, Senin (13/1).

Sejak saat itu, siswi-siswi Muslim di sekolah-sekolah negeri boleh bernafas lega karena bisa menggunakan jilbab di sekolah, walaupun sesekali masih ada kesulitan. Dan sekarang boleh dikatakan hampir tidak ada lagi masalah dengan hal itu, kecuali sedikit sekali, seperti kasus di SMAN 2 Denpasar yang kita dengar baru-baru ini. Bahkan di tengah masyarakat umum di Indonesia, jilbab yang dulu dianggap agak asing sekarang justru menjadi tren. Mudah-mudahan pakaian Muslimah akan tetap diapresiasi dan tidak lagi dilarang pada masa-masa yang akan datang.

Selama sekian lama ada teman-teman yang melakukan penelitian tentang jilbab menanyakan pada saya tentang SK pemerintah yang dijadikan landasan untuk melarang jilbab di sekolah negeri pada masa itu. Begitu pula SK No. 100 tahun 1991 yang membolehkan jilbab. Belum lama ini saya menemukan kembali copy SK 052, lalu saya scan dalam bentuk PDF. Beberapa bagiannya agak kurang jelas, tapi insya Allah tetap terbaca. Siapa saja yang memerlukannya boleh mengambilnya pada attachment dan menyebarulaskannya. Perlu diingatkan sebelumnya bahwa tulisan “Lampiran” pada bagian atas dokumen dan halaman yang tertera di bawah dokumen BUKAN BAGIAN DARI DOKUMEN ASLINYA. Itu bagian dari lampiran dan halaman artikel saya tentang pelarangan jilbab sebelum ini.

Adapun SK no. 100 tahun 1991 sudah tidak ada lagi pada saya. Copy dokumen itu dipinjam kawan beberapa tahun yang lalu … dan dihilangkan olehnya😦. kalau ada teman-teman yang memiliki dokumen itu atau undang-undang/ peraturan lainnya yang membolehkan jilbab di sekolah mudah-mudahan berkenan untuk berbagi dengan kami dan yang lainnya.

Alwi Alatas

Kuala Lumpur

17 Rabiul Awwal 1435/ 19 Januari 2014

SK 052-1982

Gulliver dan Negeri Para Pencuri

Oleh : Alwi Alatas

     

      “Gulliver … Gulliver,” Seorang pria dewasa berlari kencang menuju pria berkuncir bernama Gulliver itu. Gulliver memperhatikan pria tadi berhenti di hadapannya dengan terengah-engah.

      “Gulliver … ada orang terdampar dipantai.” Gulliver mengernyitkan dahi.

      “Memangnya kenapa? Setiap minggu ada orang yang terdampar di pantai.”

      “Betul, tapi agaknya orang ini berasal dari negeri yang sangat asing. Orang-orang meminta saya untuk memanggilmu ke pantai, barangkali ia berasal dari salah satu negeri yang pernah kamu kunjungi.”

      “Mungkin juga tidak. Tapi tak apalah, ayo kita pergi ke sana.”

      Keduanya pun berangkat ke pantai yang tidak begitu jauh letaknya. Di sana terlihat orang-orang berkerumun di satu tempat, seolah ada pertunjukan menarik yang sedang mereka saksikan.

      Seorang bapak tua yang nyaris telanjang terbaring di tepi pantai. Kulitnya sawo matang, tingginya sedang, tapi badannya kurus sekali. Semua yang melihatnya bingung bagaimana orang sekurus itu bisa bertahan hidup. Orang-orang kemudian menutupinya dengan selimut dan membawanya ke bale-bale yang berada tidak jauh dari situ. Tak lama kemudian mata orang tua itu mulai terbuka. Apa yang baru dilihatnya membuat mimik wajahnya berubah. Namun badannya yang lemah tidak memungkinkannya untuk banyak bergerak.

      “Di mana saya?” Ia memperhatikan orang-orang yang menatapnya. Orang-orang memberitahu kepadanya nama tempat itu, tapi ia terlihat tidak mengerti. Matanya kemudian tertambat pada Gulliver.

      “Rasanya saya pernah melihat Anda sebelumnya.”

      “Saya Gulliver. Mungkin saya pernah datang ke negeri Anda sebelumnya?” terang Gulliver. Orang tua itu mengernyitkan dahi. Ia berusaha duduk yang kemudian segera dibantu oleh Gulliver dan orang-orang lainnya.

      “Gulliver …. Satu-satunya Gulliver yang saya tahu adalah orang yang pernah pergi ke negeri liliput, negeri raksasa dan negeri-negeri aneh lainnya.”

      “Ya betul, saya Gulliver yang Anda maksud itu.”

      Orang tua itu tampak bingung. Setelah yakin bahwa ia tidak sedang bermimpi, ia kembali berkata.

      “Tapi di negeri saya, Gulliver hanya sebuah kisah dongeng. Saya biasa membacanya di waktu kecil.”

      “Saya pun dulu dianggap pembual dan tukang dongeng karena pengalaman-pengalaman saya yang aneh, tapi orang-orang akhirnya percaya setelah melihat bukti-bukti yang ada,” jelas Gulliver.

      “Jadi … Anda benar Gulliver yang itu? Jadi … saya akhirnya berhasil keluar dari negeri terkutuk itu?” Orang tua itu tiba-tiba tertawa keras hingga tubuhnya terguncang. Orang-orang sampai takut tulang belulangnya rontok berantakan karena ketawanya yang seperti itu.

      “Sebetulnya Anda ini dari negeri mana?” Gulliver bertanya penasaran. Tawa orang tua itu perlahan-lahan mereda.

      “Syukur pada Penguasa Alam Semesta yang berkenan mengabulkan permohonan hamba.” Orang tua itu kemudian memandang Gulliver dan orang-orang di sekitarnya.

      “Gulliver sekalipun pasti belum pernah melihat negeri seperti negeri saya. Hanya ada satu negeri seperti itu di dunia ini.”

      “Anda kelihatannya bangga sekali dengan negeri anda itu,” salah seorang yang ikut berkerumun tiba-tiba bertanya.

      “Bangga …,” orang tua itu melotot pada orang yang bertanya tadi, “Cis …, kamu belum tahu betapa rusak dan kacaunya negeri saya itu, malu aku jadi orang negeri itu.”

      “Tapi melihat dari penampilan bapak, kelihatannya tidak ada yang istimewa dengan negeri bapak,” Guliver menatap si orang tua, masih dengan rasa penasaran.

      “Saya memang bukan orang kerdil atau raksasa, atau makhluk yang ganjil secara fisik dibanding Anda sekalian, tapi kalian tetap akan heran dengan tingkah laku dan cara hidup di negeri saya. Anda semua masih penasaran dari mana saya berasal?” semua mata menatap orang tua itu tanpa berkedip. “Saya dari Negeri Para Pencuri.”

      “Negeri Para Pencuri?”

      “Ya, Negeri Para Pencuri. Hampir seluruh penduduk negeri saya adalah pencuri,” Lelaki tua itu memperhatikan reaksi orang-orang disekitarnya.

      “Maksud Anda, mereka semuanya miskin-miskin sehingga banyak yang jadi pencuri?” Orang yang tadi menjemput Gulliver bertanya.

      “Tidak, sama sekali tidak. Tidak sedikit dari mereka yang kaya raya. Tapi justru yang kaya raya itu tidak lagi sekedar mencuri, tapi “merampok,” “menggarong” … atau apalah namanya. Makin kaya dan tinggi posisinya, maka makin besar nilai kekayaan yang dicurinya.”

      “Kalau sudah kaya, kenapa harus mencuri lagi?”

      “Justru itulah sebabnya negeri kami dinamakan Negeri Para Pencuri, karena mencuri bukanlah semata-mata desakan kebutuhan, tapi sudah menjadi semacam eksistensi diri.”

      Orang-orang yang berkerumun saling pandang satu sama lain mendengar keterangan tersebut. Mereka saling bisik, kasak-kusuk tidak karuan.

      “Lalu, kalau semuanya jadi pencuri, siapa yang jadi korbannya? Mereka kan tidak bisa saling mencuri satu sama lain,” Gulliver yang kali ini bertanya. Orang tua itu terdiam sejenak, berfikir keras bagaimana cara menggambarkan masalah ini dengan jelas.

      “Penduduk kami memang pencuri semua … setidaknya hampir semuanya, tapi para pejabat Negeri Pencurilah yang mencuri paling banyak. Mereka mencuri segala sesuatu yang bisa dicuri, tapi terutama uanglah yang paling mereka incar. Uang yang dikeluarkan berdasarkan anggaran rutin langsung ludes, sebagian besarnya masuk ke kantong-kantong pencuri besar. Ketika negara terancam bangkrut, maka para pimpinan Negeri Pencuri memutuskan untuk menerima pinjaman dari negeri tetangga. Begitu pinjaman datang, sebagian besarnya langsung mereka curi lagi.”

      “Kenapa negeri yang memberi pinjaman diam saja terhadap pencurian-pencurian itu, mereka kan jelas dirugikan?”

      “Oh, jangan salah …. Mereka justru diuntungkan,” Orang tua itu melihat orang-orang disekelilingnya yang terheran-heran tidak percaya,” Ketika hutang-hutang itu sudah harus dikembalikan, Negeri Para Pencuri jelas tidak mampu membayarnya, bukan hanya karena hilangnya uang-uang pinjaman itu entah kemana, tapi juga karena bunga pinjamannya yang tidak kecil. Para petinggi Negeri Pencuri akhirnya terpaksa menjual tambang-tambang emas negeri dengan harga murah. Celakanya, uang hasil penjualan itu pun tidak lolos dari tangan-tangan  para pencuri besar yang licik itu.”

      “Lalu bagaimana dengan rakyat di negeri itu?

      “Rakyat hampir-hampir tidak kebagian apa-apa lagi, tidak ada cukup uang dan barang di kaki-kaki bukit kekuasaan yang bisa mereka curi. Kebiasaan mereka sendiri dalam mencuri sesungguhnya berasal dari pencuri besar yang pertama kali berkuasa di negeri kami. Dialah yang perlahan-lahan mengubah kebiasaan bawahan serta rakyatnya menjadi pencuri juga. Tapi kalau rakyat hanya bisa mencuri sandal kayu atau uang recehan, maka para pemimpin negeri mereka telah merampok bertumpuk-tumpuk pundi emas, lahan-lahan sebesar pulau, dan mereka makan barang haram setiap hari sampai perut mereka membusung sebesar gajah.”

      “Kalau begitu, penduduk negeri Anda tentu semakin tertekan dan sengsara. Apakah mereka semua tidak menyadari bahwa mencuri itu salah dan merugikan,” Gulliver makin tertarik dengan kisah orang tua ini.

      “Seharusnya …, tapi masyarakat Negeri Pencuri sudah terlalu lama hidup dalam tradisi mencuri, sampai-sampai orang-orang yang terlalu jujur akan dilihat sebagai orang yang aneh ….”

      “Aneh? Apakah orang-orang jujur di sana dianggap sebagai ancaman?”

      “Tidak. Orang-orang jujur ini dipandang baik oleh masyarakat, hanya saja agak aneh … mereka dipandang agak bodoh … orang-orang baik yang kurang cerdas … begitulah. Tapi orang-orang jujur yang kritis … mereka inilah yang dipandang sangat berbahaya oleh para pemimpin Negeri Pencuri. Sementara pada saat yang sama, masyarakat sendiri tidak begitu perduli dengan dedikasi dan upaya mereka menyelamatkan negeri dari kutukan … menyedihkan sekali.

      Masyarakat Negeri Pencuri memandang bodoh siapa saja yang mengabaikan peluang-peluang untuk mencuri, terutama bagi mereka yang memangku kuasa dan berkedudukan. Pernah suatu kali masyarakat memaksa turun pencuri besar yang telah menjadi kepala negeri sekian lamanya. Tapi rakyat yang menggantikannya, sama sekali tidak berniat mengubah tradisi yang ada, mereka hanya mengubah status mereka sendiri dari pencuri kecil menjadi pencuri besar.”

      “Di negeri kami ini juga ada pencuri. Mereka mengambil barang tetangganya, mencuri uang dan sebagainya,” seorang pemuda berhidung pesek dan berbadan pendek gemuk menyela pembicaraan. Orang-orang yang sedang asyik mendengarkan cerita menatapnya dengan jengkel. Pemuda tadi langsung meminta maaf atas interupsinya.

      “ Kalau di negeri saya, yang seperti itu disebut pencuri kecil, kelas rakyat. Pencuri-pencuri besar dan para pemimpin negerinya melakukannya dengan cara yang berbeda,” Orang tua itu menanggapi interupsi si pemuda yang tak urung membuatnya senang.

      “Berbeda bagaimana? Kami di sini hanya tahu mencuri yang seperti itu,” Gulliver bertanya lebih jauh.

      “Para pimpinan pencuri di negeri kami melakukannya dengan cara mengubah laporan keuangan. Tidak jarang mereka mencuri dengan cara berdagang …”

      “Dengan cara berdagang?” Gulliver dan teman-temannya bertambah bingung.

      “Ya … hanya saja mereka memperdagangkan hal-hal yang seharusnya tidak boleh. Mereka memperdagangkan “keadilan,” “hukum,” “perijinan,” “kesempatan,” “peluang,” “kursi,” dan masih banyak lagi. Mereka bukan hanya memperdagangkan semua itu … mereka melelangnya kepada siapa saja yang bersedia membayar paling tinggi.” Orang tua yang kurus itu menerangkan dengan penuh semangat, sementara Gulliver dan teman-temannya justru makin kebingungan.

      “Mereka melakukan semua itu dengan licin, mulus, dan “sesuai prosedur hukum”. Mereka menamai itu “pencurian tingkat tinggi”. Banyak orang di negeri kami yang memiliki keterampilan ini. Begitu kalian memberi mereka satu kesempatan saja, mereka akan melakukan segala sesuatunya dengan cepat dan rapi, Anda tidak akan menyadarinya sampai seluruh kekayaan Anda ludes tak berbekas.”

      “Kami tidak mungkin memberi orang-orang semacam itu sebuah kesempatan sekalipun untuk merampok kami seperti itu,” salah seorang teman Gulliver yang lain menimpali dengan spontan. Orang tua dari Negeri Para Pencuri menarik nafas dalam-dalam.

      “Begitulah seharusnya … tapi masyarakat kami telah memberi ribuan kesempatan bagi mereka. Rakyat negeri kami yang bodoh telah memberi terlalu banyak kesempatan pada para pencuri besar, padahal satu kesempatan saja sudah cukup bagi mereka untuk mengacaukan negeri kami. Segala hal yang kami buat saat ini rasanya sudah tak berarti lagi. Kami pernah membentuk dewan pemantau para pencuri. Para pencuri sempat takut dengan keberadaan dewan ini. Tapi nyatanya para anggota dewan pemantau kemudian malah menjadikan posisi mereka untuk memeras para pencuri dan mengambil bagian dari hasil pencurian mereka.”

      “Kalau rakyat kalian memang menderita mengapa tidak bergabung saja dan memberontak terhadap para pencuri besar di negeri kalian? Mengapa kalian tidak melancarkan suatu aksi masal melawan para pencuri besar. Masyarakat akan punya kekuatan besar kalau bersatu padu?” tanya Gulliver.

      “Terkadang pikiran semacam itu terlintas juga di benak sebagian kami, tapi kami terlalu lemah dan gampang dipecah belah, sementara para pencuri besar itu terlalu licik bagi kami. Saya sendiri sudah menyerah dengan keadaan dan memutuskan untuk lari keluar dari negeri itu. Untunglah saya berhasil, saya tidak akan pernah lagi melihat negeri yang memalukan itu, saya bebas sekarang,” Orang tua itu begitu bersemangat dan berusaha berdiri. Gulliver dan teman-temannya memapah orang tua itu untuk diajak ke tempat tinggal mereka.

      “Tapi bagaimana Anda sendiri bisa sampai meloloskan diri dari sana?” Gulliver kembali bertanya sambil memegangi tangan orang tua itu dengan hati-hati.

      “Bagaimana…? Tentu saja dengan mencuri perahu ….”

      Mereka terus bercakap-cakap sambil berjalan. Tidak ada yang ajaib pada orang tua ini, pikir Gulliver dan kawan-kawannya, tapi cerita yang dibawakannya berkenaan dengan Negeri Para Pencuri sungguh lebih aneh dari semua cerita yang pernah mereka dengar dari Gulliver.

26 Desember 2007

Kasus Jilbab [Bagian 1]

KASUS JILBAB DI SEKOLAH-SEKOLAH NEGERI DI INDONESIA

TAHUN 1982-1991

 

OLEH:

ALWI ALATAS

 

* Keterangan: Artikel ini disederhanakan dari paper akademik yang diajukan untuk lomba penelitian LIPI beberapa tahun lalu, walaupun sayangnya tidak menang. Artikel lengkapnya bisa diambil pada attachment di bagian ke-3 tulisan ini. Secara umum isinya hampir sama dengan buku Revolusi Jilbab yang pernah kami tulis, hanya saja lebih ringkas dan lebih mengikuti pola penulisan akademik yang strict. Semoga bermanfaat.

Latar Belakang

      Hubungan antara Pemerintah Orde Baru dengan umat Islam telah banyak mendapat perhatian dari para pengamat sosial dan politik. Sebagaimana masa-masa sebelumnya, hubungan umat Islam dan negara pada masa Orde Baru mengalami proses pasang surut. Hubungan tersebut diawali dengan adanya kerja sama di antara kedua belah pihak, kemudian terjadi ketegangan dan konflik, dan akhirnya kembali saling mengakomodasi.

      Kerja sama antara kedua belah pihak di awal terbentuknya pemerintahan Orde Baru sebenarnya lebih dilandasi oleh adanya kepentingan bersama, yaitu dalam menjatuhkan rezim Orde Lama dan Partai Komunis Indonesia (PKI) beserta seluruh unsur-unsurnya. Namun, begitu pemerintahan Orde Baru yang dipimpin oleh Suharto ini berhasil memantapkan kedudukannya dalam pentas politik Indonesia, hubungannya dengan umat Islam segera memburuk. Suharto dan banyak pejabat Orde Baru ketika itu agaknya lebih melihat umat Islam sebagai ancaman bagi kestabilan politik dan pembangunan daripada sebagai mitra, setidaknya sampai paruh kedua tahun 1980-an ketika ketegangan di antara keduanya mulai mencair.

      Ketegangan antara umat Islam dan pemerintah mengemuka antara tahun 1967 hingga paruh pertama tahun 1980-an. Pada periode ini, pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan yang dianggap merugikan umat Islam. Sementara itu, sebagian elemen Islam menyikapi kebijakan-kebijakan pemerintah ini secara konfrontatif, sehingga hubungan di antara keduanya memburuk.

Image

      Kedua belah pihak kemudian sama-sama menyadari bahwa hubungan yang buruk ini tidak menguntungkan bagi semua pihak. Mereka pun berusaha untuk mengurangi sikap saling curiga dengan saling memahami posisi dan potensi masing-masing. Titik balik hubungan ini, mengacu pada pendapat Abdul Aziz Thaba, adalah dengan digulirkannya gagasan Pancasila sebagai asas tunggal pada tahun 1982. Gagasan ini menimbulkan reaksi, baik mendukung maupun menolak, dari berbagai organisasi masa (ormas) Islam. Namun, ketika pemerintah benar-benar menetapkan Pancasila sebagai asas tunggal pada tahun 1985, mayoritas ormas Islam yang ada di Indonesia menerimanya. Sejak itu, mulai terjadi akomodasi antara pemerintah dengan umat Islam.

      Terjadinya ketegangan antara pemerintah Orde Baru yang didominasi militer dengan umat Islam bisa dipahami, mengingat struktur kekuasaan ketika itu banyak diisi oleh kaum Islam abangan. Walaupun keberadaan kaum Islam Abangan dalam pemerintahan Orde Baru ketika itu sulit dibuktikan dengan angka-angka, beberapa ahli percaya bahwa ketegangan antara pemerintah Orde Baru dan umat Islam merupakan refleksi ketegangan antara kelompok Abangan dan kelompok Santri di Indonesia. Itulah sebabnya mengapa banyak aspirasi kaum muslimin di Indonesia, khususnya aspirasi politik, yang disikapi secara negatif dan bermusuhan oleh pemerintah Orde Baru. Dalam hal politik, sikap pemerintah Orde Baru sama seperti yang dianjurkan oleh Snouck Hurgronje terhadap pemerintah Hindia Belanda pada awal abad kedua puluh, yaitu mendukung Islam sebagai praktek individu dan sosial, tetapi menolak Islam politik.

      Dibatasinya ruang gerak umat Islam di bidang politik tentu tidak harus membuat mereka lumpuh dalam segala bidang. Dalam sebuah seminar di Yogyakarta, Ahmad Syafi’i Ma’arif mengatakan:

 

”Kelumpuhan umat Islam dalam politik tidak berarti kelumpuhan mereka bergerak dalam bidang sosial dan kultural. Justru pada periode kemacetan dalam politik inilah umat Islam punya peluang yang baik sekali untuk melancarkan dakwah Islam dengan sasaran-sasaran yang lebih strategis.”

 

Macetnya saluran politik umat Islam tampaknya memang telah membuat mereka menyalurkan energinya ke bidang-bidang yang lain, terutama dalam penyebaran dakwah Islam.

      Ditetapkannya Pancasila sebagai asas tunggal kehidupan sosial politik di Indonesia mungkin merupakan ujian politik terbesar yang diberikan pemerintah Orde Baru terhadap umat Islam. Organisasi-organisasi pemuda yang menolak Pancasila sebagai asas tunggal, walaupun kemudian dianggap sebagai organisasi terlarang oleh pemerintah Orde Baru, tidak serta merta membubarkan diri mereka atau berhenti melakukan aktivitas. Sebagaimana dituturkan Damanik, mereka ”tetap bergerak sebagai ‘gerakan bawah tanah,’ membuat training dan pembinaan-pembinaan bagi pemuda-pemuda Islam.” Tekanan pemerintah justru membuat gerakan mereka jadi semakin ideologis dan kaderisasi yang mereka lakukan pada masa itu pada gilirannya melahirkan kader-kader muda yang militan. Kemunculan jilbab, yang menjadi tema penelitian ini, merupakan salah satu hasil dari kaderisasi dakwah yang gencar dilakukan pada masa-masa tersebut.

      Pada saat yang sama, situasi internasional juga ikut mempengaruhi dinamika pergerakan Islam di Indonesia. Tahun 1970-an merupakan tahun yang penuh pergolakan di dunia Islam. Berbagai peristiwa penting seolah menandai geliat baru umat Islam di berbagai negara. Mulai dari Perang Ramadhan (1973), embargo minyak Arab yang dipimpin oleh Raja Faisal (1973), Berkuasanya Zia Ul-Haq di Pakistan berikut program Islamisasinya (1977), dimulainya jihad Afghanistan (1979), hingga berkuasanya Khomeini lewat Revolusi Iran (1979). Mungkin dalam kaitan ini pula abad XV Hijriah, yang dimulai pada tahun 1400 H, ditetapkan sebagai abad kebangkitan Islam. Gagasan kebangkitan Islam ini terus bergulir selama tahun-tahun berikutnya.

      Dua hal eksternal yang disebut-sebut banyak memberikan pengaruh terhadap kemunculan jilbab di sekolah-sekolah negeri adalah Revolusi Iran yang terjadi pada tahun 1979 dan pemikiran Al-Ikhwan Al-Muslimin yang masuk ke Indonesia melalui buku-buku para tokohnya yang banyak diterjemahkan sejak tahun 1970-an. Revolusi Iran, yang dipimpin Khomeini dan berhasil menggulingkan rezim syah Iran ketika itu, ikut memberikan kontribusi bagi tumbuhnya semangat berjilbab di kalangan siswi-siswi muslim di Indonesia. Peristiwa tersebut mendapat perhatian yang luar biasa dari berbagai media masa dan memperlihatkan pada masyarakat dunia – termasuk masyarakat Indonesia – bagaimana wanita-wanita Iran menutupi tubuhnya secara rapat dengan jilbab dan busana muslimah. Namun, agaknya pengaruh ini lebih bersifat psikologis daripada ideologis, karena ideologi Syi’ah yang dianut oleh Revolusi Iran jelas-jelas tidak diadopsi atau dianut oleh siswi-siswi yang mengalami pelarangan jilbab di sekolah-sekolah negeri.

      Pengaruh yang lebih ideologis agaknya berasal dari pemikiran-pemikiran Al-Ikhwan Al-Muslimin yang masuk ke Indonesia melalui buku-buku para tokohnya yang banyak diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Pemikiran Al-Ikhwan juga banyak tersosialisasi lewat training-training yang diadakan oleh masjid-masjid kampus, terutama Masjid Salman ITB lewat Latihan Mujahid Dakwah (LMD) yang dimotori oleh Ir. Imaduddin Abdul Rahim.

SK 052-1982