Di Pundak para Raksasa

by alwialatas

Alwi Alatas

 

      Saat membaca karya Monumental Umberto Eco. The Name of the Rose, ada kalimat menarik yang dicetuskan oleh tokoh utamanya, William of Baskerville, ketika berdialog dengan seorang bruder ahli kaca. Si ahli kaca mengeluh betapa mereka tak lagi memiliki pengetahuan para leluhur. ”Zaman para raksasa telah berlalu!” katanya.

      William meresponnya dengan pengakuan bahwa mereka yang hidup di masa itu memang orang-orang kerdil. ”Tapi [kita adalah] orang-orang kerdil yang berdiri di atas bahu para raksasa itu, dan walaupun kecil, kita kadangkala berusaha melihat cakrawala yang lebih jauh daripada mereka.”

      Mungkin bukan suatu kebetulan jika Stephen Hawkins juga menulis tentang para ilmuwan besar, raksasa-raksasa pada lingkup warisan budayanya, dan menamai bukunya On the Shoulder of Giant. Di dalam buku tersebut, ia membahas raksasa-raksasa pengetahuan Eropa di masa lalu, seperti Galileo, Newton, dan lain sebagainya. Buku itu seolah merupakan pengakuan dari penulisnya terhadap sosok-sosok raksasa yang pada pundak-pundak mereka ia berpijak untuk menggapai cakrawala baru. Hawkins tak sungkan berdiri di atas bahu para pendahulunya, walaupun ia sendiri telah diakui sebagai sosok raksasa baru – kendati tubuhnya ringkih karena penyakit langka yang dideritanya – di bidang sains modern.

Image

      Berdiri di pundak raksasa (pengetahuan) merupakan sebuah mekanisme pewarisan ilmu yang pada gilirannya memberi efek akumulatif dan akseleratif bagi peradaban. Tidak ada raksasa yang lahir sendirian, terasing dari warisan peradaban manapun. Bahkan para nabi sekalipun mewarisi dari nabi-nabi sebelumnya. Dengan berdiri di pundak para raksasa, kita meneruskan estafeta peradaban dari satu generasi ke generasi berikutnya.

      Pewarisan ilmu pengetahuan tidak hanya terjadi pada satu entitas peradaban saja. Antara peradaban yang satu dengan peradaban yang lain, terutama peradaban yang menggantikan kepemimpinan peradaban sebelumnya, terjadi juga pola pewarisan ilmu pengetahuan. Ilmuwan Muslim mengambil dari para ilmuwan-ilmuwan besar Yunani – dan mengakui hal itu – sebagaimana kemudian ilmuwan-ilmuwan non-Muslim juga berpijak pada pengetahuan raksasa-raksasa Muslim – kendati mereka enggan mengakuinya.

      Ketika suatu masyarakat mulai mengabaikan orang-orang besar mereka dan turun dari pundak-pundak raksasa itu, maka mereka pun mulai kehilangan kepemimpinan sejarah. Estafeta peradaban lantas diambil alih oleh masyarakat baru yang mulai mendaki pundak-pundak raksasa yang ditinggalkan orang-orang sebelumnya. Fenomena kemunduran umat Islam juga bisa dijelaskan dari sudut pandang ini. Umat mulai mengalami kemunduran saat mereka menuruni pundak para raksasa. Mereka kemudian berdiri di atas pundak raksasa-raksasa yang lebih kecil. Generasi berikutnya berdiri di pundak para kurcaci. Mereka kenal dengan raksasa-raksasa masa lalu tak lebih dari nama-nama dan beberapa kulit pemikirannya. Raksasa-raksasa menuliskan karya-karya monumental; raksasa-raksasa yang lebih kecil membuat syarah atas karya-karya monumental; para kurcaci berdebat dan berkelahi atas persoalan-persoalan furu’. Tanpa disadari, kita telah membuat jarak dengan warisan peradaban kita sendiri.

      ”Salah satu persoalan serius kita pada hari ini adalah terputusnya kita dari warisan kebudayaan kita sendiri,” demikian dikatakan oleh seorang sejarawan di kampus penulis. Dan ini benar adanya! Kita benar-benar terputus dari warisan peradaban kita sendiri. “Harta karun” para raksasa Muslim di masa lalu bertebaran di berbagai tempat, tapi terlihat bak puing-puing tak berharga di mata umat sendiri.

      Sekedar contoh sederhana, orang-orang Cina sampai hari ini masih memelihara teknik pengobatan tradisional. Mereka mewarisi hal ini dari generasi ke generasi sejak kurun waktu yang lama. Bahkan, pada tingkat tertentu, akupuntur misalnya, teknik pengobatan mereka dihargai dan diakui oleh dunia modern.

      Adapun di dunia Islam, ilmu kedokteran merupakan salah satu warisan pengetahuan yang sangat kaya dan berpengaruh di abad-abad yang lalu. Raksasa-raksasa di bidang kedokteran bersinar dan bertebaran di sepanjang masa keemasan sejarah Muslim. Kitab-kitab mereka menjadi kitab-kitab rujukan utama di dunia. Ibnu Sina, Ibnu Ruman, al-Biruni, dan masih banyak imuwan Muslim lainnya memberikan kontribusi yang sangat besar di bidang kedokteran, sebagaimana juga bidang-bidang lainnya.

      Raja-raja non-Muslim yang berpikiran terbuka pada masa itu lebih suka mengambil dokter-dokter Muslim sebagai dokter pribadi mereka. Tapi, adakah warisan ini diambil, dihargai, dan dikembangkan oleh umat Islam pada hari ini? Sayangnya tidak. Kalaupun ada segelintir tabib yang menggunakan warisan kuno dokter-dokter Muslim, mereka hanya mengambil sedikit saja dari warisan itu dan sebagian besar lainnya tersisih di pojok-pojok perpustakaan berdebu yang jarang disentuh manusia.

      Kini semua terpulang pada kaum Muslimin, apakah mereka akan terus mengabaikan warisan peradaban mereka yang luar biasa atau mereka akan mulai kembali mendaki pundak-pundak para raksasa itu. Memang pemikiran-pemikiran para raksasa tidak terlepas dari perselisihan – sebagaimana Ibnu Sina dan filsuf-filsuf Muslim lainnya dikritik keras oleh al-Ghazali, dan yang terakhir ini kemudian juga mendapat kritik dari Ibnu Rusyd. Namun, itu tidak berarti seluruh pemikiran para raksasa menjadi tak berarti dan tak perlu digali.

      Kita harus kembali mendaki pundak-pundak kokoh mereka, bukan untuk mengulangi perdebatan-perdebatan teologis yang menguras tenaga dan tak begitu memberikan manfaat, melainkan untuk membangun kembali peradaban dan meneruskan kepemimpinan bangsa lain yang mulai terlihat rapuh dan siap runtuh. Kita mungkin orang-orang yang kerdil, tapi dengan berdiri di pundak para pendahulu kita, maka kita dapat melihat cakrawala baru yang lebih luas. Dan siapa tahu, lewat upaya ini kita bisa melahirkan raksasa-raksasa baru yang lebih besar dan lebih banyak memberi sumbangan positif dibandingkan raksasa-raksasa yang sudah ada sebelumnya.

15 januari 2007