Fase Instingtif Peradaban

by alwialatas

Oleh: Alwi Alatas

Indonesia menutup tahun 2006 dengan berbagai kasus syahwat dan kekerasan, di samping rentetan musibah yang tak kunjung henti. Mulai dari kasus zina YZ yang anggota DPR dengan ME yang penyanyi dangdut; kasus pelecehan seksual oleh salah seorang guru di SMP Budi Waluyo (www.tempointeraktif.com, 25/11/06); puluhan pelajar SMK membajak bus Mayasari Bhakti jurusan Tanjung Priok-Bekasi (www.kompas.com, 26/11/06); anak yang menyebabkan temannya meninggal dunia karena meniru adegan smackdown di TV; siswi SMK di Kuningan bunuh diri karena tidak dibelikan motor (Pikiran Rakyat, 23/12/06). Belum lagi penelitian mutakhir yang menyebutkan bahwa 15% remaja usia 10-24 tahun di Indonesia telah melakukan hubungan seks di luar nikah (Republika, 22/12/06).

Ada apa dengan masyarakat Indonesia sebenarnya? Mungkin pertanyaan semacam itu muncul di benak sebagian orang. Persoalan seks dan kekerasan memang bukan hal baru di negeri ini. Keduanya juga bukan permasalahan bangsa ini semata. Banyak negara lain yang memiliki problem serupa, malah lebih serius. Namun, semua itu tentu tidak bisa dijadikan pembenaran atas berlakunya hal yang tidak baik. Terlebih lagi, negeri ini masih memiliki banyak persoalan lain yang tidak kalah seriusnya.

Image

Indonesia telah merdeka selama lebih dari enam puluh tahun. Negara ini seharusnya semakin matang dan berkembang. Namun pada banyak sisi, kenyataan justru memperlihatkan yang sebaliknya. Tanpa bermaksud pesimis, negeri ini tampak semakin renta dan putus asa di tengah bungkus penampilannya yang lumayan gagah. Indonesia merupakan negara besar yang terletak di antara dua benua dan dua samudera; salah satu negara dengan luas terbesar dan populasi terbanyak di dunia; negara kepulauan dengan kekayaan budaya dan kekayaan alam yang luar biasa; negara yang merdeka tanpa mengemis pada penjajah serta bergerak aktif dalam politik internasional. Namun, pada saat yang sama negara ini juga merupakan salah satu negara paling korup di dunia; salah satu penghutang terbesar di dunia; salah satu ’pengekspor’ buruh kasar terbesar di dunia; sementara kekayaan alam serta perusahaan-perusahaan besar di dalam negerinya dikuasai dan dieksploitasi habis-habisan oleh pihak asing.

Semua persoalan di atas agaknya menggambarkan karakter bangsa yang semakin tidak rasional, apa lagi spiritual. Kekayaan spiritual masa lalu yang kerap dibangga-banggakan dalam pelajaran Sejarah di sekolah tampaknya tinggal menjadi cerita kosong yang sama sekali tidak menginspirasi kehidupan kontemporer masyarakat Indonesia. Kini, yang lebih banyak terekspresikan keluar justru aspek yang paling rendah yang dimiliki oleh seorang manusia, yaitu aspek instingtif. Di tengah penampakan modern yang super canggih, manusia Indonesia masa kini tampak telah begitu jauh meninggalkan citra budayanya yang beradab. Insting dan nafsu lebih sering menjadi penentu kebijakan pribadi dan nasional. Dan rasa malu pun sudah semakin hilang dari karakter bangsa ini.

Malik Bennabi, salah satu pemikir terkemuka Aljazair, menjelaskan bahwa setiap peradaban selalu melewati tiga fase dalam siklus kehidupannya. Pada fase pertama, yaitu fase spiritual, peradaban terlahir dan bergerak ’ke atas’. Pada fase ini peradaban mengalami inklinasi dan berkembang secara cepat mengatasi peradaban-peradaban lainnya. Aspek spiritual yang dimiliki masyarakat-lah yang menyebabkan mereka mampu bergerak secara progresif. Pada fase ini, kemampuan spiritual yang dimiliki masyarakat mampu mengontrol aspek instingtifnya secara penuh, sehingga gerak sejarah yang mereka lakukan relatif mulus dan penuh elan vital.

Pada titik tertentu, gerak inklinasi ini berhenti dan mulai bergerak secara horizontal. Di sini peradaban mulai memasuki fase kedua, yaitu fase rasional. Kendati tidak lagi bergerak ’naik’, peradaban justru berkembang secara budaya pada fase ini. Ilmu pengetahuan dan kebudayaan berkembang dengan pesat. Hanya saja, aspek rasional yang dimiliki masyarakat tak lagi mampu mengontrol aspek instingtif mereka seefektif pada fase spiritual sebelumnya. Aspek instingtif masyarakat mulai terlepas sebagian pada masa ini, kendati masih cukup bisa dikontrol oleh aspek rasional yang mereka miliki. Dalam perilaku instingtifnya, masyarakat mulai melakukan hal-hal yang bertentangan dengan semangat spiritual yang telah membantunya terlahir dan tumbuh dulu.

Peradaban akhirnya akan memasuki fase terakhir, yaitu fase instingtif. Pada fase ini, aspek instingtif telah mengontrol masyarakat dan peradaban mulai bergerak turun hingga ke titik nadir. Peradaban dan kebudayaan telah begitu maju dan berkembang di fase kedua sehingga manusia dari fase ketiga peradaban, yang disebut oleh Bennabi sebagai post-Almohads man, kehilangan kemampuannya untuk mengapresiasi peradaban secara positif, apa lagi mengembangkannya lebih jauh. Mereka pun menikmati peradaban dengan insting mereka dan pada saat yang sama membawanya ke jurang peradaban.

Indonesia memang terlalu kecil untuk dikategorikan sebagai sebuah peradaban. Ia hanyalah salah satu unsur peradaban. Namun, siklus peradaban pada dasarnya juga dialami oleh bangsa-bangsa pada umumnya. Berbagai bangsa di dunia juga melewati siklus kehidupannya sebagaimana yang telah digambarkan oleh Malik Bennabi di atas, kendati tidak mudah untuk menentukan secara pasti batas-batas peralihan fasenya. Bagaimana dengan Indonesia? Apakah kemerdekaan bisa dianggap sebagai sebuah titik kelahiran yang segera diikuti oleh gerak inklinasi fase spiritualnya? Apakah era pembangunan pada masa Orde Baru bisa dianggap sebagai fase rasional dari siklus sejarah bangsa ini? Kalau begitu, apakah masa-masa berikutnya bisa dianggap sebagai fase instingtif dari masyarakat Indonesia? Semua itu sungguh bukan pertanyaan yang mudah dijawab dan boleh jadi menimbulkan perdebatan intelektual yang tidak sederhana.

Apa pun jawabannya, ada hal-hal yang tetap bisa diamati secara jelas. Bersama arus globalisasi sekarang ini, perilaku instingtif (syahwati) masyarakat Indonesia tampaknya telah mengalami ekskalasi yang semakin serius akhir-akhir ini. Informasi tentang hal ini bisa diperolah di berbagai media. Perilaku seksual artis ibukota, sebagaimana yang dipaparkan dalam Jakarta Under Cover misalnya, ternyata semakin bebas dan tak bermoral. Secuil kasus YZ yang mencuat dibalik tumpukan tersembunyi perilaku seksual banyak anggota dewan boleh jadi akan mendorong munculnya buku berjudul MPR Under Cover di masa mendatang.

Sejauh mana dan seserius apa perilaku instingtif bangsa ini mungkin masih perlu ditelusuri lebih jauh. Namun, fenomena immoralitas bangsa yang semakin menggelembung tentu perlu diambil sebagai peringatan dini. Seluruh bangsa di dunia pada umumnya mengalami keruntuhan di fase instingtif dari siklus sejarahnya. Fase ini menyedot habis-habisan persediaan moral dan energi kreatif yang dimiliki sebuah bangsa. Kalaupun masih ada daya kreatif, maka itu semata-mata diarahkan untuk mengeksploitasi insting yang ada, yang justru akan semakin membawa pada keterpurukan.

Persoalannya kini, haruskan bangsa ini terpuruk di usianya yang masih terbilang muda? Indonesia belum lagi memiliki peran yang sangat menonjol dalam percaturan peradaban dunia, apatah lagi sampai memegang tongkat estafet kepemimpinan. Bangsa ini belum lagi muncul sebagai pengukir peradaban besar. Apakah kini ia telah benar-benar berada di fase terakhir dari siklusnya? Akankah bangsa ini semakin tenggelam di masa-masa mendatang, tanpa bisa dibelokkan kembali ke arah daur siklusnya yang awal? Pada akhirnya, masyarakat Indonesia sendirilah, terutama para pemimpinnya, yang harus menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan sungguh-sungguh. Sekiranya mereka tidak perduli terhadap semua itu, maka kemungkinan-kemungkinan di atas justru semakin menemukan pembenarannya. Karena ketidakperdulian merupakan salah satu ciri fase ketiga peradaban.

15 Januari 2007