Gulliver dan Negeri Para Pencuri

by alwialatas

Oleh : Alwi Alatas

     

      “Gulliver … Gulliver,” Seorang pria dewasa berlari kencang menuju pria berkuncir bernama Gulliver itu. Gulliver memperhatikan pria tadi berhenti di hadapannya dengan terengah-engah.

      “Gulliver … ada orang terdampar dipantai.” Gulliver mengernyitkan dahi.

      “Memangnya kenapa? Setiap minggu ada orang yang terdampar di pantai.”

      “Betul, tapi agaknya orang ini berasal dari negeri yang sangat asing. Orang-orang meminta saya untuk memanggilmu ke pantai, barangkali ia berasal dari salah satu negeri yang pernah kamu kunjungi.”

      “Mungkin juga tidak. Tapi tak apalah, ayo kita pergi ke sana.”

      Keduanya pun berangkat ke pantai yang tidak begitu jauh letaknya. Di sana terlihat orang-orang berkerumun di satu tempat, seolah ada pertunjukan menarik yang sedang mereka saksikan.

      Seorang bapak tua yang nyaris telanjang terbaring di tepi pantai. Kulitnya sawo matang, tingginya sedang, tapi badannya kurus sekali. Semua yang melihatnya bingung bagaimana orang sekurus itu bisa bertahan hidup. Orang-orang kemudian menutupinya dengan selimut dan membawanya ke bale-bale yang berada tidak jauh dari situ. Tak lama kemudian mata orang tua itu mulai terbuka. Apa yang baru dilihatnya membuat mimik wajahnya berubah. Namun badannya yang lemah tidak memungkinkannya untuk banyak bergerak.

      “Di mana saya?” Ia memperhatikan orang-orang yang menatapnya. Orang-orang memberitahu kepadanya nama tempat itu, tapi ia terlihat tidak mengerti. Matanya kemudian tertambat pada Gulliver.

      “Rasanya saya pernah melihat Anda sebelumnya.”

      “Saya Gulliver. Mungkin saya pernah datang ke negeri Anda sebelumnya?” terang Gulliver. Orang tua itu mengernyitkan dahi. Ia berusaha duduk yang kemudian segera dibantu oleh Gulliver dan orang-orang lainnya.

      “Gulliver …. Satu-satunya Gulliver yang saya tahu adalah orang yang pernah pergi ke negeri liliput, negeri raksasa dan negeri-negeri aneh lainnya.”

      “Ya betul, saya Gulliver yang Anda maksud itu.”

      Orang tua itu tampak bingung. Setelah yakin bahwa ia tidak sedang bermimpi, ia kembali berkata.

      “Tapi di negeri saya, Gulliver hanya sebuah kisah dongeng. Saya biasa membacanya di waktu kecil.”

      “Saya pun dulu dianggap pembual dan tukang dongeng karena pengalaman-pengalaman saya yang aneh, tapi orang-orang akhirnya percaya setelah melihat bukti-bukti yang ada,” jelas Gulliver.

      “Jadi … Anda benar Gulliver yang itu? Jadi … saya akhirnya berhasil keluar dari negeri terkutuk itu?” Orang tua itu tiba-tiba tertawa keras hingga tubuhnya terguncang. Orang-orang sampai takut tulang belulangnya rontok berantakan karena ketawanya yang seperti itu.

      “Sebetulnya Anda ini dari negeri mana?” Gulliver bertanya penasaran. Tawa orang tua itu perlahan-lahan mereda.

      “Syukur pada Penguasa Alam Semesta yang berkenan mengabulkan permohonan hamba.” Orang tua itu kemudian memandang Gulliver dan orang-orang di sekitarnya.

      “Gulliver sekalipun pasti belum pernah melihat negeri seperti negeri saya. Hanya ada satu negeri seperti itu di dunia ini.”

      “Anda kelihatannya bangga sekali dengan negeri anda itu,” salah seorang yang ikut berkerumun tiba-tiba bertanya.

      “Bangga …,” orang tua itu melotot pada orang yang bertanya tadi, “Cis …, kamu belum tahu betapa rusak dan kacaunya negeri saya itu, malu aku jadi orang negeri itu.”

      “Tapi melihat dari penampilan bapak, kelihatannya tidak ada yang istimewa dengan negeri bapak,” Guliver menatap si orang tua, masih dengan rasa penasaran.

      “Saya memang bukan orang kerdil atau raksasa, atau makhluk yang ganjil secara fisik dibanding Anda sekalian, tapi kalian tetap akan heran dengan tingkah laku dan cara hidup di negeri saya. Anda semua masih penasaran dari mana saya berasal?” semua mata menatap orang tua itu tanpa berkedip. “Saya dari Negeri Para Pencuri.”

      “Negeri Para Pencuri?”

      “Ya, Negeri Para Pencuri. Hampir seluruh penduduk negeri saya adalah pencuri,” Lelaki tua itu memperhatikan reaksi orang-orang disekitarnya.

      “Maksud Anda, mereka semuanya miskin-miskin sehingga banyak yang jadi pencuri?” Orang yang tadi menjemput Gulliver bertanya.

      “Tidak, sama sekali tidak. Tidak sedikit dari mereka yang kaya raya. Tapi justru yang kaya raya itu tidak lagi sekedar mencuri, tapi “merampok,” “menggarong” … atau apalah namanya. Makin kaya dan tinggi posisinya, maka makin besar nilai kekayaan yang dicurinya.”

      “Kalau sudah kaya, kenapa harus mencuri lagi?”

      “Justru itulah sebabnya negeri kami dinamakan Negeri Para Pencuri, karena mencuri bukanlah semata-mata desakan kebutuhan, tapi sudah menjadi semacam eksistensi diri.”

      Orang-orang yang berkerumun saling pandang satu sama lain mendengar keterangan tersebut. Mereka saling bisik, kasak-kusuk tidak karuan.

      “Lalu, kalau semuanya jadi pencuri, siapa yang jadi korbannya? Mereka kan tidak bisa saling mencuri satu sama lain,” Gulliver yang kali ini bertanya. Orang tua itu terdiam sejenak, berfikir keras bagaimana cara menggambarkan masalah ini dengan jelas.

      “Penduduk kami memang pencuri semua … setidaknya hampir semuanya, tapi para pejabat Negeri Pencurilah yang mencuri paling banyak. Mereka mencuri segala sesuatu yang bisa dicuri, tapi terutama uanglah yang paling mereka incar. Uang yang dikeluarkan berdasarkan anggaran rutin langsung ludes, sebagian besarnya masuk ke kantong-kantong pencuri besar. Ketika negara terancam bangkrut, maka para pimpinan Negeri Pencuri memutuskan untuk menerima pinjaman dari negeri tetangga. Begitu pinjaman datang, sebagian besarnya langsung mereka curi lagi.”

      “Kenapa negeri yang memberi pinjaman diam saja terhadap pencurian-pencurian itu, mereka kan jelas dirugikan?”

      “Oh, jangan salah …. Mereka justru diuntungkan,” Orang tua itu melihat orang-orang disekelilingnya yang terheran-heran tidak percaya,” Ketika hutang-hutang itu sudah harus dikembalikan, Negeri Para Pencuri jelas tidak mampu membayarnya, bukan hanya karena hilangnya uang-uang pinjaman itu entah kemana, tapi juga karena bunga pinjamannya yang tidak kecil. Para petinggi Negeri Pencuri akhirnya terpaksa menjual tambang-tambang emas negeri dengan harga murah. Celakanya, uang hasil penjualan itu pun tidak lolos dari tangan-tangan  para pencuri besar yang licik itu.”

      “Lalu bagaimana dengan rakyat di negeri itu?

      “Rakyat hampir-hampir tidak kebagian apa-apa lagi, tidak ada cukup uang dan barang di kaki-kaki bukit kekuasaan yang bisa mereka curi. Kebiasaan mereka sendiri dalam mencuri sesungguhnya berasal dari pencuri besar yang pertama kali berkuasa di negeri kami. Dialah yang perlahan-lahan mengubah kebiasaan bawahan serta rakyatnya menjadi pencuri juga. Tapi kalau rakyat hanya bisa mencuri sandal kayu atau uang recehan, maka para pemimpin negeri mereka telah merampok bertumpuk-tumpuk pundi emas, lahan-lahan sebesar pulau, dan mereka makan barang haram setiap hari sampai perut mereka membusung sebesar gajah.”

      “Kalau begitu, penduduk negeri Anda tentu semakin tertekan dan sengsara. Apakah mereka semua tidak menyadari bahwa mencuri itu salah dan merugikan,” Gulliver makin tertarik dengan kisah orang tua ini.

      “Seharusnya …, tapi masyarakat Negeri Pencuri sudah terlalu lama hidup dalam tradisi mencuri, sampai-sampai orang-orang yang terlalu jujur akan dilihat sebagai orang yang aneh ….”

      “Aneh? Apakah orang-orang jujur di sana dianggap sebagai ancaman?”

      “Tidak. Orang-orang jujur ini dipandang baik oleh masyarakat, hanya saja agak aneh … mereka dipandang agak bodoh … orang-orang baik yang kurang cerdas … begitulah. Tapi orang-orang jujur yang kritis … mereka inilah yang dipandang sangat berbahaya oleh para pemimpin Negeri Pencuri. Sementara pada saat yang sama, masyarakat sendiri tidak begitu perduli dengan dedikasi dan upaya mereka menyelamatkan negeri dari kutukan … menyedihkan sekali.

      Masyarakat Negeri Pencuri memandang bodoh siapa saja yang mengabaikan peluang-peluang untuk mencuri, terutama bagi mereka yang memangku kuasa dan berkedudukan. Pernah suatu kali masyarakat memaksa turun pencuri besar yang telah menjadi kepala negeri sekian lamanya. Tapi rakyat yang menggantikannya, sama sekali tidak berniat mengubah tradisi yang ada, mereka hanya mengubah status mereka sendiri dari pencuri kecil menjadi pencuri besar.”

      “Di negeri kami ini juga ada pencuri. Mereka mengambil barang tetangganya, mencuri uang dan sebagainya,” seorang pemuda berhidung pesek dan berbadan pendek gemuk menyela pembicaraan. Orang-orang yang sedang asyik mendengarkan cerita menatapnya dengan jengkel. Pemuda tadi langsung meminta maaf atas interupsinya.

      “ Kalau di negeri saya, yang seperti itu disebut pencuri kecil, kelas rakyat. Pencuri-pencuri besar dan para pemimpin negerinya melakukannya dengan cara yang berbeda,” Orang tua itu menanggapi interupsi si pemuda yang tak urung membuatnya senang.

      “Berbeda bagaimana? Kami di sini hanya tahu mencuri yang seperti itu,” Gulliver bertanya lebih jauh.

      “Para pimpinan pencuri di negeri kami melakukannya dengan cara mengubah laporan keuangan. Tidak jarang mereka mencuri dengan cara berdagang …”

      “Dengan cara berdagang?” Gulliver dan teman-temannya bertambah bingung.

      “Ya … hanya saja mereka memperdagangkan hal-hal yang seharusnya tidak boleh. Mereka memperdagangkan “keadilan,” “hukum,” “perijinan,” “kesempatan,” “peluang,” “kursi,” dan masih banyak lagi. Mereka bukan hanya memperdagangkan semua itu … mereka melelangnya kepada siapa saja yang bersedia membayar paling tinggi.” Orang tua yang kurus itu menerangkan dengan penuh semangat, sementara Gulliver dan teman-temannya justru makin kebingungan.

      “Mereka melakukan semua itu dengan licin, mulus, dan “sesuai prosedur hukum”. Mereka menamai itu “pencurian tingkat tinggi”. Banyak orang di negeri kami yang memiliki keterampilan ini. Begitu kalian memberi mereka satu kesempatan saja, mereka akan melakukan segala sesuatunya dengan cepat dan rapi, Anda tidak akan menyadarinya sampai seluruh kekayaan Anda ludes tak berbekas.”

      “Kami tidak mungkin memberi orang-orang semacam itu sebuah kesempatan sekalipun untuk merampok kami seperti itu,” salah seorang teman Gulliver yang lain menimpali dengan spontan. Orang tua dari Negeri Para Pencuri menarik nafas dalam-dalam.

      “Begitulah seharusnya … tapi masyarakat kami telah memberi ribuan kesempatan bagi mereka. Rakyat negeri kami yang bodoh telah memberi terlalu banyak kesempatan pada para pencuri besar, padahal satu kesempatan saja sudah cukup bagi mereka untuk mengacaukan negeri kami. Segala hal yang kami buat saat ini rasanya sudah tak berarti lagi. Kami pernah membentuk dewan pemantau para pencuri. Para pencuri sempat takut dengan keberadaan dewan ini. Tapi nyatanya para anggota dewan pemantau kemudian malah menjadikan posisi mereka untuk memeras para pencuri dan mengambil bagian dari hasil pencurian mereka.”

      “Kalau rakyat kalian memang menderita mengapa tidak bergabung saja dan memberontak terhadap para pencuri besar di negeri kalian? Mengapa kalian tidak melancarkan suatu aksi masal melawan para pencuri besar. Masyarakat akan punya kekuatan besar kalau bersatu padu?” tanya Gulliver.

      “Terkadang pikiran semacam itu terlintas juga di benak sebagian kami, tapi kami terlalu lemah dan gampang dipecah belah, sementara para pencuri besar itu terlalu licik bagi kami. Saya sendiri sudah menyerah dengan keadaan dan memutuskan untuk lari keluar dari negeri itu. Untunglah saya berhasil, saya tidak akan pernah lagi melihat negeri yang memalukan itu, saya bebas sekarang,” Orang tua itu begitu bersemangat dan berusaha berdiri. Gulliver dan teman-temannya memapah orang tua itu untuk diajak ke tempat tinggal mereka.

      “Tapi bagaimana Anda sendiri bisa sampai meloloskan diri dari sana?” Gulliver kembali bertanya sambil memegangi tangan orang tua itu dengan hati-hati.

      “Bagaimana…? Tentu saja dengan mencuri perahu ….”

      Mereka terus bercakap-cakap sambil berjalan. Tidak ada yang ajaib pada orang tua ini, pikir Gulliver dan kawan-kawannya, tapi cerita yang dibawakannya berkenaan dengan Negeri Para Pencuri sungguh lebih aneh dari semua cerita yang pernah mereka dengar dari Gulliver.

26 Desember 2007