Sisilia: Dua Abad Keemasan di Bawah Islam [Bagian 1]

by alwialatas

Oleh : Alwi Alatas

 

      Sisilia merupakan pulau terbesar di Laut Tengah. Posisinya berdekatan dengan Semenanjung Italia dan hanya dibatasi oleh sebuah selat sempit yaitu Stretto di Messina. Pulau ini dulunya dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu Val di Mazara di sebelah Barat, Val di Noto di sebelah Tenggara, dan Val Demone di bagian Timur Laut. Beberapa kotanya yang penting adalah Syracuse, Castrogiovanni, dan Palermo. Kota-kota di pulau ini serta di wilayah Eropa lainnya pada masa itu umumnya berbenteng, untuk berjaga-jaga dari kemungkinan serangan musuh.

      Sejarah pulau ini telah dimulai beberapa abad sebelum masehi. Pada awalnya pulau ini dihuni oleh orang-orang yang menyeberang dari Selatan Italia. Mereka disebut sebagai orang-orang Siculi atau Sicani. Dari sinilah berkembang nama Sisilia (Sicily). Penguasaan pulau ini berpindah-pindah dalam beberapa abad mulai dari Yunani, Cartage, Romawi, Vandals, dan Byzantium, sebelum kemudian dikuasai oleh kaum Muslimin.

      Serbuan bangsa Gothic dan Hunic pada abad ke-5 dan setelahnya telah meruntuhkan Imperium Romawi Barat dan melemahkan Romawi Timur atau Byzantium. Sementara itu, sebuah kekuatan baru, yaitu Islam, muncul dan menyebar dengan cepat dari Jazirah Arabia sejak abad ke-7. Pada saat penyebaran kaum Muslimin mencapai Afrika Utara, Semenanjung Italia dikuasai oleh bangsa Lombard, sementara Sisilia tetap berada di bawah kekuasaan Byzantium.

      Pada bagian akhir paruh pertama abad ke-7, pasukan Muslim dengan kecepatan yang tinggi berhasil mengambil alih Iraq, Syria, dan Mesir dari tangan Byzantium. Secara bertahap tapi pasti, Islam terus menyebar ke seluruh wilayah Afrika Utara. Antara tahun 642-643, penduduk Sisilia ikut merasakan kuatnya gelombang penaklukkan Islam yang dipimpin oleh Amr bin Ash, karena banyaknya orang-orang Kristen yang mengungsi ke pulau ini dari Tripoli.

Image

      Pada tahun 652, Mu’awiyyah bin Abu Sufyan yang pada saat itu merupakan Gubernur Syria mengutus Mu’awiyyah bin Khudaij untuk menyerang Sisilia. Sejak itu, lebih dari sepuluh kali serangan dilakukan oleh kaum Muslimin terhadap pulau ini tanpa ada hasil yang signifikan. Sayangnya, banyak serangan awal ke pulau ini lebih ditujukan untuk mendapatkan pampasan perang ketimbang upaya untuk menguasai serta membangun peradaban di atasnya. Bagaimanapun juga, kaum Muslimin dan pihak Byzantium pada masa itu memang sedang dalam keadaan aktif berperang.

      Pada tahun 750, Dinasti Umayyah berganti dengan Dinasti Abbasiyyah. Terhadap wilayah Tunisia dan sekitarnya, pihak Abbasiyyah menunjuk Dinasti Aghlabiyyah sebagai gubernur di sana. Pada tahun 827, Sisilia mengalami konflik internal. Euphemius, seorang komandan Angkatan Laut dan bangsawan Sisilia bersitegang dengan Kaisar Byzantium. Ia pergi ke Tunisia – ketika itu bernama Ifriqiyya – dan mengundang kaum Muslimin untuk masuk dan merebut pulau tersebut dari tangan Byzantium. Upaya penaklukkan segera dijalankan. Asad bin Furat, seorang fuqaha masyhur madzhab Maliki, dipercaya untuk memimpin sekitar 10.000 mujahidin bagi penaklukkan pulau ini. Pasukan mendarat di kota Mazara dan penaklukkan pun dimulai.

      Penaklukkan wilayah yang tidak terlalu besar ini rupanya tidak berjalan mudah. Dibutuhkan waktu 75 tahun sebelum Sisilia takluk sepenuhnya ke tangan Islam. Hal ini antara lain terjadi karena gigihnya pertahanan penduduk Kristen setempat di balik benteng-benteng kota mereka. Kondisinya jauh berbeda dengan Andalusia yang berhasil ditaklukkan dalam waktu yang begitu singkat.

Image

      Kaum Muslimin kemudian menjadikan Palermo sebagai ibu kota mereka. Pemerintahan yang relatif independen dijalankan dan peradaban Islam mulai dibangun di pulau ini, sementara proses penaklukkan masih terus berjalan. Bukan hanya Sisilia, sebagian Semenanjung Italia, terutama bagian Selatan dan Utaranya, juga sempat jatuh ke tangan kaum Muslimin. Bahkan di wilayah Bari dan sekitarnya, antara tahun 841 dan 871, Mufarraj bin Salam sempat menegakkan sebuah pemerintahan Islam yang independen. Beberapa Paus di Roma pada masa-masa ini, antara lain John VIII, mau tak mau harus membayar jizyah kepada kaum Muslimin.

      Tahun 909 terjadi revolusi Syi’ah Isma’iliyyah di Afrika Utara dan Dinasti Fathimiyyah pun berdiri. Pada tahun yang sama Sisilia juga berhasil direbut oleh Fathimiyyah. Namun beberapa tahun kemudian, Dinasti Kalbite dipercaya sebagai gubernur yang otonom di pulau ini. Kendati politik pemerintahan di Sisilia dikendalikan oleh kaum Syi’ah, namun tradisi intelektual dan keagamaan tetap didominasi oleh kaum Sunni. Banyak ulama dan ilmuwan dalam berbagai bidang, seperti Fiqh, Tafsir Al-Qur’an, Hadits, Bahasa Arab, Sastra, dan lainnya, datang menetap atau lahir di pulau ini.

      Sumbangan kaum Muslimin di bidang pertanian dan pertambangan juga sangat signifikan. Mereka membangun sistem irigasi yang sangat bagus. Orang-orang Kristen di pulau tersebut serta orang-orang Eropa secara umum mempelajari dari mereka cara membudidayakan beberapa jenis tanaman seperti tebu, mulberi, papyrus, kapas, jeruk dan anggur. Keberadaan kaum Muslimin di Sisilia telah mendorong terjadinya sebuah perubahan revolusioner dalam bidang agraria serta ekonomi industri di pulau tersebut. Mereka menjadikan Sisilia sebagai sebuah pasar internasional dan orang-orang Kristen dari Italia diperlakukan sama dengan para pedagang dan konsumen dari wilayah-wilayah Muslim lainnya. Di bidang industri, mereka memproduksi emas, belerang, raksa, antimoni, dan tawas.

Image

      Sayangnya mulai tahun 1040-an, terjadi kekacauan politik di pulau ini dan kekuasaan kaum Muslimin terpecah-pecah di antara beberapa bangsawan setempat. Pada tahun 1060, Ibn Thumna yang berambisi menguasai seluruh Sisilia mengalami kekalahan. Persis sebagaimana yang pernah dilakukan Euphemius, ia mengundang penguasa baru di Italia, yaitu Roger dan Rober Guiscard yang berasal dari Norman, untuk masuk dan merebut Sisilia. Maka kekuasaan kaum Muslimin secara politik pun berakhir di pulau tersebut. Tapi apakah kebudayaan mereka serta merta lenyap dengan masuknya penguasa Kristen? Kita akan membahas ini pada pembahasan berikutnya insya Allah.

28 Januari 2007