Sisilia: ‘Sultan-Sultan yang Dibaptis’ [Bagian 2-Selesai]

by alwialatas

Oleh: Alwi Alatas

 

      Setelah perpecahan yang serius di antara bangsawan-bangsawan muslim di Sisilia dan salah satu dari mereka mengundang orang-orang Kristen untuk menaklukkan pulau itu, maka Sisilia pun akhirnya lepas dari tangan kaum muslimin. Sebagian penduduk Kristen, terutama yang tinggal di bagian Timur pulau, ikut membantu proses penaklukkan kembali Sisilia. Dalam waktu 30 tahun saja, Roger I dan Robert Guiscard berhasil menguasai Sisilia sepenuhnya. Roger I kemudian menjadi raja di Sisilia serta beberapa wilayah di Italia.

Image

      Walaupun Sisilia sudah jatuh ke tangan penguasa yang baru, peradaban kaum muslimin ternyata masih mampu bertahan di pulau tersebut selama lebih dari dua abad berikutnya. Raja-raja Kristen dari Norman yang menaklukkan pulau tersebut, Roger I, Roger II (1111-1154), William I (1154-1166), dan William II (1166-1189), pada gilirannya justru takluk pada keindahan peradaban kaum muslimin. Toleransi beragama yang sebelumnya telah menjadi ciri khas peradaban Islam kini diteruskan tradisinya oleh raja-raja tersebut. Mereka menolak tekanan gereja untuk mengkristenkan kaum muslimin. Hanya saja pada akhirnya kaum muslimin mendapat tekanan juga dari komunitas Kristen di pulau itu. Dalam proses yang cukup lama, jumlah kaum muslimin di pulau itu menyusut sedikit demi sedikit. Beberapa dari mereka dikonversikan secara paksa ke dalam agama Kristen sementara sebagian besar yang lain melakukan migrasi ke Afrika Utara. Namun selama dua abad lebih itu, Raja-Raja Sisilia Kristen terus saja terpukau dengan ketinggian budaya kaum muslimin serta menggunakan atribut-atribut Islam untuk diri mereka sendiri.

      Selama masa ini, sistem politik serta kebiasaan para penguasa muslim sebelumnya tetap dipelihara. Bahasa Arab dipertahankan sebagai salah satu bahasa resmi kerajaan dan para rajanya sendiri mampu berbahasa Arab dengan baik. Para ilmuwan muslim selalu mendapat tempat terhormat di Kerajaan Norman-Sisilia. Al-Idrisi bahkan mempersembahkan karya terbaiknya, Kitab Ar-Rujari, pada raja Roger II. Raja-Raja Kristen ini bahkan menggunakan gelar-gelar berbahasa Arab seperti yang digunakan para penguasa muslim. Roger II Al-Mu’tazz billah, William I Al-Hadi bi Amrillah, dan William II Al-Musta’izz billah. Itulah sebabnya mengapa terkadang mereka disebut oleh pihak muslim ataupun kristen sebagai ’kripto-muslim’ atau ’sultan-sultan yang dibaptis’ (the babtized sultan).

Image

      Seorang pengembara muslim dari Andalusia, Ibn Jubair, mampir ke pulau ini pada tahun 1185 setelah perjalanannya dari Timur. Ia mencatat berbagai hal tentang kehidupan kaum muslimin dan kristen di pulau tersebut. Berdasarkan pengamatannya, sikap penduduk kristen sangat toleran terhadap tetangga-tetangga muslimnya. Walaupun demikian, menurut Donald Matthew, itu tidak memadai untuk mencegah terjadinya pembantaian yang buruk di kemudian hari. Pengaruh kebudayaan kaum muslimin ternyata tidak hanya mempengaruhi raja-raja Sisilia saja, melainkan juga penduduknya. Ibn Jubair mencatat betapa cara hidup muslim ditiru oleh penduduk kristen. Kaum perempuan kristen di pada umumnya mengenakan busana seperti kaum muslimah, termasuk penggunaan kerudung. Penduduk Kristen di pulau tersebut juga tidak makan daging babi dan lafaz syahadat merupakan hal yang umum di tengah-tengah mereka. Pada saat Ibn Jubair berkunjung, kota Palermo masih memiliki 300 buah masjid.

      Dinasti Norman kemudian digantikan oleh kaisar dari Jerman, Henry VI, pada tahun 1194. Anaknya yang kemudian menggantikannya, Frederick II (1208-1250), ternyata juga sangat terpengaruh dengan budaya kaum muslimin. Saat meninggal ia bahkan dikuburkan dengan menggunakan kain kafan. Bila populasi muslim mengalami penderitaan dan mendapat tekanan yang serius selama masa pemerintahan Frederick II, kebudayaan mereka justru mencapai puncaknya pada masa ini. Universitas Naples, universitas pertama di Eropa, didirikan pada tahun 1224, diikuti oleh universitas di Messina dan Padua serta renovasi sebuah sekolah kedokteran lama di Palermo. Sisilia, dan juga Andalusia, merupakan jembatan langsung yang menjadi penghantar peradaban kaum muslimin yang tinggi mengalir secara deras ke Eropa yang masih barbar.

      Keadaan setelah itu semakin memburuk bagi kaum muslimin. Jumlah mereka sudah semakin berkurang dibandingkan masa-masa sebelumnya. Terjadinya pemberontakan demi pemberontakan mendorong Frederick memindahkan kaum muslimin di Sisilia secara bertahap ke sebuah koloni di daratan Italia Selatan, tepatnya di Lucera. Anak haram Frederick, Manfred, merupakan penguasa Kristen terakhir yang masih bersikap toleran terhadap kaum muslimin. Pihak gereja serta para paus di Roma tentu saja tidak menyukai raja-raja Kristen yang berperilaku kearab-araban tersebut. Manfred sendiri disindir oleh paus sebagai ’Sultan Lucera’ serta Tuannya orang-orang Saracen ’orang-orang Islam.’

      Atas restu paus, Charles d’Anjou kemudian memerangi dan membunuh Manfred pada tahun 1266. Setelah itu, beberapa misionaris fanatik seperti Raymond Lull diutus untuk mengkristenkan kaum muslimin yang tersisa di Lucera. Kaum muslimin menolak hal itu. Banyak dari mereka yang beremigrasi ke Afrika Utara sementara beberapa lainnya tetap bertahan. Akhirnya, atas perintah paus, sisa-sisa kaum muslimin yang tetap bertahan di Lucera ini dihancurkan dan dibantai pada tahun 1300.

      Kisah kaum muslimin di Sisilia memberikan banyak pelajaran bagi kita. Kaum muslimin menaklukkan pulau tersebut setelah terjadinya konflik internal di kalangan orang-orang Kristen dan salah seorang dari mereka mengundang kaum muslimin ke sana. Celakanya, kebodohan yang sama juga dilakukan oleh pihak muslim di Sisilia. Mereka berpecah belah dan salah seorang yang terlibat konflik justru mengundang orang-orang Norman Kristen untuk merebut Sisilia. Kaum muslimin juga tampak kurang serius dalam upaya mereka menaklukkan Italia. Ini berbeda dengan upaya mereka yang gigih dalam upaya penaklukkan Konstantinopel. Mereka juga tampaknya kurang menggunakan pendekatan dakwah Islamiyah terhadap penduduk setempat, sehingga proses Islamisasi pulau tesebut kurang berjalan lancar.

      Pemerintahan raja-raja Kristen di Sisilia juga memberikan beberapa pelajaran bagi kita. Pertama, ilmu pengetahuan merupakan kekuatan yang luar biasa bagi sebuah peradaban. Siapa yang menguasai ilmu pengetahuan, maka peradabannya akan mampu bertahan lebih lama dan langgeng. Kedua, ternyata sikap toleran raja-raja Kristen tidak menjamin kaum muslimin untuk tetap eksis di Sisilia. Sikap toleran itu sendiri diadopsi oleh penguasa Kristen masa itu dari kaum muslimin juga, bukan dari pihak gereja.

      Akhirnya, keberhasilan Kristen dalam menaklukkan kembali Sisilia merupakan batu loncatan pertama, sekaligus motivator yang penting, bagi paus untuk mengumumkan Perang Salib yang pertama. Seruan Perang Salib pertama oleh Paus Urbanus II terjadi tidak sampai setengah abad setelah Roger I dan Robert Guiscard masuk ke Sisilia untuk pertama kalinya. Wallahu a’lam bis showab.

28 Januari 2007

Islam in Sicily