Spiritual Healing

by alwialatas

Oleh : Alwi Alatas

 

Ada sebuah kisah menarik dalam Reader’s Digest edisi Juni 1996. Larry Dossey menceritakan pengalamannya menangani seorang pasien yang terkena penyakit Kanker yang cukup parah. Ia menyarankan si pasien untuk melakukan beberapa terapi, tetapi si pasien memutuskan untuk tidak melakukannya. Suatu hari si dokter melihat sekumpulan pengunjung dari gereja mengelilingi tempat tidur si pasien. Mereka bernyanyi dan berdoa. Hal yang bagus, fikir si dokter, karena segera nantinya mereka akan bernyanyi dan berdoa di pemakamannya.

Setahun kemudian, si dokter yang sudah bekerja di tempat lain mendapat informasi dari temannya bahwa pasiennya yang dulu ia tangani itu masih hidup. Ia tidak bisa mempercayai kenyataan tersebut, tetapi setelah melihat foto rontgen, ia temukan bagian dada si pasien yang dulunya ada Kanker kini sudah bersih. “Terapinya manjur,” kata temannya. Terapi, fikir si dokter, tetapi tidak ada terapi sama sekali…kecuali kalau doa bisa digolongkan sebagai terapi.

Apa pendapat anda tentang masalah ini? Ini merupakan keajaiban spiritual, ketidaksengajaan biologis atau justru sebuah propaganda Kristen. Kenyataannya, apa yang disebut-sebut sebagai penyembuhan spiritual (spiritual healing) menjadi perbincangan menarik di kalangan dokter-dokter Barat. Mereka melakukan beberapa penelitian berkenaan dengan masalah ini dan hasilnya sungguh mencengangkan dunia kedokteran. Determinisme ilmiah di bidang kesehatan dan kedokteran menjadi goyah dan kehilangan pegangan. Bagaimana mungkin sebuah doa yang tidak masuk dalam kategori ilmu dan bersifat metafisik dapat mengatasi problem fisik dan materi. Tapi itulah kenyataannya. Bahkan seorang yang sangat skeptis seperti Dr. William Nolen mengakui bahwa jika hal ini memang merupakan studi yang valid “maka kita para dokter harus menulis pada lembar-lembar resep kita : Berdoa tiga kali sehari.” Mari kita lihat fakta-faktanya lebih jauh.

Image

Majalah Time, edisi 24 Juni 1996 (masih tahun yang sama dengan Reader’s Digest di atas) mengangkat tema ini, Faith and Healing, sebagai tema utamanya. Di dalamnya diungkap sejumlah hasil penelitian :

# Di antara 232 pasien bedah jantung di Dartmouth-Hitchcock Medical Center yang diteliti tahun 1995, ditemukan bahwa mereka yang mengaku memperoleh kenyamanan dan kekuatan dari keyakinan religius lebih kecil tingkat kematiannya tiga kali dibanding yang tidak.

# Sebuah penelitian selama 30 tahun menemukan bahwa orang-orang yang rajin ke gereja (churchgoers) tekanan darahnya 5 mm lebih rendah dibanding yang tidak atau jarang ke gereja (non-churchgoers).

# Sebuah penelitian oleh National Institute atas 4000 orang di North Carolina pada tahun 1996 menemukan bahwa mereka yang terlibat dalam pelayanan-pelayanan religius lebih sedikit depresi dan secara fisik lebih sehat dibanding mereka yang tidak terlibat kegiatan-kegiatan religius.

# Orang-orang yang tidak pergi ke gereja (non-churchgoers) didapati memiliki tingkat bunuh diri empat kali lebih tinggi dibanding orang-orang yang biasa ke gereja.

Masih banyak fakta-fakta lain yang jelas menunjukkan adanya kaitan antara keyakinan dan praktek spiritual dengan kesehatan. Agaknya kaum atheis dan sekular perlu berfikir ulang tentang keyakinannya. Tuhan tidak mati seperti yang telah dikatakan Nietsche. Tanda-tanda kekuasaan-Nya hadir secara jelas tepat di pusat-pusat peradaban yang berusaha mengangkangi-Nya.

Orang mungkin bisa menafsirkan fenomena ini sebagai kekuatan fikiran positif atau optimisme dari kaum agamis walaupun kebenaran agama yang mereka yakini itu boleh jadi semu belaka. Namun, masih ada penelitian lain yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan keyakinan spiritual pasien. Pada tahun 1988 dilakukan studi atas 393 pasien sakit jantung oleh Dr. Randolph Byrd. Sebagian mereka, secara acak, diberikan nama-namanya kepada sekelompok pendoa untuk didoakan sementara sisanya tidak. Para pendoa ini sama sekali tidak kenal dan tidak bertemu dengan pasien yang mereka doakan. Para pendoa ini menyebutkan nama serta deskripsi penyakit pasien dalam doa yang mereka bawakan dan hal ini mereka lakukan setiap hari. Sepuluh bulan kemudian, diperoleh hasil ini :

# Mereka [yang didoakan] lima kali lebih sedikit membutuhkan antibiotik dibandingkan kelompok yang tidak didoakan.

# Mereka dua setengah kali lebih sedikit menderita kelumpuhan jantung karena tersumbat.

# Mereka lebih sedikit menderita serangan jantung (cardiac arrest).

Apakah ini terkait dengan optimisme pasien? Padahal jelas dalam penelitian ini bahwa para pasien, baik yang didoakan maupun yang tidak, sama-sama tidak tahu tentang praktek doa yang ditujukan pada mereka ini.

Image

Spiritual healing bisa dikatakan sebagai tanda-tanda kemenangan kaum yang meyakini Tuhan atas kaum atheis, kemenangan kaum agama atas kaum sekular. Sekarang tinggal sebuah pertanyaan tersisa bagi kaum muslimin. Bila doa-doa Kristiani sampai pada Tuhan dan dikabulkan, tidakkah ini membuktikan kebenaran aqidah mereka (umat Kristiani)? Tidak juga ! Lalu bagaimana hal ini dijelaskan? Tidakkah terjadi kesenjangan yang besar antara ayat-ayat langit (keyakinan Islam) dengan realitas kehidupan? Cukuplah ayat-ayat Al-Qur’an ini yang memberi jawaban :

“Alif Laam Miim (1). Telah dikalahkan bangsa Rumawi (2), di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang (3), dalam beberapa tahun lagi. Bagi Allahlah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman.” (Q.S. 30-1-4).

Ayat-ayat ini bercerita tentang kekalahan bangsa Romawi yang Kristen oleh bangsa Persia yang Majusi. Kekalahan ini diangkat-angkat oleh para penyembah berhala di Makkah, yang merasa lebih dekat pada penyembah api Persia, sebagai kelemahan agama samawi. Mereka melakukan ini untuk menjatuhkan Rasulullah saw. dan para pengikutnya. Maka Allah pun menurunkan ayat di atas. Orang-orang Rumawi yang beragama Kristen walau bagaimanapun lebih dekat kepada kaum muslimin dibandingkan penyembah api Persia. Oleh sebab itu, kemenangan bangsa Rumawi yang diramalkan oleh Al-Qur’an menjadi kabar gembira bagi orang-orang beriman, karena hal itu merupakan sebagian tanda-tanda kemenangan Islam yang dipercepat oleh Allah. Begitu pula masalah spiritual healing di dunia Barat ini. Mudah-mudahan ini termasuk tanda-tanda kemenangan yang ditunjukkan oleh Allah bagi orang-orang beriman.

Selain itu, bukankah Allah itu ar-Rahman dan ar-Rahim. Dia menyayangi setiap hambanya dan tentu berkenan menjawab setiap permohonan mereka di dunia. Allah tentu membalas permohonan serta kebaikan yang dilakukan manusia di dunia. Adapun urusan mereka di akhirat kelak, maka itu terpulang kepada-Nya. Oleh karena itu, setiap Muslim seharusnya lebih mantap lagi dalam meminta dan memohon kepada-Nya. Bukankah sains modern sendiri telah memperkuat apa yang sudah mereka yakini selama ini? Wallahu a’lam bisshowab.

11 Februari 2006